TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 4.500 Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Yogyakarta diinstruksikan terjun langsung melakukan aksi kerja bakti atau bersih-bersih massal setiap Jumat pagi.
Tak sekadar turun ke lapangan, para abdi negara ini juga diwajibkan membawa peralatan kebersihan sendiri dari rumah, mulai arit atau sabit, hingga sapu lidi.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengungkapkan langkah tersebut diambil sebagai strategi mengatasi keterbatasan tenaga kebersihan dan anggaran daerah.
Menurutnya, untuk menjangkau seluruh titik di Kota Yogyakarta secara optimal, penambahan tenaga kontrak bukan menjadi solusi yang masuk akal secara finansial saat ini.
"Kita ada keterbatasan tenaga. Kalau mau tambah tenaga, budget kita enggak masuk. Maka, kita gunakan strategi gotong royong sekaligus melaksanakan arahan Presiden untuk 'Korve'," ujarnya, Senin (20/4/2026) sore.
Hasto menjelaskan, ribuan ASN yang dikerahkan dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tersebut akan disebar ke 150 titik yang telah ditentukan.
Setiap kelurahan rata-rata memiliki tiga hingga empat titik pembersihan, di mana satu titik akan dijaga oleh sekitar 30 ASN secara konsisten.
Baca juga: Hasto Wardoyo Trenyuh Dengar Azizah yang Bercita-cita Jadi Dokter: Saya Akan Membantu
Fokus sasarannya beragam, mulai dari pinggiran jalan protokol, area sungai, sampai kawasan yang selama ini terkesan kumuh namun terkendala masalah kewenangan, seperti di seputaran Stadion Kridosono.
"Prinsipnya 30 orang itu fokus di satu titik terus, supaya bisa kita evaluasi perkembangannya. Bahkan nanti kita akan kompetisikan antar titik, mana yang paling bersih," ungkapnya.
Disinggung mengenai efektivitas pemantauan di lapangan, Wali Kota pun memastikan, sistem absensi para ASN dilakukan secara digital di setiap lokasi.
Selain itu, jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Staf Ahli, hingga Kepala OPD akan berkeliling untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak).
Sehingga, ia pun mewanti-wanti supaya abdi negara tidak datang ke lokasi hanya untuk berleha-leha sekadar menggugurkan kewajiban absen.
"Silakan membawa arit dan sapu. Kalau sudah punya, bawa dari rumah. Tapi, jangan tangan kosong. Masak kerja bakti enggak bawa apa-apa, terus di lapangan mau ngapain," terangnya.
Di samping mengandalkan tenaga ribuan ASN, Pemkot Yogyakarta juga berencana menyuntikkan semangat gotong royong ini ke institusi pendidikan.
Hasto menyebut akan melibatkan siswa SMP setidaknya sebulan sekali, serta memaksimalkan peran mahasiswa KKN untuk memperkuat aksi kebersihan di wilayah.
"Untuk SMP ada sekitar 800 kelas. Kalau digilir sebulan sekali saja, itu sudah sangat cukup untuk meng-cover 150 titik tadi. Jadi sistemnya rileks tapi rutin," ucapnya.
"Melalui program semacam ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat, untuk turut berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar," pungkas Wali Kota. (*)