TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kecelakaan kembali terjadi di Tanjakan Silayur, Jalan Prof Dr Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, Rabu (22/4) dini hari.
Truk berpelat nomor B 9262 BYY bermuatan triplek terguling di jalur menuju arah Mijen.
Posisi truk melintang dan menutup hampir seluruh jalur tersebut sehingga berpotensi menyebabkan ketersendatan lalu lintas saat jam berangkat kerja.
Sopir truk, Nana (25) mengaku, saat itu tengah mengantarkan muatan dari Banten ke arah BSB.
“Saat menanjak tidak kuat, akhirnya mundur dan terguling,” kata Nana di lokasi kejadian.
Hingga sekitar pukul 06.00, posisi truk masih terguling.
Muatan triplek kayu juga masih belum dipindahkan dari baknya.
Polisi sudah berada di lokasi mengatur lalu lintas.
Arus lalu lintas menuju arah BSB dialihkan secara contraflow menggunakan jalur sebaliknya.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang menanggapi kecelakaan yang kembali terjadi Tanjakan Silayur.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan menyebut, pihaknya telah mengecek langsung di lapangan.
Dia menjelaskan, kecelakaan terjadi sekitar pukul 01.50, saat jam operasional kendaraan angkutan barang memang diperbolehkan melintas.
Menurut Danang, sebelumnya, petugas Dishub telah melakukan pengawasan di titik penyekatan hingga pukul 23.00.
"Saya mengecek lokasi pukul 22.00 malam. Ya, masih di jalan kendaraan penghalauan,” kata Danang.
“Kemudian personel kami meninggalkan tempat itu pukul 23.00 karena mulai pukul 23.00 sampai 05.00 pagi memang diizinkan untuk kendaraan-kendaraan yang akan beraktivitas di kawasan industri," kata Danang.
Kelebihan muatan
Dari hasil pemeriksaan awal, kata Danang, truk pengangkut triplek itu diduga mengalami kelebihan muatan.
Beban kendaraan diperkirakan mencapai sekitar 27 ton setelah dikonversikan.
Selain itu, Danang menyebut material muatan berupa triplek kemungkinan menyerap air selama perjalanan sehingga menambah berat kendaraan.
Hal ini diduga menjadi salah satu faktor penyebab truk gagal menanjak di kawasan Silayur.
"Pengakuan dari si pengemudi sendiri bahwa dari bawah itu dia sudah menggunakan gigi satu ya. Gigi satu dari Jrakah, naik pelan-pelan sampai di Tanjakan Silayur itu. Nah, itu mengalami gagal nanjak," katanya.
Secara teknis, kendaraan disebut masih dalam kondisi laik jalan hingga September 2026 dan tidak ditemukan kerusakan fisik yang signifikan.
Namun, Dishub menyoroti bahwa truk jenis tersebut seharusnya tidak melintas di jalan kelas 2 seperti lokasi kejadian.
Sebagai langkah evaluasi, lanjutnya, Dishub Kota Semarang berencana memperketat pengawasan kendaraan angkutan barang, termasuk dengan penggunaan timbangan portable untuk mengecek muatan secara langsung di lapangan.
Selain itu, sistem portal buka-tutup juga akan dioptimalkan untuk membatasi kendaraan berat melintas di luar ketentuan waktu.
“Harapannya, langkah ini bisa menekan angka kecelakaan dan memberikan rasa aman bagi masyarakat pengguna jalan,” ujar Danang.
"Yang penting itu saat ini kita harus memberikan rasa aman, rasa tentram kepada masyarakat atau pengguna jalan bahwa tidak ada laka lagi. Minimal kita bisa menekan tingkat fatalitasnya dari kejadian laka di situ," imbuhnya. (Restu Dwi/Reza Gustav/Idayatul Rohmah)