TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Antrean kendaraan terlihat mengular di SPBU Jalan S Parman, Palangka Raya, Minggu (19/4/2026) siang.
Di bawah terik matahari, sejumlah warga tampak menunggu giliran mengisi bahan bakar minyak (BBM), terutama jenis Pertalite.
Sebagian pengendara duduk di atas sepeda motor, sementara lainnya memilih berteduh di pinggir area SPBU.
Baca juga: Pertamax Habis dan Terpaksa Isi BBM Jenis Lain, Guru Asal Kuala Kurun Khawatir Kendaraan Rusak
Baca juga: LPK RI Kalteng Sebut Lonjakkan Harga BBM Memberatkan Masyarakat
Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik, Sopir Angkutan di Palangka Raya Keluhkan Isi Dexlite Hingga Rp1,4 Juta
Perbincangan soal kenaikan harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku sejak Sabtu (18/4/2026) pun terdengar di antara warga yang mengantre.
Salah satunya diungkapkan Agustina (37), ibu rumah tangga yang mengaku awalnya mengetahui informasi kenaikan tersebut dari media sosial.
Menurutnya, meskipun yang mengalami kenaikan adalah BBM nonsubsidi, kondisi tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran terhadap kebutuhan sehari-hari.
“Gimana enggak, kita khawatir. Kita kan ibu rumah tangga, otomatis kalau minyak naik, semuanya pasti ikut naik, termasuk bahan pokok,” ujarnya kepada TribunKalteng.com, ketika mengantre BBM.
Ia menilai, kenaikan harga BBM berpotensi berdampak pada biaya distribusi barang, terutama kebutuhan yang didatangkan dari luar daerah.
“Kalau BBM naik, ongkos angkut pasti ikut naik. Apalagi sayur banyak dari Banjarmasin, pasti nanti ikut naik juga,” katanya.
Di tengah antrean yang cukup panjang, Agustina mengaku kondisi tersebut membuatnya mulai memikirkan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM.
“Namanya ibu rumah tangga, pasti terasa,” ujarnya.
Sementara itu, Nurhayati (41), ibu rumah tangga lainnya yang juga mengantre Pertalite menggunakan sepeda motor.
Ia mengatakan, antrean BBM dalam beberapa waktu terakhir terasa lebih panjang dibanding biasanya.
“Dulu paling dua-tiga orang, sekarang panjang,” ujarnya.
Menurutnya, dalam kondisi antrean yang panjang dan cuaca panas, dirinya bahkan kerap memilih membeli BBM secara eceran.
“Kalau panjang, panas, kayak gitu, mending di eceran saja,” katanya.
Ia menyebut harga BBM eceran lebih mahal dibanding di SPBU.
“Ada yang Rp12 ribu, ada yang Rp13 ribu per liter,” ungkapnya.
Meski menggunakan BBM jenis Pertalite, Nurhayati menilai kenaikan BBM nonsubsidi tetap akan berdampak pada harga barang di pasaran atau sembako.
“Tapi kalau dari sananya sudah naik, apa boleh buat, kita ikut saja,” ujarnya.
Ia juga berharap harga kebutuhan pokok tidak semakin melonjak, mengingat pengeluaran rumah tangga berpotensi bertambah.
“Kasihan juga ibu-ibu, pengeluaran jadi banyak,” katanya.
Selain itu, warga lainnya yang turut mengantre berharap adanya penyesuaian pendapatan jika harga kebutuhan terus meningkat.
“Kalau semua naik, ya semoga gaji juga ikut naik,” ujarnya.
Di sisi lain, Mantis (55), yang mengisi BBM menggunakan mobil dengan jenis Pertamax, menilai kenaikan harga BBM menjadi beban bagi masyarakat secara umum.
“Ini sangat membebani semua masyarakat,” katanya.
Menurutnya, meskipun yang mengalami kenaikan adalah BBM nonsubsidi, dampaknya tetap akan dirasakan secara luas, termasuk pada harga kebutuhan pokok.
Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk mengatasi kondisi tersebut.
“Harapannya pemerintah bisa mengatasinya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya penguatan sektor energi dalam negeri agar ketergantungan terhadap kondisi global dapat dikurangi.
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap harga kebutuhan tetap terkendali agar tidak semakin membebani pengeluaran sehari-hari.