KENCANGKAN Ikat Pinggang, Tantangan Ekonomi Bali Sangat Berat, Sekda: Dampak Konflik di Timur Tengah
Anak Agung Seri Kusniarti April 21, 2026 10:03 PM

TRIBUN-BALI.COM - Bali kembali menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat dampak konflik geopolitik antara Israel-Amerika (AS) versus Iran.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra dalam sambutannya di Balinomics Update Kebijakan Ekonomi Bali dan Dinamika Ekonomi di Tengah Gejolak Geopolitik, di The Meru Sanur, Selasa (21/4). 

Namun Dewa Indra mengungkapkan, tantangan berat ini tak hanya dirasakan Bali saja. “Kita sedang menghadapi tantangan ekonomi yang sangat berat.

Dan bukan hanya kita yang sangat berat, tapi seluruh dunia menghadapi tantangan ekonomi yang sangat berat. Konflik yang terjadi di Timur Tengah yang eskalasinya tidak menentu, kadang mereda, kadang meluas, sehingga dampak ekonominya menjadi sangat luar biasa,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kondisi ini diperparah karena menurut catatan sebesar 25 persen minyak dunia berasal dari daerah konflik. Dengan demikian, maka konflik di Timur Tengah yang eskalasinya terus meluas.

Baca juga: KHAWATIR Pelanggan Kabur, Pedagang Pilih Untung Tipis Usai Harga Plastik Naik!

Baca juga: UNDIKSHA Jadi Pusat UTBK SNBT 2026, Diikuti 1.275 Peserta, Ujian Berlangsung 21-23 April 2026

Awalnya, hanya melibatkan tiga negara, sekarang melibatkan banyak negara, dan juga saling mendukung dari negara-negara yang lain. Maka konflik ini telah menimbulkan dampak ekonomi yang sangat luar biasa. 

“Nilai tukar uang kita semakin mengalami goncangan, harga-harga bergerak naik, komoditas-komoditas yang terkait dengan energi menjadi semakin kesulitan dan karena itu harganya naik,” imbuhnya. 

Dampak tersebut merambat ke semua sektor ekonomi yang lainnya. Oleh karena itu, kata Dewa Indra, tidak ada satu negara yang tidak terdampak konflik di Timur Tengah baik secara politik maupun ekonomi.

Konflik yang terjadi di Timur Tengah memiliki dampak terhadap terhadap Indonesia dan juga khususnya terhadap Bali. Terlebih di Bali yang ekonominya sebagian besar ditopang sektor pariwisata.

Ditegaskan, Suka tidak suka, setuju tidak setuju tapi faktanya perekonomian Bali ini digerakkan sektor pariwisata. 

“Oleh karena itu, karena perekonomian ini menyangkut sektor kehidupan yang sangat penting bagi kita semua, maka menjadi sangat penting bagi kita semua stakeholder di Bali, untuk mendiskusikan tentang perekonomian kita hari ini dan juga ke depan,” jelasnya. 

“Setelah mengetahui dampak dari konflik Timur Tengah terhadap perekonomian kita di Bali, maka sebaiknya dilakukan diskusi untuk menyasar peluang-peluang apa yang masih tersedia. Pasti akan ada peluang ketika satu aspek, satu sektor terganggu, pasti akan ada peluang di sektor yang lain. Ini bergantung kemampuan kita untuk melihatnya,” terangnya. 

“Ada pariwisata yang harus kita jaga dengan baik. Kemudian sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) harus kita jaga supaya tetap survive dan bertumbuh, berkembang. Kemudian digitalisasi keuangan yang tetap harus kita jaga dan juga sektor-sektor yang lainnya,” ujarnya. 

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah antisipasi Bali dalam merespon dinamika ekonomi di tengah konflik Timur Tengah.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan, tema tentang update kebijakan ekonomi Bali dan dinamika ekonomi di tengah gejolak geopolitik ini penting dibahas agar tetap dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sudah cukup baik. 

“Kami mengapresiasi atas langkah Pemerintah Provinsi Bali dan juga seluruh pelaku usaha di Provinsi Bali sehingga ekonomi Bali di tahun 2025 ini mampu tumbuh sebesar 5,82 persen berada di atas nasional sesuai dengan pola long term growth-nya,” kata Erwin. 

