POSBELITUNG.CO - Pemerintah Iran menyatakan belum memutuskan untuk mengikuti putaran negosiasi baru dengan Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tunduk pada ultimatum dan siap mengerahkan seluruh kekuatan militer untuk membela kedaulatan negara jika AS serta Israel kembali melancarkan invasi.
Dalam konferensi pers di Teheran, Baghaei menunjukkan dalam waktu kurang dari sembilan bulan, Amerika Serikat melancarkan dua serangan militer terhadap Iran selama negosiasi.
Ia mengatakan, meskipun AS mengklaim diplomasi dan kesiapan untuk negosiasi, tetapi mereka melakukan perilaku yang sama sekali tidak menunjukkan keseriusan dalam mengejar proses diplomatik.
"Setelah kesepakatan tercapai, kami menghadapi tindakan AS di Selat Hormuz, yang mereka sebut 'blokade angkatan laut.' Dan dalam satu jam terakhir Anda telah menyaksikan mereka menyerang kapal dagang Iran, dan ini jelas merupakan pelanggaran gencatan senjata," kata Baghaei,
Baca juga: Detik-detik Penikaman Nus Kei Ketua DPD Golkar di Bandara hingga Pelaku Tertangkap
Menurut Baghaei, Iran akan memprioritaskan kepentingan nasionalnya sendiri dan membuat keputusan yang tepat mengenai langkah selanjutnya, karena blokade maritim AS dan serangannya terhadap kapal dagang Iran telah memperkuat kecurigaan rakyat Iran tentang niat AS.
"Pertama, kami tidak akan menerima 'batas waktu' atau 'ultimatum' dari pihak AS dalam melindungi kepentingan nasional Iran," ujarnya.
Baghei juga menegaskan perang yang terjadi tidak diprakarsai oleh Iran.
Ia mengatakan pada Juni tahun lalu dan tahun ini, Iran telah mengambil tindakan dua kali untuk mempertahankan kedaulatan nasionalnya.
"Kami akan terus membela negara kami selama kepentingan nasional membutuhkannya. Tanpa ragu, jika AS dan Israel melancarkan invasi lain, angkatan bersenjata Iran akan melakukan segala daya upaya untuk membela negara," tegas Baghaei.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pesan beragam pada Senin (20/4) mengenai langkah ke depan untuk perang AS melawan Iran.
Trump mengaku tidak terburu-buru mengakhiri konflik tersebut. Namun, di sisi lain juga menyampaikan keyakinannya soal negosiasi lebih lanjut dengan Teheran yang akan segera berlangsung di Pakistan.
Dilansir dari AP News, gencatan senjata selama 14 hari yang akan berakhir pada Rabu (22/4) besok, pernyataan Trump berubah-ubah dalam wawancara telepon dan unggahan di media sosial.
Trump optimistis kesepakatan dengan Iran dapat segera tercapai. Di hari yang sama, ia memperingatkan banyak bom akan mulai meledak jika tidak ada kesepakatan sebelum batas waktu gencatan senjata.
Trump mengindikasikan bahwa ia masih berharap mengirim tim negosiasinya yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance ke Islamabad, Pakistan, untuk perundingan putaran kedua, meskipun Iran bersikeras tidak akan berpartisipasi sampai Trump mengurangi tuntutannya.
Trump bersikeras bahwa ia tidak merasa tertekan untuk mengakhiri perang sampai Iran menyetujui persyaratannya.
"Saya sama sekali tidak berada di bawah tekanan, meskipun semuanya akan terjadi relatif cepat!" kata Trump di platform Truth Social miliknya.
Kepada Bloomberg News, Trump mengatakan sangat tidak mungkin untuk memperbarui gencatan senjata.
Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah Angkatan Laut AS menyerang dan menyita sebuah kapal pada Minggu (19/4) yang mencoba menghindari blokade pelabuhan Iran.
Sehari sebelumnya, pada Sabtu (18/4) Iran menembaki kapal-kapal dan tiba-tiba menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, mengabaikan janjinya untuk mengizinkan beberapa kapal lewat dan mengeklaim AS tidak memenuhi bagiannya dalam gencatan senjata.
"Tindakan AS tidak sesuai dengan klaim diplomasi," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Senin (20/4) dalam sebuah unggahan di media sosial.
Selama akhir pekan, Iran mengatakan telah menerima proposal baru dari AS, tetapi mengisyaratkan masih ada kesenjangan yang lebar antara kedua pihak.
Isu-isu yang menggagalkan putaran negosiasi terakhir, termasuk program pengayaan nuklir Iran, proksi regionalnya, dan Selat Hormuz.
Iran telah membatasi lalu lintas melalui selat tersebut, yang menghubungkan Teluk Persia ke laut lepas, tak lama setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Sedangkan AS juga telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
(Kompas/Posbelitung.co)