Bertahan Menyerang Swasembada Energi 
Malvyandie Haryadi April 22, 2026 08:38 AM
profile tribunners
PROFIL PENULIS
Rusman Madjulekka
Seorang penulis dan kolumnis yang aktif menulis opini dan artikel di berbagai media, khususnya yang berkaitan dengan isu sosial, politik, dan tokoh publik di Indonesia

RUPANYA yang membedakan Menteri yang berlatar aktivis dengan lainnya:banyak akal.

Di saat banyak negara kesulitan dan kelabakan memenuhi pasokan migasnya gegara perang Iran-AS/Israel, Indonesia diam-diam melobi Rusia dan mendapat pasokan migas hingga terjaga kebutuhan domestik kita sampai akhir 2026.

Kondisi sekarang bicara energi memang selalu punya aroma dan implikasi geopolitik.

Sebagian besar negara terjebak dalam ancaman krisis, khususnya energi, sehingga masing-masing harus mencari jalan keluar dan cara bertahan dari tekanan tersebut.

Ya Anda sudah tahu siapa Menteri yang dimaksud itu;Bahlil Lahadalia. Ia Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Melihat gaya menteri seperti Bahlil membuat saya teringat kredo: aktivis sejati itu tidak mengenal jalan buntu. Demi memenuhi target dan tujuan mereka selalu saja punya cara memecah kebuntuan.

Orang dengan tipikal seperti itu biasanya juga tidak boleh ditantang. Ia sangat peka. Sensitif. Dan makin bersemangat.

Anda jual kami beli. Eksekusinya pun high level. Lebih condong orientasinya pada hasil, entah bagaimana prosesnya. 

Salah satu wujud implementasi “banyak akal” itu bisa dilihat dari strategi menuju swasembada energi yang kerap didengungkan Bahlil.

Bahkan sejak pertama kali dirinya dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri ESDM pada 21 Oktober 2024. 

Kini? Bergema kencang. Apalagi setelah ia mengumumkan penemuan cadangan gas jumbo sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) di sumur Geliga-1, Blok Ganal, Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur. Senin 20 April 2026.

Temuan ini dinilai menjadi sinyal positif dalam memperkuat pasokan energi nasional di tengah kebutuhan yang terus meningkat. 

Bahkan, menurut Bahlil, ini menjadi bukti Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi migas sebagai penopang ketahanan energi nasional dan mendukung target swasembada energi. 

Dalam kalkulasi putra Papua berdarah Muna, Sulawesi Tenggara ini pada 2028 produksi puncak gas itu  diperkirakan mencapai 2.000 MMSCFD, meningkat signifikan dibandingkan produksi saat ini yang berada di kisaran 600-700 MMSCFD.

Produksi tersebut ditargetkan terus naik hingga 3.000 MMSCFD pada 2030.

"Di era kondisi dunia yang hampir semua sekarang menjaga cadangan mereka, sekali lagi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa (penemuan) ini anugerah yang diberikan, dan kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru."  

“Apa strateginya?”

“Bertahan menyerang,” jawabnya lugas.

Bahlil menganalogikan ibarat permainan sepakbola, selain bertahan dengan mengoptimalkan sumur-sumur lama yang ada, maka pada saat yang bersamaan juga aktif menemukan potensi baru eksplorasi.

Akhirnya kita paham. Ini bukan sekadar kompetisi memperebutkan energi. Ini soal siapa atau tim yang lebih disiplin, agresif, dan pantang menyerah adalah yang paling dekat dengan kemenangan.

Dalam evaluasinya, Bahlil pernah menyoroti tim yang memiliki pertahanan kuat namun lemah dalam penyerangan.

Begitu pun sebaliknya. Sehingga ia  menegaskan perlunya keseimbangan pertahanan yang solid dengan intensitas serangan yang tinggi. 

Pandangan ini menurut saya lebih moderat, bahwa “menyerang” tidak hanya bertujuan mencetak gol, tetapi juga strategi mencegah lawan membangun serangan balik. Biar sejarah yang kelak mencatatnya. *(Rusman Madjulekka).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.