Buntut Panjang Para Siswa SMAN 1 Purwakarta Mengolok-olok Guru, Akan Diblacklist dari Universitas?
Talitha Daren April 20, 2026 07:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Puluhan pelajar SMAN 1 Purwakarta akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka pada Minggu (19/4/2026) setelah aksi mereka menuai sorotan publik.

Permintaan maaf ini muncul menyusul beredarnya video yang memperlihatkan para siswa mengejek seorang guru hingga viral di media sosial.

Video tersebut memicu gelombang kecaman dari berbagai kalangan yang menilai tindakan itu tidak pantas dilakukan oleh pelajar.

Melalui unggahan di akun Instagram @yantovharay12, para siswa yang berasal dari kelas 11 IPS tampak menyampaikan penyesalan dengan gestur tangan memohon maaf.

Dalam pernyataan tersebut, Nabila yang mewakili kelas menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada pihak yang dirugikan.

Ia mengakui bahwa tindakan mereka merupakan perilaku yang tidak beretika terhadap tenaga pendidik.

Meski demikian, permintaan maaf tersebut belum sepenuhnya meredakan kemarahan publik di media sosial.

Kritik dan kecaman masih terus mengalir dari warganet yang menilai perbuatan itu telah melampaui batas.

Bahkan, sejumlah netizen mendorong agar pihak sekolah memberikan sanksi tegas kepada para siswa.

Ada pula yang mengusulkan hukuman administratif berat sebagai bentuk efek jera.

Baca juga: Para Siswa yang Mengolok Guru di SMAN 1 Purwakarta Diskors 19 Hari, KDM: Mending Bersihkan Sekolah

Permintaan Maaf Satu Kelas

Nabila juga mengakui bahwa perbuatan mereka merupakan tindakan yang tidak beretika terhadap tenaga pendidik.

"Saya mengakui tindakan yang sudah kami lakukan itu tidak pantas kepada ibu guru kami yaitu ibu S. Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya," tambahnya.

Meskipun sudah meminta maaf, gelombang kritik dari warganet tetap mengalir deras.

Banyak pihak yang menilai tindakan tersebut sudah melampaui batas candaan.

Akun @shofwall_ yang mengaku sebagai seorang guru memberikan tanggapan keras di kolom komentar.

"Saya sebagai guru Z mengutuk keras kejadian ini tidak ada permintaan maaf yang harus diterima karena ini bukan lagi masuk lelucon atau candaan tapi ini penghinaan besar dan pelecehan martabat seorang guru," tulis akun tersebut.

Baca juga: Sosok Bu Atum, Guru Korban Olok-olok Siswa SMA 1 Purwakarta, Alumni Bongkar Sifat Asli Korban

SISWA HINA GURU - Video mengolok-olok guru jadi viral, satu kelas di SMAN 1 Purwakarta buat video meminta maaf
SISWA HINA GURU - Video mengolok-olok guru jadi viral, satu kelas di SMAN 1 Purwakarta buat video meminta maaf (Tribun Trends/Instagram @infojawabarat dan via Youtube Banjarmasin Post News Video)

Netizen Minta Siswa Di-blacklist

Senada dengan hal itu, akun @muelkcima bahkan mengusulkan sanksi administratif yang berat bagi para siswa.

"Blacklist dari semua universitas / perusahaan saat mereka lulus," tulisnya.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut memantau perkembangan kasus ini.

Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah telah memanggil orang tua para siswa yang bersangkutan.

Berdasarkan laporannya, orang tua siswa tersebut merasa sangat terpukul.

"Anak tersebut, orang tuanya sudah dipanggil ke sekolah, orang tuanya menangis merasa menyesal atas perilaku anaknya," kata Dedi Mulyadi dalam pernyataannya pada Sabtu (18/4).

Pihak sekolah sebenarnya telah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari.

Baca juga: Nasib 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta Usai Ejek & Acungkan Jari Tengah ke Guru, Orang Tua Nangis Histeris

SISWA HINA GURU - Kasus viral di SMA Negeri 1 Purwakarta, siswa mengejek guru di kelas. Banyak orangtua menangis dan menyayangkan perilaku anak-anak mereka. (Youtube Banjarmasin Post News Video)

Dedi Mulyadi Minta Diberi Sanksi

Namun, Dedi Mulyadi mengusulkan agar bentuk hukuman tersebut diubah menjadi sanksi sosial yang lebih nyata agar bisa membentuk karakter siswa.

"Saya memberikan saran, anak itu tidak diskorsing selama 19 hari. Ini saran, mudah-mudahan bisa digunakan,

Tetapi mendapatkan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari, dan membersihkan toilet,

Waktunya bisa satu bulan, bisa dua bulan, bisa tiga bulan, tergantung perkembangan anak itu," jelas pria yang akrab disapa KDM ini.

Dedi menegaskan bahwa tujuan utama pemberian hukuman bukanlah untuk menyiksa, melainkan untuk edukasi.

"Prinsipnya dasarnya adalah, setiap hukuman yang diberikan harus bermanfaat bagi pembentukan karakter," tuturnya.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Agus Marzuki, juga menyatakan kekecewaannya.

Ia menilai tindakan siswa di sekolah unggulan tersebut telah mencederai program pendidikan karakter Gapura Panca Waluya yang digalakkan di Jawa Barat.

"Terlepas dari alasan apapun, apalagi jika hanya dianggap sebagai ekspresi di dalam kelas, ketika sudah masuk ke ruang publik, tindakan itu menjadi tidak etis dan melanggar norma," ungkap Agus.

Ia juga memperingatkan dampak jangka panjang dari perilaku tersebut di era digital.

"Hal kecil yang dianggap biasa bisa meninggalkan jejak yang dalam. Ini harus menjadi perhatian bersama," tutupnya.

(TribunTrends.com/TribunnewsBogor.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.