BANGKAPOS.COM--Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, tengah menghadapi badai kontroversi yang mengancam posisi politiknya di kabinet Presiden Donald Trump.
Sejumlah tuduhan serius, mulai dari dugaan kejahatan perang hingga penyalahgunaan kekuasaan, kini menyeret namanya ke dalam sorotan tajam publik dan komunitas internasional.
Tekanan terhadap Hegseth meningkat seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, setiap kebijakan militer yang diambil berada di bawah pengawasan ketat, termasuk keputusan yang diduga berdampak pada warga sipil.
Salah satu isu paling krusial adalah dugaan keterlibatan dalam serangan udara yang menyasar target sipil di Iran, termasuk laporan pengeboman sebuah sekolah perempuan di Minab yang menewaskan ratusan orang.
Meski pihak Pentagon menyatakan investigasi masih berlangsung, sejumlah pihak menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
Di dalam negeri, tekanan politik juga datang dari Kongres Amerika Serikat.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat telah mengajukan enam pasal pemakzulan terhadap Hegseth.
Tuduhan tersebut mencakup penyalahgunaan wewenang, pelanggaran hukum perang, hingga kebijakan militer yang dinilai sembrono dan berisiko memperluas konflik.
Tak hanya itu, pernyataan-pernyataan Hegseth yang dianggap agresif turut memperkeruh situasi.
Retorika seperti “no quarter, no mercy” dinilai bertentangan dengan prinsip dasar hukum konflik bersenjata.
Sejumlah pakar hukum internasional bahkan menyebut pernyataan tersebut berpotensi menjadi bukti pelanggaran jika terbukti diikuti tindakan di lapangan.
Kritik juga datang dari komunitas global yang mempertanyakan legitimasi operasi militer AS di Iran.
Serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi dinilai tidak memiliki dasar hukum internasional yang kuat serta berpotensi melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dikutip dari media Inggris, The Guardian, pernyataan-pernyataan agresif Hegseth turut memperkeruh situasi.
"Ia secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat 'siap menghancurkan' infrastruktur energi Iran jika diperlukan, serta mengeluarkan ultimatum keras terhadap Teheran. Pernyataan ini memicu kekhawatiran bahwa pendekatan militernya terlalu konfrontatif dan berisiko memperluas konflik," tulis The Guardian.
Kontroversi juga datang dari dalam negeri, termasuk kritik terhadap gaya komunikasi dan kepemimpinannya. Dalam beberapa kasus, Hegseth dituduh meremehkan laporan media dan menggunakan retorika yang dianggap tidak pantas, yang justru memperburuk citra publiknya.
Bahkan isu logistik seperti polemik makanan bagi pasukan pun ikut menyeret namanya dalam perdebatan publik yang lebih luas tentang transparansi Pentagon.
Tekanan terhadap Hegseth semakin meningkat karena konflik Iran sendiri terus memanas. Penutupan Selat Hormuz, korban jiwa yang terus bertambah, serta ketegangan global membuat setiap keputusan militer berada di bawah sorotan tajam.
Kontroversi lain yang memperburuk posisi Hegseth adalah dugaan kebocoran informasi militer sensitif.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga pernah jadi sorotan karena membagikan rincian rahasia rencana AS untuk mengebom Yaman dalam obrolan grup dengan anggota keluarga.
New York Times (NYT) melaporkan bahwa ia membagikan rencana militer sensitif mengenai serangan bulan Maret terhadap Yaman dalam grup obrolan Signal yang mencakup istri, saudara laki-laki, dan pengacara pribadinya.
Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, yang berbicara dengan Reuters , obrolan tersebut melibatkan sekitar selusin orang dan berisi rincian jadwal serangan udara.
“Pengungkapan obrolan Signal kedua memunculkan lebih banyak pertanyaan tentang penggunaan sistem pengiriman pesan yang tidak dirahasiakan oleh Hegseth untuk membagikan rincian keamanan yang sangat sensitif,” tulis Reuters.
“Media yang membenci Trump terus terobsesi untuk menghancurkan siapa pun yang berkomitmen pada agenda Presiden [AS] [Donald] Trump. ... Kami telah mencapai begitu banyak hal untuk pejuang perang Amerika, dan tidak akan pernah mundur,” tambah Parnell dalam sebuah pernyataan di X.
Hegseth juga menghadapi pengawasan karena mengizinkan istrinya, Jennifer, mantan produser Fox News, menghadiri pertemuan sensitif dengan rekan militer asing.
Saudara laki-laki Hegseth adalah penghubung Departemen Keamanan Dalam Negeri dengan Pentagon.
Kontroversi seputar tindakan Hegseth membagikan informasi militer sensitif pada obrolan Signal kedua muncul setelah menteri pertahanan memecat beberapa pembantu utamanya karena diduga membocorkan informasi kepada pers.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengklaim media telah menyebarkan informasi palsu dari para pembocor yang “tidak puas” untuk “melemahkan agenda Presiden Trump.”
Anggota parlemen Demokrat menuntut agar Hegseth dipecat, dengan klaim bahwa rincian militer yang ia ungkapkan dalam obrolan Signal membahayakan nyawa personel AS yang berpartisipasi dalam pemboman Yaman, yang menewaskan 80 warga Yaman pada tanggal 19 April saja.
"Kita terus belajar bagaimana Pete Hegseth membahayakan nyawa orang," kata Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer dalam sebuah posting di X.
(Tribunnews.com/TribunJatim.com)