TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Minimnya jumlah pendaftar serta masih kuatnya stigma masyarakat terhadap Sekolah Luar Biasa (SLB) menjadi tantangan utama dalam pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.
Kepala SLB Negeri Tana Tidung, Marjuki, mengungkapkan hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan SLB sebagai lembaga pendidikan yang tepat bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Padahal, SLB Negeri Tana Tidung merupakan satu-satunya sekolah yang secara khusus melayani anak-anak luar biasa di wilayah tersebut, mulai dari tuna netra, tuna wicara, tunagrahita, tunadaksa hingga autisme.
“Kadang kami itu walaupun tiap tahun sudah mengadakan penjaringan, ternyata masih ada masyarakat yang belum tahu keberadaan kami, belum tahu SLB itu untuk sekolah anak-anak seperti apa,” kata Marjuki kepada TribunKaltara.com, Selasa (21/4/2026).
Baca juga: Bukan Hanya Bidang Akademik, SLB Negeri Tana Tidung Fokus Bentuk Kemandirian Siswa
Marjuki menjelaskan, kondisi tersebut berdampak pada masih ditemukannya anak-anak berkebutuhan khusus yang tetap bersekolah di sekolah umum, meskipun secara kemampuan membutuhkan penanganan khusus.
“Masih juga kami temui anak-anak yang seharusnya kami layani ternyata masih bertahan di sekolah umum,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut justru merugikan anak, terutama jika kemampuan dasar seperti membaca dan menulis belum tercapai hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
“Kalau sudah jenjang SMA tapi masih belum bisa baca, itu kasihan. Sebenarnya pendidikan yang tepat untuk anak-anak seperti ini ya di SLB,” tegasnya.
Selain kurangnya informasi, stigma masyarakat juga menjadi faktor penghambat. SLB masih kerap dipandang sebelah mata, sehingga sebagian orang tua enggan menyekolahkan anaknya di sekolah khusus.
Baca juga: Hanya SLB Negeri yang Layani Seluruh Anak Berkebutuhan Khusus di Kabupaten Tana Tidung
“Walau stigma masyarakat masih memandang sebelah SLB, kami berusaha membuktikan bahwa anak-anak luar biasa juga bisa berprestasi seperti anak-anak lainnya,” ungkapnya.
Marjuki menambahkan, pihak sekolah terus berupaya meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui berbagai capaian prestasi yang diraih siswa, baik di tingkat provinsi hingga nasional.
Namun demikian, ia berharap peran media dan seluruh pihak dapat membantu menyebarluaskan informasi terkait keberadaan dan fungsi SLB kepada masyarakat luas.
“Ini juga menjadi tanggung jawab kami untuk memberikan pemahaman, tapi kami berharap bisa dibantu untuk mempublikasikan agar masyarakat lebih tahu,” pungkasnya.
Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, diharapkan anak-anak berkebutuhan khusus di Tana Tidung dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, sehingga mampu berkembang dan mandiri di masa depan.
(*)
Penulis : Rismayanti