Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Warga Kelurahan, Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Antonius Ruron mengeluhkan kenaikan harga elpiji yang dinilai tidak wajar.
Kenaikan harga elpiji tersebut memaksa mereka harus mengeluarkan anggaran tambahan yang tidak pernah diprediksi sebelumnya.
Antonius tidak setuju dengan kenaikan harga elpiji tersebut. Saat ini harga elpiji di Kota Kefamenanu mencapai Rp. 330.000. Sebelumnya, harga elpiji 12 kilogram dibeli dengan harga Rp. 260.000.
"Itu saja, saya beli sejak akhir Bulan Februari 2026 lalu. Kemungkinan harganya naik lagi," ujarnya, Rabu, 22 April 2026.
Pada Bulan Desember 2025 lalu, harga elpiji 12 kilogram masih berkisar Rp. 260.000. Harga tersebut dinilai masih berada pada titik wajar.
Ia menerangkan, kenaikan harga elpiji di Kabupaten TTU tidak pernah diinformasikan sebelumnya. Biasanya, elpiji tiba-tiba mengalami kelangkaan dan naik signifikan.
"Kalau beli ke distributor mereka bilang stok menipis jadi harganya naik," ungkapnya.
Antonius mengaku sudah 4 tahun menggunakan elpiji ukuran 12 kilogram untuk kebutuhan di dapur. Sampai detik ini harga tersebut terus melonjak.
Secara khusus di Kabupaten TTU, lanjutnya, nyaris tidak elpiji ukuran 5 kilogram. Oleh karena itu, mereka terpaksa membeli elpiji 12 kilogram.
Biasanya, elpiji tersebut digunakan dalam kurun waktu 4 bulan untuk kebutuhan di dapur. Kenaikan harga elpiji ini patut dipertanyakan karena berdampak pada peningkatan pengeluaran.
Ia juga mengaku kesal lantaran kenaikan elpiji tidak didahului oleh informasi sebelumnya. Tidak hanya itu, informasi tentang kenaikan harga elpiji juga mestinya diinformasikan beserta alasan-alasan mendasar.
Pemerintah biasanya menyampaikan informasi terlebih dahulu apabila ada kenaikan BBM. Semestinya, hal yang sama dilakukan terhadap elpiji.
"Karena elpiji ini sama seperti BBM karena sama-sama kebutuhan dasar juga," kata Antonius. (bbr)