“Juga tahun 2025 mencatat pertumbuhan tertinggi selama 7 tahun yang turut juga didukung dengan inflasi yang terkendali dan juga membaiknya makro indikator ekonomi lainnya,” jelasnya. 

Erwin menegaskan, hal ini merupakan capaian yang luar biasa berkah dari sinergi berbagai pihak. Dikatakan Bali mampu tumbuh positif dan tumbuh lebih tinggi lagi setelah negatif pada masa pandemi Covid-19 lalu.

Kendati kemikian, di tengah pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut ke depan Bali harus mewaspadai downside risk dari meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang juga akan memberi dampak paling tidak mempengaruhi kinerja sektor pariwisata di Bali.

Ada banyak aspek yang bisa terpengaruh. Di antaranya tertahannya wisatawan, naiknya harga tiket dan berbagai program efisiensi pemerintah ini juga berpotensi untuk menahan kinerja dari beberapa program Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) di Bali. 

“Dan berdasarkan assessment BI pada saat ini dengan sejumlah asumsi, BI memperkirakan dampak dari konflik ini akan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 0,05 persen,” paparnya. 

Maka dari itu, Erwin mengingatkan agar perlu mewaspadai yang menjadi hambatan ke berbagai sektor penggerak ekonomi di Bali. “Karena itu kita perlu mewaspadai rambatan ke berbagai sektor yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Bali agar ekonomi Bali ini bisa survive dan juga berdaya tahan,” pungkasnya. (sar)

Empat Strategi Pilar

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan Bali harus mempersiapkan diri agar pertumbuhan ekonomi Bali dapat terus terjaga.

“Di tengah berbagai tantangan yang ada kami melihat ada empat strategi pilar untuk ekonomi Bali yang lebih berdaya tahan,” jelasnya. 

Disebutkan, pertama, bagaimana Bali bisa terus menjaga dan memperkuat kualitas sektor pariwisata yang menjadi backbone ekonomi Bali sekaligus juga menjaga branding Bali sebagai destinasi wisata terbaik di dunia.

Karena Bali ini tidak hanya memiliki modal alam, budaya dan juga tradisi namun juga memiliki konektivitas kelas dunia yang menghubungkan Bali ke berbagai negara. 

Lebih lanjut dikatakan, sejumlah aspek pariwisata juga perlu terus diperkuat guna mengatasi berbagai hal antara isu keamanan, kemacetan, akomodasi ilegal dan juga sampah.

Strategi kedua adalah bagaimana Bali bisa mendorong kinerja new hero dari pertumbuhan ekonomi Bali yaitu dengan memberikan dorongan terhadap investasi guna menciptakan multiplier pertumbuhan di dalam ekonomi Bali. 

“Kami memperkirakan prospek investasi tahun 2026 tetap kuat didukung dengan akselerasi berbagai program strategis yang diharapkan menjadi stimulus untuk penyebaran investasi baik secara spasial ataupun sektoran,” imbuhnya. 

Strategi ketiga, BI melihat untuk men-scale up dari pertumbuhan ekonomi Bali ini agar lebih berdaya tahan lagi adalah bagaimana semua piha terus memperkuat sektor pertanian sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. 

“Jadi kita melihat bahwa diversifikasi pertumbuhan ke sektor pertanian ini mutlak diperlukan sebagai bantalan ekonomi karena Bali punya sejarah pertanian yang unggul dari waktu ke waktu ini perlu kita pertahankan,” ujar Erwin.

“Kami melihat sektor pertanian ini perlu terus didorong dijaga keberadaannya guna menciptakan ketahanan pangan termasuk keberadaan subak sebagai local wisdom di provinsi Bali ini,” paparnya. 

Strategi keempat kata dia, bagaimana Bali bisa terus memperkuat UMKM termasuk ekonomi kreatif di dalamnya serta dukungan digitalisasi sebagai penyangga dan strategis ekonomi. Digitalisasi ini telah menjadi ruang bagi UMKM untuk terus berkontribusi bagi perekonomian dan juga harus diisi oleh kebanggaan terhadap produk lokal UMKM Bali. 

“Dengan empat pilar tersebut mulai dari sektor pariwisata, penguatan investasi, kemudian pertanian dan UMKM menurut hemat kami perlu menjadi resep yang harus terus dikembangkan agar Bali memiliki daya tahan dan mampu tumbuh di atas 6 persen di tahun 2026 maupun tahun-tahun berikutnya,” jelasnya. (sar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.