Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Josef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor NTT
Rabu, 22 April 2026
Hari biasa Pekan III Paskah
Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a;
Yoh. 6:35-40.
Warna Liturgi Putih
Bukan Hanya Soal Urusan Perut
Sabda Tuhan hari ini membawa kita pada dua kenyataan hidup yang sangat kontras: penderitaan dan harapan. Dalam Kisah Rasul (8:1b-8) dikisahkan bahwa Gereja perdana mengalami penganiayaan.
Ada ketakutan, kehilangan, bahkan kematian seperti yang dialami Stefanus. Saulus menjadi simbol dari kebencian yang membabi buta. Secara manusiawi, ini situasi yang membuat orang ingin mundur, diam, atau bahkan menyerah.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka yang tercerai-berai tidak berhenti percaya. Mereka tidak menyimpan iman hanya untuk diri sendiri.
Dalam ketakutan, mereka tetap mewartakan Injil. Artinya, iman mereka bukan sekadar kenyamanan, tetapi kekuatan yang hidup. Dan hasilnya nyata: kehadiran Filipus membawa kesembuhan, pembebasan, dan sukacita besar di Samaria.
Di sinilah kita mulai melihat makna yang sangat relevan bagi hidup kita sekarang. Tidak semua penderitaan menghancurkan. Ada penderitaan yang justru memurnikan dan menggerakkan.
Kadang hidup kita juga seperti ―tersebar‖: rencana gagal, relasi retak, pekerjaan tidak sesuai harapan. Tetapi justru di situlah Tuhan membuka jalan baru, jika kita tetap berjalan bersama-Nya.
Dalam Injil Yohanes 6:35, Yesus Kristus berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi...” Pernyataan ini muncul setelah orang banyak mengikuti-Nya karena mujizat roti. Mereka datang karena perut mereka kenyang, bukan karena hati mereka haus
akan kebenaran.
Sering kali kita juga demikian. Kita datang kepada Tuhan hanya saat butuh: butuh rezeki, butuh pertolongan, butuh jalan keluar. Fokus kita berhenti pada ―urusan perut‖, hal-hal jasmani dan sementara.
Padahal, Yesus mengingatkan bahwa ada kebutuhan yang jauh lebih dalam: kebutuhan akan hidup kekal, pengharapan, dan hubungan dengan Allah. Roti yang diberikan Yesus bukan sekadar makanan fisik, tetapi diri-Nya sendiri. Ia menawarkan kepuasan yang tidak bisa diberikan oleh dunia.
Makanan bisa mengenyangkan hari ini, tetapi besok kita lapar lagi. Namun, siapa yang datang kepada-Nya akan dipuaskan secara rohani— tidak mudah goyah oleh keadaan, tidak kehilangan arah saat hidup sulit.
Yesus mengingatkan bahwa hanya Dia yang benar-benar mengenyangkan hati manusia. ―Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.‖ Datang kepada Yesus bukan hanya soal doa formal, tetapi soal relasi yang nyata, percaya, bersandar, dan membuka diri.
Yesus juga menegaskan kehendak Bapa: agar setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal dan tidak binasa. Artinya, perhatian Tuhan bukan hanya pada kebutuhan kita hari ini, tetapi pada keselamatan kita selamanya(ayat 39–40).
Mari belajar untuk tidak berhenti pada ―urusan perut‖. Datanglah kepada Yesus bukan hanya sebagai Pemberi berkat, tetapi sebagai sumber hidup itu sendiri. Ketika kita menjadikan Dia pusat hidup, kebutuhan jasmani akan tetap dipelihara, tetapi yang terutama jiwa kita akan diselamatkan
dan dipuaskan.
Dengan kekuatan rohani, seperti jemaat perdana, kita pun bisa menjadi pembawa sukacita bagi orang lain, bukan karena hidup kita tanpa masalah, tetapi karena kita menmukan siapa yang kita
andalkan.
Iman bukan berarti hidup tanpa penderitaan, tetapi hidup dengan arah, dengan harapan, dan dengan kepastian bahwa kita tidak berjalan sendirian. ―Urusan perut‖ hanya bertahan sementara, tetapi ―urusan jiwa‖ menentukan kekekalan. Jangan hanya mencari apa yang bisa mengenyangkan tubuh, tetapi carilah Dia yang menghidupkan jiwa.
Doa: Tuhan Yesus, ajar aku untuk tidak hanya mencari berkat-Mu, tetapi mencari Engkau sendiri. Puaskan hatiku dengan kebenaran-Mu, dan tuntun aku kepada hidup yang kekal. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Rabu Pekan III Paskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Pastor John Lewar SVD)