SURYA.co.id – Kabar mengejutkan sekaligus melegakan datang dari Gedung Putih.
Setelah sempat melontarkan ancaman keras, Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran pada Selasa (22/4/2026) waktu setempat.
Keputusan ini diambil hanya sehari sebelum tenggat berakhir, sekaligus mengubah arah situasi dari potensi konflik militer menuju jalur diplomasi.
Ketegangan yang sebelumnya nyaris memicu konfrontasi fisik di Selat Hormuz kini mulai mereda.
Dunia pun untuk sementara dapat “bernapas lega”, karena fokus beralih dari persiapan perang menuju proses negosiasi yang diharapkan menjadi titik akhir konflik kedua negara di tahun 2026 ini.
Trump menyebut keputusan memperpanjang masa damai ini diambil demi memberi ruang bagi proses negosiasi yang sedang berlangsung, termasuk atas dorongan pihak Pakistan.
"Atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta menunda serangan kami terhadap Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu," kata Trump, dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.
Meski demikian, tekanan terhadap Iran belum sepenuhnya dilepas. Trump menegaskan blokade tetap berjalan dan militer AS berada dalam kondisi siaga.
"Saya telah menginstruksikan militer kami melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara," kata Presiden Trump.
Langkah ini dipandang sebagai “rem darurat” untuk mencegah konflik terbuka, sekaligus menjaga posisi tawar Washington di meja perundingan.
Meredanya ketegangan di Selat Hormuz membawa dampak langsung terhadap stabilitas pasokan energi global.
Sebagai jalur vital distribusi minyak dunia, potensi konflik di kawasan ini sebelumnya memicu kekhawatiran lonjakan harga energi dan gangguan logistik global.
Dengan diperpanjangnya gencatan senjata, jalur pelayaran kembali relatif aman.
Negara-negara konsumen energi besar seperti China, Jepang, hingga Indonesia diperkirakan menyambut positif perkembangan ini karena risiko krisis energi global untuk sementara dapat ditekan.
Meski situasi mereda, jalan menuju perdamaian permanen masih panjang. Gencatan senjata bukan berarti konflik telah usai sepenuhnya.
Sejumlah isu krusial masih menjadi perdebatan, mulai dari program nuklir Iran, sanksi ekonomi, hingga hak navigasi di kawasan strategis.
Respons dari pihak Iran pun menunjukkan sikap hati-hati. Penasihat senior Ketua DPR Iran, Mahdi Mohammadi, menilai langkah Trump tidak membawa perubahan berarti.
Sementara itu, Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang memimpin negosiasi awal dijadwalkan kembali bertemu Wakil Presiden AS JD Vance dalam lanjutan perundingan.
Di sisi lain, Trump sebelumnya juga sempat menunjukkan sikap keras terhadap kemungkinan perpanjangan gencatan senjata.
"Saya tidak ingin melakukan itu (perpanjangan masa gencatan senjata). Kita tidak punya banyak waktu", tegas Trump.
Namun ia tetap optimistis terhadap hasil diplomasi.
"Apa yang saya pikirkan adalah pertemuan ini (di Islamabad) akan berakhir dengan kesepakatan yang besar", ujar sang Presiden AS kepada CNBC.
"Saya pikir kita berada dalam posisi negosiasi yang sangat kuat." kata Trump.
Perpanjangan gencatan senjata ini memberi dunia waktu tambahan untuk menghindari konflik besar melalui jalur diplomasi.
Meski situasi masih dinamis dan penuh ketidakpastian, keputusan Trump menjadi sinyal positif bagi stabilitas global, sebuah “kemenangan kecil” yang menahan laju eskalasi perang.
Kini, harapan dunia tertumpu pada hasil negosiasi yang sedang berlangsung. Jika berhasil, “rem darurat” ini bukan hanya menunda konflik, tetapi bisa menjadi pintu menuju perdamaian yang lebih permanen.
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.
Presiden AS, Donald Trump, memberikan peringatan keras bahwa militer Amerika siap bertindak jika Iran tidak segera menyetujui kesepakatan baru.
Donald Trump meminta Iran untuk mengirim tim perunding ke Pakistan sebagai satu-satunya cara menghindari serangan militer. Ia merasa saat ini posisi Amerika jauh lebih unggul dalam negosiasi ini.
"Apa yang saya pikirkan adalah pertemuan ini (di Islamabad) akan berakhir dengan kesepakatan yang besar," ujar Trump kepada CNBC.
"Saya pikir kita berada dalam posisi negosiasi yang sangat kuat."
Trump menegaskan bahwa ia tidak tertarik untuk memperpanjang masa damai sementara (gencatan senjata).
Menurutnya, Iran harus segera mengambil keputusan karena waktu sudah sangat mendesak.
Jika tidak ada kesepakatan dalam waktu dekat, Trump mengisyaratkan serangan udara akan kembali dilakukan.
"I don't want to do that (perpanjangan masa gencatan senjata). Kita tidak punya banyak waktu," tegas Trump.
“Saya memerkirakan kami akan melakukan pengeboman, karena saya pikir, itu adalah sikap yang lebih baik untuk diambil dan kami siap berangkat. Maksud saya, militer kami sudah tidak sabar untuk bergerak."
Mendengar gertakan tersebut, pihak Iran menyatakan tidak akan mundur selangkah pun.
Kepala Kehakiman Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, menyebut bahwa Amerika sebenarnya sudah gagal mencapai tujuannya meskipun telah melakukan berbagai tekanan.
Iran juga mengecam tindakan AS yang memblokade pelabuhan dan menyita kapal-kapal dagang mereka di laut.
"Blokade rezim Amerika terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran, serta penyitaan kapal komersial Iran di perairan Laut Oman, adalah pelanggaran gencatan senjata dan contoh kejahatan perang," kata Ejei.
Militer Iran kini dalam kondisi siaga satu.
Mayor Jenderal Abdollahi menegaskan bahwa pasukannya siap membalas setiap serangan Amerika dengan cepat.
Ia juga mengingatkan bahwa Iran tetap memegang kendali atas Selat Hormuz, jalur laut paling penting di dunia untuk pengiriman minyak.
"Angkatan bersenjata tidak akan membiarkan penyalahgunaan atau narasi palsu dan menyesatkan tentang situasi di lapangan, terutama mengenai pengelolaan dan pengendalian Selat Hormuz," tegas Abdollahi.