TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi akhirnya naik.
Pertamina telah mengumumkan daftar harga terbaru untuk jenis BBM non subsidi.
Pantauan langsung Tribun Timur, Minggu (19/4/2026) petang, sejumlah SPBU di Kabupaten Maros pun telah melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi.
Di SPBU Batangase dan SPBU Ballu-ballu Kecamatan Mandai Terpantau harga Pertamax Turbo dijual Rp 19.850 per liter.
Naik dari harga sebelumnya Rp13.350 per liter.
Untuk Dexlite harganya Rp 24.150 per liter.
Naik dari harga sebelumnya Rp14.500 per liter.
Baca juga: BBM Nonsubsidi Naik, SPBU Alauddin Makassar Minta Pengendara Laporkan Operator Nakal
Pertamina dex juga naik dari Rp 14.800 per liter, kini tembus Rp 24.450 per liter.
Sementara harga Pertamax masih tetap diangka Rp 12.600 per liter.
Sementara BBM Subsidi Pertalite tetap di harga Rp10.000 dan Biosolar juga Rp6.800.
Harga serupa juga telah diterapkan di SPBU Buttatoa, Kecamatan Turikale.
Hanya saja, terdapat tulisan Pertamax dex belum tersedia di papan harga SPBU ini.
Meski telah terjadi kenaikan harga BBM, namun tak nampak kepadatan antrean kendaraan di tiga SPBU Tersebut.
Pengendara roda dua hampir mendominasi pengisian BBM di dispenser pertalite.
Salah seorang pengendara, Asri, mengaku cukup terkejut dengan lonjakan harga BBM non subsidi yang dinilai sangat tinggi dalam waktu singkat.
Baca juga: Alarm Kadin Sulsel! BBM Non Subsidi Naik, Biaya Usaha Membengkak, Daya Beli Terancam
Ia mengatakan, kenaikan harga tersebut membuatnya harus berpikir ulang dalam memilih jenis BBM yang digunakan sehari-hari.
“Naiknya jauh sekali, apalagi Pertamax Turbo. Selisihnya terasa sekali dibanding sebelumnya. Kalau seperti ini, saya kemungkinan besar beralih ke Pertalite saja supaya lebih hemat,” ujarnya.
Asri menambahkan, meski kualitas BBM non subsidi dinilai lebih baik untuk kendaraan, namun kondisi ekonomi saat ini membuatnya harus menyesuaikan pengeluaran.
“Kalau untuk jangka panjang memang bagus pakai BBM yang kualitasnya lebih tinggi, tapi sekarang kita harus realistis. Pengeluaran lain juga banyak, jadi harus pintar-pintar atur keuangan,” katanya.
Hal senada jug disampaikan pengendara lainnya Ishaq.
Ia menyebut kenaikan harga BBM ini cukup memberatkan, terutama bagi masyarakat yang aktivitasnya sangat bergantung pada kendaraan.
Ia mengaku setiap hari menggunakan mobil untuk bekerja, sehingga kenaikan harga BBM akan berdampak langsung pada biaya operasionalnya.
“Kalau yang kerja pakai kendaraan tiap hari pasti terasa sekali. Pengeluaran otomatis bertambah, apalagi kalau jarak tempuhnya jauh,” jelasnya.
Menurut Ishaq, kondisi tersebut memaksanya untuk lebih menghemat penggunaan kendaraan atau mencari alternatif lain agar pengeluaran tidak semakin membengkak.
“Mau tidak mau harus atur ulang pengeluaran. Mungkin perjalanan yang tidak terlalu penting dikurangi, atau cari cara supaya lebih irit,” katanya.(*)