Oleh : Sony Udju Edo
Sekretaris Bidang Pendidikan DPD GAMKI NTT
POS-KUPANG.CO, KUPANG - Di NTT, terlalu banyak orang muda tumbuh di tengah sunyi, sunyi dari perhatian, sunyi dari perlindungan, bahkan sunyi dari harapan.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak, krisis kesehatan mental, keterbatasan akses pendidikan, hingga ancaman ekologis adalah realitas yang tidak bisa disangkal.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan bagi Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bukan lagi sekadar “apa yang harus dirayakan” di usia ke-64 pada 23 April 2026, tetapi jauh lebih mendasar: apakah kita benar-benar hadir dan bekerja di tengah realitas itu?
Bagi DPD GAMKI NTT, satu tahun pasca pelantikan pada 13 Mei 2025 adalah upaya menjawab pertanyaan tersebut dengan tindakan, bukan sekadar wacana.
Baca juga: Wakil Gubernur NTT Dipastikan Hadir Buka Prosesi Perarakan Paskah GAMKI Alor Tahun 2026
Perjalanan ini dimulai dengan satu keberanian: berbicara jujur tentang realitas yang sering disembunyikan.
Pada 16 Mei 2025, GAMKI NTT menggagas dialog publik di RRI Kupang bertajuk “NTT Darurat Kekerasan Seksual: Kitong Mau Bikin Apa?”.
Forum ini bukan sekadar diskusi. Ia adalah upaya memecah budaya diam, budaya yang selama ini sering melindungi pelaku dan membiarkan korban berjalan sendiri.
Gerakan turun ke Basis
Pada 10 Juni 2025, sebanyak 418 remaja di GMIT Exodus Penkase disentuh melalui edukasi kesehatan mental dan reproduksi, skrining penyakit tidak menular, serta penanaman pohon.
Langkah ini penting, karena banyak anak muda NTT menghadapi masa transisi tanpa ruang aman untuk memahami tubuh, emosi, dan masa depan mereka.
Tidak berhenti di sana, pada 27 Juni 2025, GAMKI hadir di panti sosial Hitbia di Kota Kupang.
Kehadiran ini bukan sekadar kunjungan, tetapi bentuk pengakuan bahwa anak-anak di pinggiran juga memiliki hak yang sama atas pendidikan dan masa depan.
-Pertengahan 2025: Mengakar pada Isu Lingkungan dan Pelayanan Sosial
Memasuki pertengahan tahun, arah gerakan mulai menemukan bentuk, iman yang bekerja dalam realitas.
GAMKI NTT menginisiasi gerakan ekologis melalui penanaman pohon dan “tanam air”, yang berpuncak pada 2 November 2025 di Jemaat GMIT Bethania Oemofa.
Gerakan ini bukan seremoni simbolik, tetapi respons terhadap krisis nyata kekeringan, perubahan iklim dan semakin rapuhnya sumber air di NTT.
Lebih dari itu, gerakan ini juga mencoba mengubah cara pandang bahwa merawat lingkungan bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi bagian dari panggilan iman dan tanggung jawab sosial.
November 2025: Kegiatan menuju Gerakan Kolektif
Pada 30 November 2025, DPD dan seluruh DPC GAMKI se-NTT melakukan penanaman serentak 5.000 anakan pohon.
Di satu titik saja, Jemaat Tujuh Dian Nisatbat, lebih dari 1.100 pohon ditanam.
Ini menandai pergeseran penting dari kegiatan yang terpusat menjadi gerakan yang menjalar dan hidup di akar rumput.
Dalam waktu yang sama, organisasi juga bertumbuh cepat. Dalam lima bulan, terbentuk lima cabang baru: Sabu Raijua, Ende, Kabupaten Kupang, TTS, dan TTU.
Ekspansi ini memperluas jangkauan pelayanan, tetapi sekaligus membawa tantangan baru: memastikan pertumbuhan organisasi diikuti oleh kualitas kader dan dampak yang nyata.
Januari 2026: Akselerasi dan Penegasan Arah
Baca juga: Turnamen Catur Persaudaraan GAMKI–GMKI Ditutup, Percasi NTT Umumkan Juara
Memasuki tahun 2026, GAMKI langsung bergerak cepat.
Rapat awal tahun pada 9 Januari di GMIT Talitakumi Pasir Panjang menjadi titik konsolidasi: pelayanan harus nyata, terukur, dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
Perayaan Natal bersama pada 17 Januari melibatkan GAMKI, Sinode GMIT dan CIS Timor tidak berhenti pada ibadah, tetapi dilanjutkan dengan aksi ekologis.
Ini menegaskan satu hal: iman tidak boleh berhenti di liturgi, tetapi harus hadir dalam tindakan.
