Negara-Negara dengan Akses Uranium Terbesar: Siapa yang Menguasai Energi Dunia?
Facundo Chrysnha Pradipha April 22, 2026 02:38 AM


TRIBUNNEWS.COM - Uranium kerap disebut sebagai “mata uang baru” geopolitik abad ke-21.

Di tengah meningkatnya permintaan energi bersih dan kebangkitan tenaga nuklir sebagai solusi krisis iklim, negara-negara dengan cadangan uranium terbesar kini memegang posisi strategis.

Lalu, negara mana saja yang berada di puncak kekuatan tersebut?

Menurut Asosiasi Nuklir Dunia (WNA), hanya tiga negara yang mengendalikan hampir tiga perempat produksi uranium global.

Ketiga negara tersebut adalah Kazakhstan, Kanada, dan Namibia.

Lebih jauh lagi, hanya 10 perusahaan yang menguasai lebih dari 90 persen produksi uranium dunia.

Tingkat konsentrasi yang tinggi ini berarti negara-negara tersebut berpotensi memiliki pengaruh besar terhadap siapa yang dapat mengembangkan program energi nuklir atau bahkan senjata nuklir.

Beberapa negara, seperti India, mengembangkan alternatif dengan menggunakan bahan lain seperti thorium untuk program energi nuklir sipil.

Namun, mereka tetap membutuhkan uranium untuk program senjata nuklir, sehingga harus menghadapi rantai pasokan yang kompleks dan sensitif secara politik.

Bahkan Amerika Serikat mengimpor sebagian besar uranium yang digunakan di pembangkit listriknya.

Ironisnya, pemasok terbesar AS adalah Kanada, negara yang pernah diancam Presiden Donald Trump untuk dianeksasi dan dijadikan negara bagian, yang sempat menekan hubungan bilateral kedua negara.

Baca juga: Trump Akui Upaya AS Dapatkan Uranium Iran Akan Lama, Sulit meski Ada Operasi Penghancuran Total

Negara dengan Cadangan Uranium Terbesar di Dunia

Dalam industri uranium, “cadangan yang layak secara ekonomi” lebih penting dibandingkan total deposit fisik.

Secara internasional, sekitar 130 dolar AS per kilogram dianggap sebagai batas atas agar uranium tetap layak ditambang secara ekonomis.

WNA memperkirakan dunia memiliki sekitar 5.925.700 ton uranium yang layak secara ekonomi.

Meskipun Kazakhstan saat ini merupakan produsen terbesar, Australia diyakini memiliki cadangan terbesar di dunia.

Negara lain dengan cadangan besar antara lain Kanada, Namibia, Afrika Selatan, dan Niger.

Berikut daftar cadangan uranium terbesar dunia menurut WNA:

  1. Australia: 1.671.200 ton (28 persen)
  2. Kazakhstan: 813.900 ton (14 persen)
  3. Kanada: 582.000 ton (10 persen)
  4. Namibia: 497.900 ton (8%)
  5. Rusia: 476.600 ton (8%)
  6. Niger: 336.000 ton (6%)
  7. Afrika Selatan: 320.900 ton (5%)
  8. China: 270.500 ton (5%)
  9. Brasil: 167.800 ton (3%)
  10. Mongolia: 144.600 ton (2%)
  11. Ukraina: 106.700 ton (2%)
  12. Botswana: 87.200 ton (1%)
  13. Amerika Serikat: 67.800 ton (1%)
  14. Tanzania: 57.700 ton (1%)
  15. Negara lain: 324.900 ton (5%)

Total dunia: 5.925.700 ton (100%)

Namun, negara dengan cadangan terbesar belum tentu menjadi produsen utama.

Sebagai contoh, Kazakhstan menjadi produsen terbesar pada 2024 meskipun cadangannya lebih kecil dibandingkan Australia, yang berada di peringkat lebih rendah dalam produksi.

Rusia juga memproduksi uranium dalam jumlah besar yang tidak sepenuhnya sebanding dengan cadangan yang dimilikinya.

Berikut 10 produsen uranium terbesar pada 2024:

  1. Kazakhstan: 23.270 ton
  2. Kanada: 14.309 ton
  3. Namibia: 7.333 ton
  4. Australia: 4.598 ton
  5. Uzbekistan: 4.000 ton
  6. Rusia: 2.738 ton
  7. China: 1.600 ton
  8. Niger: 962 ton
  9. India: 500 ton
  10. Afrika Selatan: 200 ton

Apa Itu Uranium dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Mengutip world-nuclear.org, uranium adalah logam berat yang telah digunakan sebagai sumber energi terkonsentrasi selama lebih dari 60 tahun.

Uranium terdapat di sebagian besar batuan dengan konsentrasi 2–4 bagian per juta dan sama umumnya di kerak bumi seperti timah, tungsten, dan molibdenum.

Uranium juga terdapat di air laut dan dapat diekstraksi dari sana.

Uranium ditemukan pada 1789 oleh ahli kimia Jerman Martin Klaproth dalam mineral pitchblende.

Namanya diambil dari planet Uranus yang ditemukan delapan tahun sebelumnya.

Unsur ini diyakini terbentuk dari ledakan supernova sekitar 6,6 miliar tahun lalu.

Peluruhan radioaktifnya yang lambat hingga kini menjadi salah satu sumber panas utama di dalam Bumi, yang memicu konveksi dan pergeseran benua.

Karena kepadatannya tinggi, uranium juga digunakan sebagai pemberat pada kapal dan komponen pesawat, serta sebagai pelindung radiasi.

Uranium memiliki titik leleh 1.132°C dan simbol kimia U.

Penggunaan Uranium

Sekitar 9 persen listrik dunia dihasilkan dari uranium melalui reaktor nuklir.

Jumlah ini setara lebih dari 2.500 TWh per tahun, mendekati total produksi listrik global pada 1960.

Listrik tersebut berasal dari sekitar 440 reaktor nuklir dengan kapasitas total sekitar 400.000 megawatt (MWe) di 31 negara.

Sekitar 70 reaktor sedang dibangun dan lebih dari 100 lainnya direncanakan.

Sejumlah negara seperti Prancis, Slovakia, Ukraina, dan Korea Selatan memperoleh lebih dari 30 persen listriknya dari nuklir.

Amerika Serikat memiliki lebih dari 90 reaktor yang menyumbang sekitar 20 persen listrik nasional, sementara Prancis mencapai sekitar 70 persen.

Uranium hanya diperdagangkan kepada negara yang menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan mengizinkan inspeksi internasional untuk memastikan penggunaannya bersifat damai.

Selain untuk energi, uranium juga digunakan dalam produksi radioisotop.

Melalui reaktor penelitian berukuran kecil, berbagai radioisotop dapat diproduksi dengan biaya relatif rendah.

Saat ini terdapat sekitar 220 reaktor penelitian di 56 negara yang berfungsi sebagai “pabrik neutron” untuk menghasilkan bahan radioaktif tersebut.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.