Peringati Hari Kartini, IFI Jogja Gelar Program Kreatif Jelajah Pengembangan Game bagi Mahasiswi
abduh imanulhaq April 23, 2026 10:56 AM

TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - Jaringan kebudayaan Prancis (Institut francais d’Indonesie - IFI dan Alliance Francaise - AF) di Indonesia berkontribusi secara aktif dalam rangkaian acara Hari Kartini.

Lembaga ini menyelenggarakan berbagai inisiatif di seluruh penjuru negeri sehingga memperkuat jangkauan perayaan secara nasional.

Di Yogyakarta, IFI Yogyakarta bekerja sama dengan Gameloft menyelenggarakan program kreatif bertajuk “Kartini Play: Hackdays” pada 17–21 April.

Program ini dirancang untuk memberdayakan mahasiswi agar dapat menjelajahi pengembangan game dan kreativitas digital. 

Warung Prancis di Universitas Islam Indonesia (UII) juga mengadakan serangkaian kegiatan pada 22 April.

Termasuk lomba esai “Femmes Vaillantes – Berani Bermimpi, Berani Beraksi”, talk show, permainan interaktif, dan lokakarya kreatif yang bertujuan untuk mendorong para perempuan muda mengekspresikan ambisi dan ide-ide mereka.

Di Jakarta, Kedutaan Besar Prancis bersama IFI menyelenggarakan serangkaian acara pada 21 April untuk memperingati Hari Kartini.

Acara ini sebagai bagian dari Pekan Francophonie 2026, yakni perayaan bahasa Prancis berkolaborasi dengan kedutaan negara berbahasa Prancis lain di Jakarta.

Inisiatif ini mencerminkan komitmen berkelanjutan Prancis terhadap kesetaraan gender dan diplomasi feminis, sekaligus memperkuat dialog dengan mitra-mitra Indonesia mengenai isu-isu sosial yang penting.

Hari Kartini yang diperingati setiap tahun di Indonesia merupakan penghormatan kepada RA Kartini, seorang pahlawan nasional yang perjuangannya dalam 
memperjuangkan pendidikan dan emansipasi perempuan terus menginspirasi generasi demi generasi.

Dalam semangat tersebut, pada tahun ini IFI memberikan perhatian khusus pada hubungan antara kesehatan, pendidikan, dan inklusi ekonomi.

Ada beberapa acara yang diadakan dalam rangka Hari Kartini tersebut.

Satu di antaranya diskusi panel tingkat tinggi bertajuk “Kesehatan Reproduksi dan Inklusi Ekonomi: Kebijakan Nasional dan Inisiatif Lokal LSM” diselenggarakan di IFI Jakarta pada 21 April.

Diskusi ini mempertemukan perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, organisasi internasional seperti United Nations Population Fund, serta organisasi masyarakat sipil terkemuka di Indonesia.

Diskusi ini mengeksplorasi bagaimana kebijakan publik dan inisiatif grassroots berkontribusi dalam meningkatkan akses perempuan terhadap layanan kesehatan reproduksi dan peluang ekonomi.

Dialog ini bertujuan untuk mendorong pertukaran pendapat antara pemangku kepentingan kelembagaan, praktisi, dan masyarakat luas, sekaligus menyoroti solusi konkret untuk memajukan hak-hak perempuan di Indonesia.

Dialog ini juga mencerminkan prioritas bersama antara Prancis dan Indonesia dalam mempromosikan pembangunan inklusif dan keadilan sosial.

Secara bersamaan, IFI mengumumkan program baru untuk pengembangan 
kompetensi di bidang gastronomi melalui kerja sama dengan Sekolah Seniman Pangan dan The Asia Foundation serta melibatkan seorang chef ahli asal Prancis. 

Program pelatihan ini menggambarkan peran industri budaya dan kreatif dalam memberdayakan perempuan secara ekonomi, sejalan dengan kerja sama bilateral yang lebih luas di bidang pendidikan dan inovasi.

Untuk lebih melibatkan kalangan muda, lokakarya menulis bertajuk “Kartini Masa Kini” diselenggarakan di toko buku Gramedia-Jalma di Blok M.

Lokakarya ini mengajak para peserta untuk merenungkan tantangan-tantangan kontemporer yang dihadapi perempuan serta mengeksplorasi keseimbangan antara ekspektasi masyarakat dan aspirasi pribadi.

Di Surabaya, IFI mendukung acara peluncuran buku yang didedikasikan untuk Ameliorate karya penulis muda Felarose Zahwa.

Peluncuran diselenggarakan bekerja sama dengan Papermind pada 13 April dengan memadukan diskusi sastra dan pertunjukan seni.

IFI Bandung berkolaborasi dengan Goethe-Institut Bandung, menyelenggarakan acara “Kartini Day: Stories of Women Initiative” yang menampilkan pemutaran dua film dari Jerman dan Prancis.

Pemutaran film ini dilanjutkan dengan sesi diskusi bertajuk “oman: In Between 
Roles and Responsibilities,” yang menghadirkan Gadis Prameswari (pendiri Asah Pemimpin dan Puan Pembaharu) serta Khansa Dalilah (Rodanona, Perempuan Menggugat, 
demokrasikita.id) yang berbagi pengalaman mereka mengenai realitas yang dihadapi perempuan saat ini dalam menyeimbangkan ambisi karier, ekspektasi sosial, dan identitas pribadi.

AF Bali turut merayakan Hari Kartini melalui kegiatan pendidikan dan diskusi yang berfokus pada hak-hak perempuan di dunia berbahasa Prancis.

Kemudian pertukaran ide seputar tokoh-tokoh perempuan lokal yang menginspirasi dan perjalanan karier mereka sehingga 
menciptakan ruang dialog antara perspektif global dan pengalaman lokal.

Melalui inisiatif-inisiatif ini, Kedutaan Besar Prancis – IFI menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung kesetaraan gender dan memperluas jangkauan suara-suara yang beragam, sekaligus memperkuat jaringan mitra-mitranya di Indonesia.

Termasuk lembaga pemerintah, LSM, dan platform media.

Dengan menyelaraskan Hari Kartini dengan Pekan Francophonie, program ini menyoroti nilainilai universal berupa dialog, keberagaman, dan hak asasi manusia yang dianut bersama di kawasan Francophonie dan Indonesia. (***)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.