Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Rencana penetapan pajak kendaraan listrik mendapat tanggapan beragam.
Pihak diler berharap pajak mobil listrik tidak terlalu membebani konsumen.
SPV Wuling Lampung, Erick, mengatakan, penetapan pajak kendaraan listrik berpotensi memengaruhi angka penjualan yang hingga kini masih tergolong kecil.
Menurut dia, pasar mobil listrik di Bandar Lampung belum sebesar di kota-kota besar seperti Jakarta.
Dalam satu bulan, penjualan unit baru masih terbatas.
“Market mobil listrik di Lampung itu belum besar. Dalam satu bulan paling hanya beberapa unit saja. Jauh dibandingkan Jakarta,” ujar Erick saat diwawancarai, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, jika kendaraan listrik dikenakan pajak, hal itu bisa berdampak langsung pada minat konsumen.
“Kalau dibebankan, tentu kita keberatan karena pasti berpengaruh ke penjualan. Dari awal kan salah satu daya tarik mobil listrik itu karena pajaknya diringankan,” jelasnya.
Selama ini, kata dia, pajak kendaraan bermotor (PKB) untuk mobil listrik di Lampung masih nol rupiah.
Sementara biaya yang dikenakan hanya pada komponen lain seperti sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan (SWDKLLJ yang nilainya relatif kecil.
“Kalau PKB masih nol, paling hanya SWDKLLJ di bawah Rp150 ribu. Itu saja,” katanya.
Erick mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah daerah terkait besaran pajak yang akan diberlakukan.
“Kita belum tahu berapa besar kenaikannya, masih menunggu keputusan pemda,” ujarnya.
Meski demikian, dia optimistis terhadap perkembangan kendaraan listrik di Lampung.
Ia menilai mobil listrik masih memiliki nilai lebih yang bisa menarik minat masyarakat.
“Kita tetap optimis, karena mobil listrik punya value tersendiri,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah tetap memberikan stimulus agar masyarakat tertarik beralih ke kendaraan listrik, terutama di tengah kondisi ekonomi yang dinilai cukup menantang.
“Kita dukung kontribusi ke daerah, tapi tetap butuh stimulus supaya masyarakat lebih mudah memiliki mobil listrik,” tambahnya.
Dari sisi penjualan, Erick menyebutkan market share Wuling di Lampung pada 2026 berada di kisaran 2,5 persen dengan penjualan 64 unit hingga awal tahun.
Rata-rata penjualan tercatat sekitar 32 unit per bulan, dengan rincian Januari 35 unit dan Februari 29 unit.
Sementara pada 2025, total penjualan Wuling mencapai 200 unit dengan rata-rata sekitar 17 unit per bulan.
Untuk kendaraan listrik sendiri, kontribusinya masih kecil, diperkirakan sekitar 1 persen dari market share.
Ia juga menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada pembahasan resmi antara pelaku usaha dengan pemerintah daerah terkait rencana kenaikan pajak kendaraan listrik.
“Belum ada undangan atau pembahasan. Harapannya kalau ada kebijakan, pelaku usaha bisa dilibatkan untuk memberi masukan,” tandasnya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)