BANJARMASINPOST.CO.ID - Petani di Kalimantan Selatan perlu memikirkan mengembangkan buah manggis. Ini karena buah yang memiliki kulit berwarna ungu dan dalaman putih manis ini ternyata berpotensi diekspor.
Ini seperti halnya yang dilakukan Iim Suherman dari Jawa Barat. Mulanya, Iim Suherman (51) menjual manggis dari pohon liar di lahan warisan orangtua. Dari buah berwarna ungu tersebut, Iim bisa membeli lahan.
Kini, Iim mempunyai enam kebun yang tersebar di Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya, dengan lebih dari 400 pohon manggis. Iim membeli lahan yang sudah banyak pohon manggisnya. Pohonnya rata-rata sudah berumur 50 tahun dan masih akan terus menghasilkan buah sampai beberapa dekade ke depan.
“Tidak terlalu banyak hama di sini. Paling jamur alga kalau terlalu banyak hujan. Tapi enggak merusak buah. Kelelawar juga enggak,” ujar Iim kepada Kompas.
Sebelum berkebun manggis, Iim bekerja sebagai perajut baju yang diekspor ke Cina. Iim beralih mengurus kebun manggis karena pendapatannya bisa lebih tinggi dan merasa sudah enggak cocok dengan pekerjaan tersebut.
Baca juga: Panen Padi Apung di Daerah Rawan Banjir, Produksi Petani Sungai Tabuk Banjar Capai 10 Ton Perhektare
Jika belum musim panen, Iim mengelola kebunnya serta ikut mendatangkan manggis dari luar Tasikmalaya dan bekerja pada bagian pengemasan perusahaan eksportir buah tropis Indonesia, Java Fresh.
Iim juga menanam pisang, singkong, dan talas untuk mengisi lahan kosong di sekitar pohon manggis. Hampir semua buah dari kebun Iim diserap Java Fresh.
Chief Marketing Officer Java Fresh, Swasti Adicita Karim menyebut, sekitar 80 persen buah manggis dari kebun Iim dan warga sekitarnya berkualitas ekspor. Java Fresh membeli manggis langsung dari petani, yang kebanyakan di daerah pelosok, dan mengirim sekitar 200-250 ton manggis ke 25 negara tujuan ekspor setiap tahunnya. Sebagian besar pasarnya di Eropa.
Java Fresh menjual satu buah manggis di Eropa dengan harga 3 Euro atau setara Rp 59.790. “Jadi, saat kami mencoba masuk ke market di Eropa, mereka baru tahun kalau manggis juga ada di Indonesia. Selama ini, mereka cuma dapat dari Malaysia, Thailand dan Vietnam,” tutur Swasti.
Menurut Swasti, Java Fresh mengoptimalkan keuntungan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, yang menghasilkan buah manggis secara bergantian, seperti dari Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, sampai Sumatera.
Untuk ekspor ke Eropa, negara-negara di sana menetapkan regulasi yang sangat ketat untuk batas residu maksimum (MRL). Oleh karena itu, Java Fresh harus memastikan manggisnya diperoleh dari kebun petani harus alami atau tanpa menggunakan pestisida kimia.
Di sisi lain, agrikultur negara-negara tetangga pesaing Indonesia sudah terindustrialisasi yang terbiasa dengan pemakaian pestisida kimia dalam jumlah besar. “Nah itu yang jadi halangan mereka masuk ke Eropa. Kita beruntung memiliki tanah yang sangat subur jadi hasil kebunnya sangat natural,” ujar Swasti. (kompas)