Aktivitas Gunung Slamet Kembali Meningkat, Sugeng Pantau Lonjakan Gempa hingga 10 Kali Lipat
M Syofri Kurniawan April 23, 2026 06:11 AM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Lonjakan tajam aktivitas kegempaan dalam waktu singkat membuat dinamika di tubuh Gunung Slamet kembali menjadi perhatian serius.

Dalam kurun dua hari, jumlah gempa meningkat drastis hingga hampir sepuluh kali lipat, memicu kewaspadaan berbagai pihak meski status gunung masih bertahan di Level II atau Waspada.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada 20 April 2026 aktivitas masih relatif rendah dengan 7 gempa hembusan dan 17 gempa low frekuensi.

Namun sehari kemudian, 21 April 2026, terjadi lonjakan signifikan menjadi 72 gempa hembusan dan 60 gempa low frekuensi.

Tak hanya jumlahnya yang meningkat, karakteristik gempa juga menunjukkan perubahan. 

Amplitudo gempa hembusan tercatat mencapai 3 - 6 mm dengan durasi hingga 58 detik, lebih panjang dibandingkan hari sebelumnya yang hanya berkisar 30–40 detik.

Sementara gempa low frekuensi juga mengalami peningkatan durasi hingga 29 detik. Selain itu, tremor menerus atau microtremor turut menguat.  

GUNUNG SLAMET - Panorama Gunung Slamet dilihat dari Desa Karangcegak, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Rabu (22/4/2026). Dalam kurun dua hari, jumlah gempa meningkat drastis hingga hampir sepuluh kali lipat, memicu kewaspadaan berbagai pihak meski status gunung masih bertahan di Level II atau Waspada.
GUNUNG SLAMET - Panorama Gunung Slamet dilihat dari Desa Karangcegak, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Rabu (22/4/2026). Dalam kurun dua hari, jumlah gempa meningkat drastis hingga hampir sepuluh kali lipat, memicu kewaspadaan berbagai pihak meski status gunung masih bertahan di Level II atau Waspada. (TRIBUN JATENG/Permata Putra Sejati)

Pada 20 April amplitudo dominan berada di angka 0,5 mm, maka pada 21 April meningkat menjadi 1 mm bahkan sempat menyentuh 1,5 mm.

Secara visual, aktivitas kawah juga menunjukkan perubahan. 

Asap kawah masih berwarna putih dengan tekanan lemah, namun ketinggiannya meningkat dari sekitar 50 meter menjadi 50-100 meter di atas puncak dengan intensitas yang tampak lebih tebal.

Supervisor Site Gunung Slamet Perhutani Alam Wisata Wilayah Barat, Sugeng Utomo, mengatakan, peningkatan kegempaan ini menjadi indikator penting dalam memantau aktivitas magma di dalam gunung.

"Peningkatan kegempaan ini menjadi indikator penting dalam memantau pergerakan magma di dalam gunung," ujarnya, Rabu (22/04/2026).

Meski demikian, status Gunung Slamet hingga kini masih berada di Level II atau Waspada. PVMBG mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah puncak.

Sugeng juga mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di lereng gunung agar tetap mematuhi batas aman yang telah ditetapkan.

"Secara umum kami mengimbau masyarakat agar selalu mematuhi batas aman 3 kilometer dari kawah puncak dan tetap waspada," tegasnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, mengungkapkan bahwa peningkatan aktivitas juga terlihat dari suhu kawah. Ia menyebut, Sabtu (18/04/2026), suhu kawah Gunung Slamet naik dari 461°C menjadi 478°C. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan.

"Kondisi ini menjadi perhatian serius. Meskipun untuk wilayah Banyumas bagian selatan saat ini masih dalam kategori relatif aman. Kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan terus memantau indikator vulkanik lainnya," ujar Dwi.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Banyumas akan menggelar rapat koordinasi lintas wilayah pada Kamis (23/4). Pertemuan ini akan melibatkan BPBD dari Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, serta pihak Badan Geologi.

"Fokus utama rakor adalah sinkronisasi langkah mitigasi dan penguatan jalur koordinasi darurat jika aktivitas gunung meningkat ke level yang lebih mengkhawatirkan," jelasnya.

Di wilayah Kabupaten Banyumas, terdapat empat kecamatan yang menjadi fokus pemantauan karena lokasinya paling dekat dengan puncak Gunung Slamet, yakni Baturraden, Sumbang, Kedungbanteng, dan Cilongok.

Meski aktivitas meningkat, sektor pariwisata di kawasan Baturraden dipastikan masih berjalan normal.

"Kegiatan wisata di kawasan Baturraden hingga saat ini masih dinilai aman karena jaraknya cukup jauh dari kawah puncak. 

Namun, kami minta masyarakat dan pengunjung tetap mengikuti perkembangan informasi resmi dan tidak mudah termakan isu yang belum terverifikasi," pungkasnya. (Permata Putra Sejati) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.