Dari Perkebunan Ke Kain, Batik Sawit Jadi Peluang Baru Ekonomi Rakyat di Riau
M Iqbal April 22, 2026 06:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Seorang wanita berjilbab hitam, tampak duduk bersila. Tubuhnya sedikit condong ke depan, sementara tangan kanannya memegang canting, sebuah alat membuat untuk batik tulis.

Dari ujung alat kecil itu, cairan berwarna kecokelatan mengalir perlahan, membentuk pola atau motif di atas kain putih.

Ia tak tergesa. Setiap lengkung ditarik dengan kesabaran. Sesekali ia berhenti, meniup ujung canting, memastikan aliran tetap stabil.

Di sekelilingnya, beberapa orang lainnya melakukan hal serupa. Ada yang merentangkan kain, ada yang menata pola, ada pula yang sekadar mengamati sambil belajar.

Kegiatan ini digelar di Kantor Dekranasda Kota Pekanbaru, Selasa (21/4/2026).

Adalah Yusmaini (46), merupakan seorang pembatik asal Kabupaten Pelalawan. Ia rela datang jauh-jauh untuk mengikuti kegiatan pelatihan membatik yang diadakan oleh Elaeis Media Group bekerjasama dengan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP).

Peserta workshop produksi batik sawit Yusmaini
Peserta workshop dan praktik produksi batik sawit, Yusmaini saat mencoba membuat motif dengan malam sawit

Yang berbeda dalam kegiatan ini, adalah bahan yang digunakan, yaitu lilin batik berupa malam sawit.

Bukan malam konvensional berbasis parafin atau lilin biasa, melainkan hasil olahan turunan kelapa sawit, komoditas yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat di Sumatera, khususnya di Riau.

Disebutkan Yusmaini, ia sudah mulai menekuni seni membatik sejak 2014. Namun, ini merupakan kesempatan pertamanya belajar membatik dengan malam sawit.

"Biasanya (pakai) lilin biasa, kalau ini istimewanya, malamnya itu lebih ringan di kain," katanya disela-sela kegiatan pelatihan membatik.

Ia mengaku senang bisa ikut kegiatan ini. Ia pun bersemangat menorehkan malam sawit di kain putih, dengan motif Sungai Jantan.

Yusmaini sendiri juga sudah punya usaha Batik Yus Pelalawan.

Peserta lainnya, Samsiah (56) asal Kepulauan Meranti menuturkan, ia juga baru pertama membatik dengan malam sawit.

"Memuaskan juga, penasaran dengan hasilnya. Kami Meranti itu ada motif sagu, daun sirih, dan buah pinang," tuturnya.

Selain membatik, ia juga berkesenian menenun. Ia sudah menenun selama 10 tahun.

"Di Kampung jual (hasil tenun). Kalau batik pasarannya belum terlalu banyak ya. Ini kita belajar (batik sawit), tidak tertutup kemungkinan nanti ini kita kembangkan juga," ujar dia.

Sementara itu, CEO Elaeis Media Group, Abdul Aziz mengungkap, kegiatan ini merupakan lanjutan. Di mana sebelumnya sudah pernah dilaksanakan di wilayah Dumai tahun 2025 lalu. 

Ia berujar, pihaknya terus komitmen mendukung keberlanjutan hilirisasi sawit, terutama terkait pengembangan UMKM.

"Batik merupakan produk UMKM yang memiliki pasar yang cukup luas, sementara batik sawit adalah varian baru dan dapat pula menjadi peluang usaha baru bagi pelaku UMKM," sebutnya.

Dalam kegiatan ini, pihaknya juga menghadirkan para pemateri dan pengajar profesional.

Khusus di Riau, Aziz bilang, bahan baku malam sawit akan disediakan lewat kerja sama dengan perusahaan yang ada di Riau.

"Intinya Riau tidak kekurangan untuk menyiapkan bahan baku, malah berlebih. Kita yakin pemanfaatan akan ada nilai lebih, apalagi batik, yang jadi ciri khas Indonesia," ucapnya.

Aziz bilang, tidak tertutup kemungkinan nanti akan dibuat industri batik sawit di Riau.

"Saya yakin ini bisa jalan. Karena potensi pasarnya besar. Kita harapkan pemerintah lewat regulasi juga mendukung, kita diberi kemudahan untuk kita bisa mandiri. Memberikan peluang dan membantu pemasaran," ulasnya.

Beberapa bukan ke depan Aziz tambahkan, pihaknya juga akan membuat kegiatan semacam fashion show untuk menampilkan hasil batik sawit di Riau.

(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.