TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Kabupaten Banyumas dipilih sebagai salah satu dari 20 Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) nasional.
Selain berstatus surplus beras, daerah ini dinilai memiliki modal kuat mengembangkan sistem pertanian terintegrasi.
Dengan menempatkan petani sebagai aktor utama dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.
Program pembangunan Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) mulai digulirkan sebagai bagian dari strategi besar pemerintah dalam mempercepat swasembada pangan, energi, dan air.
Project Director KSPP, Ignasius Blasius Popylus dari PT Agrinas Pangan Nusantara mengatakan, program ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden melalui Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2025.
Pada tahun 2026, PT Agrinas Pangan Nusantara sebagai BUMN yang ditunjuk langsung oleh Presiden menjalankan pembangunan 20 KSPP di berbagai wilayah Indonesia.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Banyumas menjadi salah satu daerah yang terpilih.
"Jadi kita berharap melalui KSPP itu kegiatan produksi pangan bisa dilaksanakan secara terintegrasi, kemudian melibatkan semua stakeholder yang ada di daerah secara optimal, terutama para petani," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (23/4/2026) usai audiensi dengan Pemkan Banyumas di Ruang Joko Kaiman, Pendopo Si Panji, Purwokerto.
Ia menegaskan, kolaborasi antara PT Agrinas Pangan Nusantara dengan pemerintah daerah menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
Dalam skema tersebut, petani tidak lagi diposisikan sebagai objek pembinaan, melainkan sebagai subjek utama dalam pembangunan sektor pertanian.
"Petani menjadi aktor utama dalam program pertanian.
Harapan kita pembinaan ini bukan hanya semata-mata menyejahterakan petani, tetapi petani lah yang menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia.
Kalau petani menyejahterakan, berarti petani itu sudah sejahtera," jelasnya.
Terkait pemilihan Banyumas, Popylus menyebut sejumlah faktor menjadi pertimbangan utama.
Selain lokasi yang strategis, Banyumas juga tercatat sebagai daerah dengan status surplus pangan, khususnya beras.
"Alasan kita memilih Banyumas yang pertama karena posisinya strategis.
Kemudian berdasarkan data, Banyumas ini juga salah satu daerah yang saat ini sedang berada dalam status surplus pangan, terutama beras," katanya.
Ia menambahkan, berbagai pengembangan yang telah dilakukan pemerintah daerah menjadi modal penting bagi implementasi program ini.
"KSPP ini sesungguhnya bukan dari atas, tapi memang dari sumber daya yang ada di daerah itu sendiri.
Jadi hadirnya kita hanya mengoptimalkan apa yang sudah ada di daerah, baik itu sumber daya manusia, sumber daya alam, maupun sumber daya masyarakat," lanjutnya.
Dalam pengembangannya, KSPP Banyumas akan difokuskan pada sektor pertanian padi dengan sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Program ini mencakup kegiatan farming, factory, hingga agribisnis dalam satu kesatuan sistem.
"Yang pertama tentu pertanian padi.
Kita akan melakukan kegiatan mulai dari hulu sampai hilir, dari farming, kemudian factory, termasuk agribisnis secara terintegrasi," ungkapnya.
Selain padi, pengembangan juga akan diarahkan pada komoditas lain seperti jagung dan kelapa, serta potensi pangan lainnya yang ada di daerah.
"Nanti sambil berjalan kita akan terus melaksanakan kajian, meminta masukan, kemudian kita akan mencoba," tambahnya.
Hal menarik lainnya, Banyumas dinilai memiliki potensi besar dari sisi keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian.
Fenomena ini menjadi catatan positif di tengah kekhawatiran minimnya regenerasi petani.
"Yang luar biasa itu partisipasi generasi muda, para petani milenial.
Baca juga: Kunjungan Kerja Dinilai Hanya Cara Habiskan Uang Rakyat, MPKN Desak DPRD Blora Hapus
Ini luar biasa, karena kita selalu mendengar bahwa saat ini para petani rata-rata usianya 45 tahun.
Ternyata di sini tidak," katanya.
Ia berharap, apa yang berkembang di Banyumas dapat menjadi inspirasi nasional dalam menghidupkan kembali semangat Indonesia sebagai negara agraris.
"Mudah-mudahan apa yang dikerjakan di Kabupaten Banyumas ini menjadi inspirasi bagi seluruh generasi muda di Indonesia untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara agraris," ujarnya.
Tak hanya itu, pengembangan KSPP juga akan melibatkan perguruan tinggi, salah satunya Universitas Jenderal Soedirman.
Di setiap kawasan KSPP nantinya akan dibangun pusat penelitian dan pengembangan.
"Sehingga itu menjadi sarana bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian, baik itu benih, alsintan, termasuk metode pertanian," jelasnya.
Hasil penelitian tersebut nantinya akan diterapkan langsung di kawasan KSPP untuk mendukung peningkatan produktivitas dan inovasi di sektor pertanian.
Terkait diversifikasi pangan, Popylus menyebut hal tersebut masih akan dikaji secara bertahap dan tidak dilakukan secara instan.
"Nanti kita lihat, karena itu tidak bisa serta-merta kita lakukan.
Dari proses yang kita jalankan, kita akan evaluasi bersama petani dan pemerintah daerah untuk menentukan langkah strategis," tandasnya. (jti)