SURYA.CO.ID - Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) hingga kini belum bisa melintasi Selat Hormuz, meskipun aksesnya sudah mulai dibuka.
Dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di Teluk Persia yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro.
VLCC Pertamina Pride mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sedangkan Kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga (third party).
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengungkap kendala terkait belum lolosnya dua kapal Pertamina dari Selat Hormuz.
Sugiono menyebutkan, kendala yang dihadapi terkait dengan situasi internal yang terjadi di Iran.
Baca juga: Akhirnya 2 Kapal Tanker Pertamina Siap Melintasi Selat Hormuz, Ini Strategi Aman PIS
"Karena kadang-kadang apa yang menjadi policy dari atas itu tidak serta-merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa," ungkap Sugiono.
Kemudian, Sugiono juga menyinggung soal perkembangan tentang blokade Selat Hormuz. Ia menyebutkan, setiap hal terkait Selat Hormuz ini sedang dinegosiasikan.
"Kemudian juga ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat dari kapal boleh lewat dan sebagainya dan sebagainya, yang itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan," tutur dia.
Pada kesempatan yang sama, Sugiono juga menyoroti inisiasi terkait usulan soal biaya pungutan untuk melintas Selat Hormuz.
Menurut Sugiono, banyak negara menolak ide terkait uang pungutan atau fee bagi kapal yang mau melintasi Selat Hormuz.
"Jadi, saya mewakili Bapak Presiden hadir secara online itu daring di rapat tersebut. Yang intinya, pertama bahwa negara-negara yang ikut di dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee atau tol bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz," jelasnya.
Alasannya karena hal tersebut bertentangan dengan istilah yang dikenal dengan freedom of navigation.
"Selat Hormuz dikuasai Iran, tapi di situ kan ada Oman, ya kan, kemudian ada UAE. Kemudian, karena ya, jadi beberapa contoh ada praktik-praktik tersebut dilakukan di situ," tuturnya.
Sebelumnya, Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita mengaku sedang memantau intensif dan menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) guna memastikan keamanan perjalanan kedua kapal.
Baca juga: Nasib 2 Kapal Tanker Pertamina Usai Selat Hormuz Dibuka, Kemlu Masih Berusaha, Iran Beri 2 Syarat
"Strategi yang disiapkan meliputi penyusunan rute, identifikasi risiko, navigasi elektronik, serta penyiapan rencana kontingensi," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (18/4/2026).
Selain itu, PIS juga aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan kelancaran operasional di lapangan.
Salah satunya, koordinasi dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri untuk mendukung komunikasi diplomatik dengan otoritas setempat.
Tak hanya itu, perusahaan turut menjalin komunikasi dengan perusahaan asuransi, manajemen kapal (ship management), pemilik kargo, serta otoritas pelabuhan guna memastikan seluruh prosedur perizinan dapat dipenuhi.
"Prioritas perusahaan tetap pada keselamatan awak kapal, serta keamanan kapal dan seluruh muatannya," kata Vega.
Pemerintah Iran akhirnya resmi membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz sejak Jumat (17/4/2026), menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata tersebut.
"Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi seperti yang telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran," tulis Araghchi di X dilansir CNN, Jumat (17/4/2026).
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pun menyatakan terima kasih dan menyambut baik langkah Iran tersebut.
Namun, ia menambahkan, blokade militer AS di selat tersebut tetap berlaku untuk Teheran sampai terjadi kesepakatan final.
Baca juga: Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata Sementara: Konflik Harus Berakhir Selamanya
"Selat Hormuz telah sepenuhnya terbuka dan siap untuk kegiatan bisnis dan pelayaran penuh, tetapi blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya, hanya untuk Iran, sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100 persen," ujar Trump di Truth Social, dikutip dari AFP, Jumat (17/4/2026).
"Proses ini seharusnya berjalan sangat cepat karena sebagian besar poin sudah dinegosiasikan. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini," sambungnya.