TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah konflik antara Iran dan Amerika Serikat di wilayah strategis Selat Hormuz memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas jalur perdagangan energi dunia.
Selat yang menjadi urat nadi distribusi minyak internasional itu kini berada dalam kondisi rawan akibat meningkatnya aktivitas militer kedua negara.
Situasi tersebut mendorong berbagai negara besar untuk mengambil langkah antisipatif guna mengamankan jalur pelayaran internasional.
Di tengah memanasnya kondisi geopolitik, Jerman menjadi salah satu negara Eropa yang ikut ambil bagian dalam misi pengamanan multinasional.
Berlin dikabarkan telah menyiapkan tiga kapal perang untuk mendukung operasi keamanan maritim di kawasan tersebut.
Rencana ini merupakan bagian dari upaya kolektif negara-negara sekutu dalam menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Meski demikian, langkah tersebut diperkirakan dapat memicu sensitivitas baru di tengah penolakan Iran terhadap kehadiran militer asing di wilayahnya.
Situasi ini menjadikan Selat Hormuz kembali menjadi titik panas geopolitik dunia yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Baca juga: Mendadak Berubah! Terbongkar Alasan Presiden AS Donald Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran
Seperti diketahui, pemerintah Jerman berencana mengerahkan tiga kapal untuk mendukung misi internasional pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Rencana tersebut mencuat setelah pembahasan dalam rapat Dewan Keamanan Nasional Jerman yang dipimpin Kanselir Friedrich Merz.
Majalah Der Spiegel melaporkan, pertemuan itu turut membahas berbagai isu strategis, termasuk dinamika politik dan ekonomi global serta situasi terkini di kawasan Timur Tengah pada Selasa (21/4/2026).
Dewan Keamanan Nasional Jerman disebut mempertimbangkan pengerahan dua kapal penyapu ranjau dan satu kapal logistik sebagai bagian dari kontribusi dalam misi tersebut.
Mandat tersebut diharapkan berasal dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) agar keterlibatan Jerman memiliki legitimasi global.
Selain pengerahan kapal, Jerman juga mengusulkan penggunaan pesawat pengintai berukuran kecil untuk mendukung misi pemantauan.
Pesawat tersebut saat ini ditempatkan di Djibouti sebagai bagian dari Operasi Aspides.
Situasi keamanan di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian internasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada awal April 2026 mempertimbangkan secara serius kemungkinan menarik negaranya dari NATO.
Pertimbangan tersebut muncul setelah sejumlah anggota aliansi menolak mendukung Amerika Serikat dan Israel dalam konflik melawan Iran.
Trump bahkan menilai Eropa tidak lagi dapat diandalkan sebagai mitra pertahanan.
Penilaian itu disampaikan setelah negara-negara Eropa menolak permintaan AS untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)