Surabaya (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memperkuat kolaborasi hilirisasi energi dan alat mesin pertanian (alsintan) guna mendorong kemandirian teknologi serta ketahanan pangan nasional berbasis inovasi dalam negeri.

"Karena dari sektor yang menjadi fokus utama pemerintah saat ini, ITS memiliki semua solusi yang pemerintah butuhkan," kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat menghadiri Wisuda ke-133 ITS di Surabaya, Minggu.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi negeri (PTN) dalam mempercepat transformasi pertanian menuju sistem modern.

Menurut Amran, Indonesia harus mampu mandiri dalam pengembangan teknologi pertanian sehingga tidak lagi bergantung pada impor.



Kolaborasi dengan ITS dinilai strategis karena kampus tersebut memiliki berbagai inovasi yang relevan dengan kebutuhan sektor pertanian dan energi.

Kementan bersama ITS sepakat memulai hilirisasi alat pertanian dan energi, di antaranya pengembangan bensin sawit (Benwit), perahu traktor listrik untuk lahan rawa, serta alat panjat kelapa Moto Climber ITS (MOCITS).

“Kami melihat inovasi nyata, mulai dari alat panjat kelapa, (perahu) traktor listrik untuk lahan rawa, hingga yang terbaru pengembangan bio-gasoline,” ujar Amran.

Mentan meninjau pameran inovasi ITS, termasuk uji coba bio-gasoline Benwit yang diketuai dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS Prof Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc.


Produk berbahan baku kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) itu mampu mencapai campuran 70 persen (E70) tanpa perubahan signifikan pada mesin kendaraan, serta diproyeksikan mendukung pengurangan impor bahan bakar fosil.

“Jika ini dikawal terus, mimpi kita menuju kemandirian energi bukan lagi sekadar angan,” tutur Amran.

Ia juga mendorong peneliti ITS segera mematenkan inovasi tersebut agar dapat dikembangkan lebih lanjut dan dimanfaatkan secara luas.

Dalam kesempatan yang sama, ITS menandatangani nota kesepahaman dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV sebagai badan usaha milik negara (BUMN) di sektor agribisnis perkebunan guna mendukung pengembangan dan distribusi hasil riset.



“Jika produk ini bisa berhasil 100 persen setelah melakukan uji coba pengembangan, akan kita teruskan ke Bapak Presiden sehingga dapat segera dilakukan distribusi,” kata Amran.

Selain energi, Mentan juga menyoroti alat panjat kelapa MOCITS yang telah dipesan Kementan sebanyak 10 unit untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi petani.

Amran menilai potensi hilirisasi kelapa dan sawit sangat besar, dengan nilai ekonomi yang dapat mencapai Rp10 ribu triliun jika dikelola optimal dari hulu hingga hilir.

“Kita punya air kelapa, minyak kelapa murni, hingga susu kelapa yang saat ini tinggi permintaan untuk ekspor, sehingga untuk teknologinya kita percayakan pada ITS lewat alat panjat kelapa ini,” tutur Amran.



Sementara itu, Rektor ITS Prof Bambang Pramujati menegaskan komitmen kampus dalam menghasilkan inovasi yang sesuai kebutuhan industri dan masyarakat melalui kolaborasi dengan pemerintah.

“Untuk itu, kami akan berusaha menghasilkan produk inovasi yang memang dibutuhkan oleh masyarakat,” katanya.