Bantah Feri Amsari, Ketua Harian HKTI Sebut Kondisi di Lapangan Stok Beras Dalam Negeri Melimpah
Ahmad Sabran April 20, 2026 08:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-  Berbagai kritik yang meragukan capaian swasembada beras di dalam negeri disebut tidak sejalan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

Hal tersebut dikatakan Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Bachtiar Utomo menanggapi kritik dari pengamat tata negara Feri Amsari. 

Pernyataan tersebut disampaikan merespons polemik yang berkembang, dan disebut Bachtiar tidak mencerminkan fakta aktual sektor pertanian nasional.

Menurut Bachtiar Utomo, kunjungan langsung Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono ke sejumlah gudang Perum Bulog menjadi bukti konkret kondisi pangan nasional.

“Pemerintah tidak bekerja berdasarkan asumsi. Fakta di lapangan menunjukkan cadangan beras pemerintah dalam kondisi sangat kuat. Gudang-gudang terisi optimal dan distribusi terpantau dengan baik,” ujar Bachtiar.

Ia menekankan bahwa hasil pantauan langsung memperlihatkan stok beras nasional berada pada level tinggi, bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah. Kondisi ini mencerminkan kesiapan negara dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Baca juga: Kapolri Kirim Guru PAUD hingga Buruh Tani Umrah Gratis ke Tanah Suci

Selain itu, Bachtiar juga menyoroti peningkatan produksi nasional yang signifikan. Dalam satu tahun terakhir, produksi beras mengalami lonjakan yang cukup besar, didorong oleh perluasan area tanam, perbaikan infrastruktur irigasi, serta kebijakan yang lebih berpihak kepada petani.

“Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Produksi meningkat nyata, panen bertambah, dan petani merasakan langsung dampaknya,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa kombinasi antara stok yang melimpah dan produksi yang terus meningkat menjadi indikator kuat bahwa Indonesia berada di jalur yang benar menuju swasembada beras.

“Kalau stok penuh dan produksi naik, maka arah swasembada itu bukan lagi wacana, tetapi proses yang sedang berjalan dan semakin mendekati target,” lanjut Bachtiar.

Terkait kritik yang dilontarkan Feri Amsari, Bachtiar menilai pernyataan tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi menimbulkan kegaduhan di kalangan petani.

Baca juga: Persija Jakarta Taklukkan PSBS Biak di Sleman, Mauricio Souza Soroti Kreativitas dalam Mencetak Gol

“Pernyataan yang tidak berbasis data lapangan justru memicu keresahan. Banyak petani merasa apa yang mereka capai hari ini seolah diabaikan. Ini yang kemudian memunculkan protes,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa petani adalah pihak yang paling memahami kondisi riil produksi. Oleh karena itu, suara dan pengalaman mereka harus menjadi rujukan utama dalam menilai capaian sektor pangan nasional.

HKTI, lanjut Bachtiar, akan terus mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, termasuk memastikan sinergi antara produksi di tingkat petani dan pengelolaan cadangan nasional berjalan optimal.

“Yang kita butuhkan sekarang adalah menjaga momentum, bukan membangun narasi yang tidak sesuai kenyataan. Fakta sudah jelas: stok kuat, panen meningkat, dan swasembada semakin nyata,” kata dia.

Seperti diketahui, Pengamat Hukum Tata Negara, Feri Amsari, dilaporkan ke polisi terkait kritiknya tentang swasembada pangan. Laporan tersebut diajukan oleh kelompok petani yang tergabung dalam gerakan Tani Merdeka Indonesia ke Polda Metro Jaya pada Jumat (17/4/2026).

Pernyataan Feri yang menyebut swasembada pangan sebagai kebohongan dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.