TRIBUNMANADO.CO.ID - Kabar gembira datang menyelimuti warga Bolaang Mongondow Selatan.
Masyarakat patut berbangga atas pencapaian gemilang tim kebanggaan mereka, Bolsel FC.
Walaupun harus puas menduduki posisi runner up setelah berduel sengit di partai final, langkah Bolsel FC tidak terhenti.
Tim ini dipastikan mengamankan satu tiket emas menuju putaran Liga 4 Nasional.
Bolsel FC akan melaju ke level nasional mendampingi sang juara Zona Sulawesi Utara (Sulut), Persma 1960.
Kepastian ini disambut meriah setelah diumumkan langsung oleh Gubernur Sulut, Yulius Selvanus, dalam seremoni penutupan Piala Gubernur Liga 4 Zona Sulut.
Gubernur Yulius memberikan ucapan selamat bagi kedua tim yang telah berjuang habis-habisan di lapangan hijau.
“Selamat untuk Persma 1960 sebagai juara, dan Bolsel FC sebagai runner up. Keduanya berhak mewakili Sulawesi Utara ke tingkat nasional,” ujar Yulius dengan penuh semangat.
Yulius menegaskan bahwa tahun ini Sulawesi Utara mendapatkan jatah dua slot untuk berkompetisi di Liga 4 tingkat nasional.
Ia berharap baik Persma 1960 maupun Bolsel FC tidak cepat puas dan terus mematangkan persiapan.
“Ini bukan akhir perjuangan. Justru ini awal untuk menunjukkan bahwa sepak bola Sulut sedang bangkit,” tegasnya lagi.
Keberhasilan ini tak lepas dari pantauan Bupati Bolsel, Iskandar Kamaru.
Sang Bupati langsung menyampaikan rasa syukur dan apresiasi setinggi-tingginya kepada pemerintah provinsi.
Ia menilai, lolosnya Bolsel FC ke kancah nasional merupakan sejarah baru yang harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat.
“Atas nama masyarakat Bolsel, kami mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Sulut yang telah memperjuangkan sehingga Bolsel FC bisa lolos ke Liga 4 nasional,” ungkap Iskandar Kamaru.
Stadion Klabat Manado kembali menjadi saksi fanatisme luar biasa pecinta sepak bola Sulawesi Utara.
Fenomena unik yang sempat hilang puluhan tahun, kini muncul kembali dalam laga Final Liga 4 antara Persma 1960 melawan Bolsel FC, Minggu (19/4/2026).
Lautan manusia terpantau memadati setiap sudut stadion.
Bahkan, pemandangan ikonik era 90-an kembali tersaji: warga yang tidak kebagian tiket rela naik ke lantai atas rumah hingga perbukitan demi menyaksikan tim kesayangan berlaga.
Berdasarkan amatan Tribunmanado.com di lokasi, tribun utama hingga tribun terbuka di sisi timur nampak penuh sesak.
Kondisi ini memaksa panitia mengalihkan sebagian penonton ke tribun belakang gawang karena kapasitas yang sudah tidak mencukupi.
Saking antusiasnya, sisi utara stadion menyuguhkan pemandangan unik.
Rumah-rumah bertingkat milik warga sekitar berubah menjadi "tribun dadakan".
Terlihat warga berjejer di balkon untuk mendapatkan pandangan jelas ke lapangan.
Di antara kerumunan warga di rumah-rumah tersebut, tampak seorang aparat juga tengah berjaga memastikan situasi tetap kondusif.
Suasana ini seolah memutar kembali memori kolektif masyarakat saat Persma Manado berada di puncak kejayaannya pada akhir era 90-an.
Kala itu, Stadion Klabat tidak pernah sepi, dan pemandangan suporter di bertingkat adalah hal yang lumrah.
Pertandingan final kali ini pun berlangsung sangat meriah.
Dua kelompok suporter, baik dari kubu Persma maupun Bolsel FC, saling adu kreativitas.
Genderang ditabuh tanpa henti, bendera-bendera raksasa dikibarkan, dan yel-yel dukungan terus dipekikkan sepanjang laga.
Salah seorang warga, Alfa, mengaku takjub dengan atmosfer yang dirasakannya di Stadion Klabat sore itu. Ia merasa seperti ditarik kembali ke masa lalu.
"Ini vibesnya sudah seperti kala Persma jaya dulu," kata Alfa seorang warga. (Nie/Art)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK