BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Memasuki hari keempat operasi pencarian, tim SAR gabungan terus memperketat penyisiran terhadap Doli (38), warga Desa Delas, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ( Babel ), yang dilaporkan hilang di Sungai Nyireh.
Hingga Minggu (19/4/2026), korban belum berhasil ditemukan meski upaya pencarian telah dilakukan secara intensif sejak hari pertama kejadian. Area pencarian difokuskan pada titik awal hilangnya korban serta wilayah sekitarnya yang dinilai berpotensi.
Komandan Tim Basarnas, Afrian Nur Fajar, mengatakan pola pencarian dibagi menjadi tiga tim guna memaksimalkan jangkauan operasi di lapangan. Tim pertama melakukan penyisiran di aliran sungai menggunakan sampan yang dilengkapi peralatan khusus. Tim kedua menyisir area sekitar lokasi kejadian atau last known position (LKP) secara darat. Khususnya pada titik koordinat awal 2°53'3.54"S 106°18'28.32"E yang diduga menjadi lokasi hilangnya korban.
“Pola pencarian kami bagi menjadi tiga tim agar proses penyisiran lebih efektif,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Minggu (19/4/2026).
Selain itu, tim ketiga dikerahkan untuk melakukan pemantauan dari udara menggunakan drone thermal guna mendeteksi tanda-tanda keberadaan korban di area rawa dan semak belukar. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu menjangkau area yang sulit dilalui oleh tim darat. Penggunaan drone juga menjadi strategi penting dalam memperluas cakupan pencarian.
Dalam operasi tersebut, tim SAR gabungan melibatkan berbagai unsur, mulai dari masyarakat setempat, Polairud, hingga BPBD dan Damkar Bangka Selatan. Sinergi lintas instansi ini dilakukan untuk memperkuat proses pencarian di lapangan. Koordinasi antar unsur terus dilakukan guna memastikan setiap area dapat disisir secara optimal.
“Unsur yang terlibat cukup banyak untuk mendukung percepatan pencarian,” jelas Afrian Nur Fajar.
Di tengah upaya pencarian, tim juga dihadapkan pada risiko tinggi akibat keberadaan predator buaya di lokasi kejadian. Untuk itu, personel dilengkapi dengan peralatan khusus berupa Crocodile Attack Protection Equipment (CAPE) guna meningkatkan keselamatan saat berada di perairan. Sebanyak dua set CAPE digunakan oleh tim yang melakukan penyisiran menggunakan sampan.
Penyisiran dilakukan secara intensif melalui jalur darat dan air untuk mempersempit area pencarian. Fokus utama diarahkan pada titik koordinat awal yang diduga menjadi lokasi hilangnya korban. Kondisi medan yang cukup berat menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian. Area rawa yang berlumpur serta arus sungai yang tidak menentu menyulitkan pergerakan tim di lapangan. Meski demikian, seluruh personel tetap menjalankan tugas dengan kewaspadaan tinggi.
Baca juga: Video: Pencarian Doli di Sungai Nyireh Libatkan Drone Thermal dan Peralatan Anti Buaya
“Kondisi medan cukup sulit, namun tim tetap bekerja maksimal di lapangan,” katanya.
Di sisi lain, masyarakat setempat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan selama proses pencarian berlangsung. Warga diminta tidak beraktivitas di sekitar bantaran sungai guna menghindari potensi serangan buaya. Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah pencegahan agar tidak terjadi korban tambahan.
Hingga saat ini, pencarian masih terus dilakukan dengan melibatkan seluruh unsur yang ada di lapangan. Tim SAR memastikan akan terus berupaya maksimal hingga korban berhasil ditemukan. Evaluasi strategi pencarian juga terus dilakukan untuk meningkatkan efektivitas operasi.
“Kami akan terus berupaya maksimal hingga korban ditemukan,” tutup Afrian Nur Fajar.
