Viral Dugaan Kasus Pelecehan Seksual Dosen FKIP UNS Solo, Bermula dari Pertemuan di Kereta
Vincentius Jyestha Candraditya April 19, 2026 08:14 PM

 

 


Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Seorang korban berinisial A memposting dugaan kasus pelecehan seksual yang dialaminya di Threads.

Ia sempat berujar kasusnya yang melibatkan dosen FKIP UNS berinisial S tak ada kejelasan sejak tahun 2022 hingga kini.

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) UNS Ismi Dwi Astuti Nurhaeni mengungkapkan kasus ini telah ditangani oleh pihaknya.

Pada tahun 2023 pun telah dijatuhi sanksi meski hanya administrasi ringan.

Baca juga: Terkuak! Emak-emak Pengendara Beat yang Tertemper KA Batara Kresna Ternyata Warga Brengosan Solo

“Kasus sudah ditangani satgas, namanya ketika itu Satgas PPKS UNS. Terlapor/ pelaku sdh mendapatkan SK sanksi  berdasarkan Keputusan Rektor UNS Nomor 02/RHS/ UN27/KP/ 2023 Tentang Pemberian sanksi Administrasi  ringan tertanggal 7 Februari 2023,” ungkapnya saat dihubungi Sabtu (18/4/2026).

Dalam postingannya, A mengaku dilecehkan karena tanpa persetujuan menyentuh bagian tubuhnya saat menaiki kereta.

Peristiwa ini terjadi pada 30 Juli 2022.

“Beliau tiba-tiba cubit area lengan saya, saya beberapa kali menunjukkan reaksi tidak nyaman sama sekali. lalu beliau tiba-tiba memegang paha saya sambil menunjuk arah pesawat. disitu reflek saya cuma saya minta teman saya telpon saya, karena takut dan gemeteran,” tulisnya.

Awal Mula Korban Dilecehkan

Mulanya ia naik kereta dari Surabaya ke Yogyakarta. Sesampainya di Solo terduga pelaku menaiki kereta dan duduk di sebelah korban.

“Aku naik kereta api bisnis Rangga Jati di tanggal 30 Juli 2022 dari Surabaya (Gubeng) ke Yogyakarta. Awalnya di perjalanan aman-aman aja sampai pada akhirnya di Solo itu ibu-ibu sebelahku turun dan ganti posisi seorang dosen itu Inisial S,” jelasnya.

Mulanya terduga pelaku mengajak ngobrol korban dengan bertanya mengenai identitas korban.

Terduga pelaku sempat memberikan kartu nama.

“Awalnya beliau pura-pura ramah, menanyakan nama, tempat tinggal, asal dll. Tapi saya jawab semuanya nggak dengan nama asli, tempat tinggal asli dll. Beberapa kali dia melirik ke handphone saya. Tiba-tiba dia kasi saya kartu nama untuk saya kabari secara pribadi. Terus tiba-tiba terjadilah reaksi yang nggak saya inginkan sampai sekarang masih ingat betul,” ungkapnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.