SRIPOKU.COM, PALEMBANG— Kondisi Jalan Tengkuruk Permai di bawah Stasiun LRT Ampera kembali menuai keluhan.
Meski baru sebulan diaspal, jalan tersebut kini sudah rusak dan dipenuhi genangan air yang tak kunjung surut, Rabu (22/4/2026).
Kerusakan jalan yang berada di kawasan Pasar 16 Ilir ini dinilai mengganggu aktivitas pengunjung dan pedagang.
Selain bergelombang dan tidak rata, genangan air juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara.
Pepen, salah satu petugas parkir di lokasi, menilai perbaikan jalan tidak dilakukan secara maksimal. Ia menyebut, pengaspalan tidak memperhatikan sistem drainase sehingga air terus menggenang dan mempercepat kerusakan jalan.
“Mau sebanyak apapun aspalnya, kalau tempat pembuangan air ditutup maka jalan akan terus rusak,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ia juga mengkritik metode pengerjaan yang dinilai tidak merata karena hanya sebagian jalan yang diaspal. Ditambah lagi, saluran drainase yang tertutup serta sampah yang menumpuk memperparah kondisi genangan.
“Ini jalan umum, dilalui angkot dan kendaraan pribadi, tapi yang diaspal hanya satu sisi,” tambahnya.
Dari pantauan di lapangan, permukaan jalan tampak bergelombang dengan sejumlah lubang yang tertutup air. Kondisi ini membuat pengendara, khususnya sepeda motor, harus ekstra hati-hati saat melintas.
Keluhan serupa juga disampaikan Aini, salah satu pengunjung pasar. Ia mengaku khawatir melintasi jalan tersebut karena kondisi yang membahayakan.
“Takut juga lewat situ, jalannya tidak rata dan bergelombang,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini sangat disayangkan mengingat kawasan Pasar 16 Ilir merupakan pusat aktivitas ekonomi dan wisata di Palembang. Di kawasan ini, pengunjung tidak hanya berbelanja, tetapi juga menikmati wisata seperti kuliner terapung dan perahu ketek.
Aini berharap pemerintah kota, termasuk Wali Kota Ratu Dewa dan Wakil Wali Kota Prima Salam, dapat turun langsung meninjau kondisi tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan pasca pengerjaan proyek agar tidak terkesan asal-asalan dan merugikan anggaran daerah.
“Kalau seperti ini, anggaran terbuang karena baru sebulan sudah rusak, nanti diperbaiki lagi, jadi dua kali kerja dan dua kali biaya,” tutupnya.