Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Sosok Prof Dr Eighty Mardiyan Kurniawati, dr, SpOG SubSp.Urogin-RE mencatat sejarah baru di Universitas Airlangga (UNAIR).
Perempuan yang akrab disapa Prof Eighty ini resmi menjadi dekan perempuan pertama di Fakultas Kedokteran UNAIR, sekaligus membawa visi kepemimpinan bertajuk “BRIGHT” untuk mendorong inovasi dan kemajuan pendidikan kedokteran.
Penunjukan ini bukanlah hasil instan, melainkan buah dari perjalanan panjangnya sejak menjadi dosen pada 2005 hingga aktif dalam dunia akademik, penelitian, dan organisasi sejak masa mahasiswa.
Perjalanan menjadi dosen di UNAIR dimulai sejak Januari 2005. Saat itu ia masih menjadi peserta didik PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) semester 4.
“Saya dipanggil Ketua Departemen, Prof Lila Dewata beserta Prof Djoko Waspodo dan dr Hari Paraton. Beliau meminta saya untuk menjadi staf dosen dan mengikuti tes PNS yang sedang dibuka," cerita Eighty, Selasa (21/4/2026).
Baca juga: Tim Pengabdian FK Unair Skrining TBC dengan AI di Kecamatan Bulak Surabaya
Dalam perjalanan pendidikannya, Prof Eighty, tercatat sebagai Mahasiswa Berprestasi UNAIR yang sedianya akan mewakili di forum nasional pada 1998. Tapi saat itu forum dibatalkan karena maraknya demo reformasi.
Hal menarik lainnya, ia aktif dalam penelitian ilmiah sejak mahasiswa, juara pimnas, aktif dalam dunia organisasi dan menjadi wartawan.
Prof Eighty, selain menjadi staf dosen juga menjalani program PPDS Obstetri dan Ginekologi. Setelah lulus sejak 2008, ia pun mulai praktik dan mengabdikan diri di Fakultas Kedokteran.
“Pagi sampai siang bersama mahasiswa dan PPDS. Sore hingga malam ganti bersama pasien dan ibu hamil," cerita Prof Eighty.
Tak mudah. Bagi Prof Eighty, yang juga berperan sebagai istri dan ibu dari tiga orang putra. Peran ini bertambah karena harus sekolah konsultan uroginekologi rekonstruksi di FK Universitas Indonesia/RSCM pada 2011-2013, dan menjadi mahasiswa program Doktor yang berhasil membuatnya menyandang gelar Doktor pada 2020.
"Supaya tidak kehilangan momen, saat anak-anak masih kecil, saya sering mengajak mereka bertiga ke RS. Menemani saya menolong persalinan atau operasi. Meskipun kadang hanya menunggu di mobil atau di kantin. Ini sekaligus mengajarkan mereka bahwa dokter adalah tugas mulia. Kehadiran dan ilmunya ditunggu oleh pasien, " jelas istri dr Abdul Haris SpBS, MTrOpsla ini.
Baca juga: Unair Beberkan Risiko Jika Lulus SNBP Tapi Tidak Daftar Ulang, Akses SNBT Akan Diblokir
Perjalanan dosennya menempuh dunia baru saat diminta menjadi Ketua Humas di FK UNAIR pada 2015-2020 dan sebagai Staf Khusus Dekanat pada masa Covid kurun 2020-2023.
Ia juga menyiapkan persyaratan pengajuan Guru Besar atau Profesor. Pada 2023 ia dikukuhkan sebagai Guru besar di bidang Uroginekologi Rekonstruksi, Stem Cell dan Gangguan Fungsi Seksual Perempuan. Ia menjadi guru besar termuda di dunia Obgin di Indonesia. Juga guru besar perempuan pertama di bidang Uroginekologi Rekonstruksi.
Pidato pengukuhannya tentang Stem Cell atau Sel Punca di bidang Uroginekologi Rekonstruksi atau Gangguan Dasar Panggul. Ini sesuai dengan penelitian disertasinya saat S3 yang melakukan uji pemanfaatan sel punca untuk tata laksana fistula vesicovagina.
Pidato pengukuhan ini mendapat perhatian dan dampak luas. Karena kemudian banyak yang menyadari bahwa kesehatan perempuan bukan hanya tentang kehamilan dan melahirkan.
Tapi juga pentingnya menjaga kesehatan dasar panggul agar tidak terjadi rahim turun, gangguan berkemih, gangguan buang air besar dan buang angin serta gangguan fungsi seksual. Termasuk juga mengenali gejala awal, melakukan penanganan yang sesuai serta memanfaatkan kemajuan teknologi untuk penanganannya termasuk pemanfaatan sel punca.
Pada 2023, Prof Eighty mendapatkan tugas sebagai Wakil Dekan II di Fakultas Vokasi. Saat ini, sejak 1 September 2025, ia menjadi pimpinan nomer satu di Fakultas Kedokteran UNAIR.
Dalam proses pendidikan, ia ingin mewujudkan FK UNAIR sebagai Fakultas Kedokteran yang dapat menghasilkan dokter bintang tujuh. Yakni dokter sebagai penyedia layanan kesehatan, pengambil keputusan, komunikator, pemimpin masyarakat, manajer, pembelajar seumur hidup, dan peneliti, yang mempunyai nilai iman dan akhlak baik.
Dalam ruang besar, konsep BRIGHT yang diusungnya, diharapkan mampu mewujudkan visi dan misi Fakultas Kedokteran UNAIR serta mendukung Visi dan Misi UNAIR.
“Menjadi Fakultas Kedokteran yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, entrepreneurship serta humaniora berdasarkan moral agama,” tutupnya.