Doli Duda Asal Desa Delas Hilang Saat Cari Ikan
Seorang warga Desa Delas, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung dilaporkan hilang saat mencari ikan di Sungai Nyireh pada Kamis (16/4/2026) pagi. Peristiwa itu terjadi diperkirakan sekitar pukul 09.30 WIB hingga 10.00 WIB di kawasan Ilir Lubuk Banti, tidak jauh dari pondok mancing milik Marino. Korban diketahui bernama Doli (38), seorang buruh harian yang berdomisili di RT 06 Desa Delas. Hingga Kamis sore, korban belum ditemukan meski upaya pencarian terus dilakukan oleh warga bersama tim SAR.
Penjabat Kepala Desa Delas, Tanjaya, menjelaskan bahwa korban sebelumnya berangkat memancing bersama rekannya sejak Rabu (15/4/2026) sore. Keduanya memasang pancing dan jaring ikan di Sungai Nyireh lalu bermalam di sebuah pondok di pinggir sungai. Aktivitas tersebut merupakan kegiatan rutin yang kerap dilakukan warga setempat untuk mencari ikan.
“Korban bersama rekannya memang sudah biasa memancing dan menginap di lokasi tersebut,” ujar dia ketika dihubungi Bangkapos.com, Kamis (16/4/2026).
Tanjaya membeberkan kronologi kejadian bermula pada Kamis pagi sekitar pukul 09.15 WIB saat korban berpamitan kepada rekannya, Kandi (42), untuk berangkat lebih dahulu memasang pancing menggunakan perahu sampan. Lokasi yang dituju tidak jauh dari pondok tempat mereka bermalam. Namun, tak lama setelah itu, situasi berubah menjadi panik ketika terdengar teriakan minta tolong dari arah sungai.
Mendengar teriakan tersebut, Kandi langsung menyusul menggunakan sampan menuju arah suara. Setibanya di lokasi, ia mendapati perahu yang digunakan korban sudah dalam kondisi terbalik. Korban tidak terlihat di sekitar lokasi, hanya ditemukan buih di permukaan air di dekat perahu tersebut.
“Kandi ini mendengar teriakan minta tolong yang diyakini berasal dari korban. Setibanya di lokasi Kandi melihat buih di sekitar perahu yang diduga berasal dari mulut buaya,” papar Tanjaya.
Setelah menyadari kondisi tersebut, Kandi segera kembali ke daratan untuk meminta pertolongan kepada warga sekitar yang sedang berkebun di dekat lokasi kejadian. Informasi itu dengan cepat menyebar dan memicu warga untuk melakukan pencarian secara mandiri. Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung berbondong-bondong menuju lokasi sungai.
Upaya pencarian pun dilakukan sejak sekitar pukul 11.00 WIB dengan melibatkan puluhan warga Desa Delas dan sekitarnya. Hingga sore hari, jumlah warga yang turut mencari korban mencapai sekitar 150 orang. Mereka menyisir aliran sungai dan area sekitar lokasi kejadian dengan berbagai peralatan seadanya.
“Saat ini warga terus melakukan pencarian secara bersama-sama di sekitar lokasi kejadian,” katanya.
Sekitar pukul 16.10 WIB, tim SAR dari Bangka Selatan tiba di lokasi untuk membantu proses pencarian. Tim tersebut langsung berkoordinasi dengan pemerintah desa, Bhabinkamtibmas, serta Ketua BPD setempat guna menentukan langkah pencarian lanjutan. Kehadiran tim SAR diharapkan dapat mempercepat proses pencarian korban.
Hingga pukul 18.00 WIB, korban masih belum ditemukan dan pencarian terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keamanan tim di lapangan. Dugaan sementara mengarah pada serangan buaya, mengingat adanya tanda-tanda yang mengarah ke keberadaan satwa tersebut di lokasi kejadian. Namun, pihak desa masih menunggu hasil pencarian lebih lanjut dari tim SAR.
“Kami berharap korban segera ditemukan dan proses pencarian berjalan lancar,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)