Dalam bulan yang sama, GAMKI juga:
- Menginisiasi dialog publik menolak wacana Pilkada melalui DPRD
- Berkolaborasi dengan Rotary Club membangun 28 jamban sehat di Baitesda Nekon
- Melanjutkan gerakan penanaman pohon di berbagai wilayah
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa GAMKI mulai masuk ke isu-isu struktural: demokrasi, kesehatan dan pelayanan dasar.
Akhir Januari 2026: Penguatan nasional dan Intelektual
Kunjungan Ketua Umum DPP GAMKI pada 26-28 Januari 2026 ke Sumba menjadi momentum penting.
Agenda yang dijalankan, seminar nasional di Unkriswina Sumba, penandatanganan MoU pendidikan bersama Rektor Unkriswina dan dialog kader, menunjukkan bahwa gerakan ini tidak hanya bergerak di lapangan sosial, tetapi juga membangun kekuatan intelektual dan kepemimpinan.
Februari 2026: Masuk ke Ruang Digital, Hukum dan Demokrasi
Pada 11 Februari 2026, GAMKI meluncurkan Orela TV sebagai platform digital berbasis YouTube.
Langkah ini penting, karena ruang digital hari ini adalah medan baru pertarungan gagasan dan kesadaran publik.
Di bulan yang sama, GAMKI:
- Berdialog dengan KPU NTT tentang demokrasi inklusif
- Mengangkat isu disabilitas melalui podcast dengan pesan kuat: “Stop kasihan, ini soal hak”
- Mempersiapkan Klinik Hukum GAMKI
- Mengawal kasus kekerasan terhadap kelompok rentan
Ini menunjukkan perluasan peran: dari pelayanan sosial menuju advokasi dan perlindungan hak.
Februari - Maret 2026: Model Pelayanan Terpadu dan Kolaboratif
GAMKI mulai mengembangkan pendekatan pelayanan terpadu, Di GMIT Siloam Nunfamo, berbagai intervensi dilakukan sekaligus:
- Penanaman pohon
- Bantuan jamban
- Bantuan perlengkapan sekolah
- Penyuluhan hukum
Kolaborasi juga meluas:
- MoU dengan Pemkab Belu (stunting, pendidikan, literasi digital)
- Donor darah di Manggarai
- Sekolah demokrasi di Sumba Timur
- Kebun pembibitan di TTU
- Gerakan tenun di Kabupaten Kupang
Ini memperlihatkan bahwa pelayanan tidak lagi sektoral, tetapi mulai menyentuh berbagai dimensi kehidupan masyarakat.
Maret-April 2026: Merawat Nilai dan Kebersamaan
Menjelang Dies Natalis, GAMKI hadir dalam berbagai ruang kemanusiaan dan kebersamaan:
- Pelatihan multimedia di Ruteng
- Keterlibatan dalam pengamanan sholat Id di Lembata dan Alor
- Kegiatan lintas kader dan lintas iman
Di Rote Ndao, keterlibatan dalam pawai Paskah bersama pemerintah dan gereja menjadi simbol bahwa kolaborasi sosial dan spiritual dapat berjalan beriringan.
Refleksi: Gerakan yang Bertumbuh, namun belum selesai
Satu tahun perjalanan ini menunjukkan bahwa GAMKI NTT sedang bergerak, dari organisasi berbasis kegiatan menuju gerakan yang berupaya memberi dampak.
Ciri-cirinya mulai terlihat:
- Isu yang diangkat kontekstual
- Aksi yang dilakukan nyata
- Kolaborasi yang dibangun luas
- Organisasi yang bertumbuh cepat
Namun, harus diakui secara jujur, perjalanan ini banyak kekurangan.
Di beberapa titik, kesinambungan program masih menjadi tantangan. Energi besar kadang masih terserap pada banyaknya kegiatan, belum sepenuhnya pada pendalaman dampak jangka panjang.
Ini menjadi pekerjaan rumah penting: memastikan bahwa setiap gerakan tidak hanya hadir sesaat, tetapi benar-benar mengubah keadaan.
Memilih untuk tidak diam
Dalam konteks NTT hari ini, diam bukan lagi pilihan netral.
Diam adalah keberpihakan pada ketidakadilan yang dibiarkan, pada penderitaan yang diabaikan.
Karena itu, di usia ke-64, GAMKI memilih jalan yang tidak mudah: hadir, bekerja, dan berjalan bersama rakyat.
Di Bumi Flobamorata, gerakan ini sedang bertumbuh, bukan hanya menjadi lebih besar, tetapi berusaha menjadi lebih berarti.
Selamat Dies Natalis ke-64 GAMKI, Teruslah berkarya di Bumi Flobamorata
Cinta Tuhan,Cinta Nusa dan Bangsa . Ora Et Labora. (*)