Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Harga gas LPG ukuran 12 kilogram di Kabupaten Ngada mengalami lonjakan signifikan dan kini menembus Rp 300 ribu per tabung untuk sistem tukar.
Mery, salah satu pegawai SPBU Bobou Faobata, mengatakan kenaikan harga tersebut sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, harga LPG 12 kg untuk sistem tukar berada di kisaran Rp285 ribu per tabung.
“Sekarang harga tukar sudah Rp 300 ribu. Kalau beli baru bisa sampai Rp 700 ribu per tabung,” ujar Mery saat ditemui di SPBU Bobou.
Ia menjelaskan, stok LPG yang tersedia di SPBU tersebut biasanya berkisar antara 75 hingga 100 tabung. Namun, persediaan itu umumnya hanya mampu bertahan selama dua minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat permintaan masyarakat.
Baca juga: Penertiban PKL di Eks Pasar Wuring Sikka, Pedagang Teriak dan Protes, Petugas Robohkan Tenda Jualan
“Kalau stok datang, biasanya habis dalam waktu dua minggu sampai satu bulan. Pembeli datang langsung ke SPBU, tidak melalui pengecer,” jelasnya.
Mery juga menyebutkan, tidak ada pembatasan jumlah pembelian bagi konsumen. Setiap pembeli dapat mengambil lebih dari satu tabung, menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Setiap pembeli bisa ambil lebih, tergantung kemampuan pembeli,” tambahnya.
Menurutnya, harga LPG tersebut mengikuti kebijakan distributor yang berada di Ende dan membawahi penyaluran ke wilayah Ngada, termasuk SPBU Bobou.
Kenaikan harga ini dikeluhkan masyarakat karena dinilai semakin membebani kebutuhan rumah tangga, terutama bagi warga yang bergantung pada LPG non-subsidi untuk aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, salah satu pelaku UMKM di Ngada, Adelia, mengaku pasrah dengan kondisi kenaikan harga tersebut. Ia mengatakan, lonjakan harga tidak hanya terjadi pada LPG, tetapi juga sejumlah kebutuhan pokok lainnya seperti minyak goreng, beras, dan plastik.
“Kenaikan ini bukan hanya LPG, tapi juga banyak kebutuhan pokok lain seperti minyak goreng, beras, dan plastik,” ujar Adelia.
Menurutnya, untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi, pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual makanan.
“Mau bagaimana lagi, kenaikan ini sudah dari pusat. Kami terpaksa menyesuaikan harga jual,” katanya.
Adelia menambahkan, sebelumnya harga satu porsi makanan dijual Rp10 ribu, namun kini naik menjadi Rp15 ribu per porsi.
“Kita tentu menaikkan harga makanan. Kalau sebelumnya Rp10 ribu, sekarang menjadi Rp15 ribu per porsi,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan warga kelas menengah ke bawah, agar harga kebutuhan pokok bisa dikendalikan.
“Harapan kami, pemerintah bisa memikirkan masyarakat kecil supaya harga kebutuhan pokok tidak terus naik,” tutupnya. (Cha).