Berkat Pelatihan Gratis, Suratini Ubah Nasib dari Buruh Jadi Pengusaha Batik
Robertus Didik Budiawan Cahyono April 23, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Kain batik yang menampilkan ragam motif menghiasi setiap sudut kediaman Suratini di Pinang Jaya, Kemiling, Bandar Lampung, Kamis (23/4/2026).

Ternyata rumah itu sekaligus tempat usaha batik Suratini. Dia mencoba hal baru dengan bekal ketekunan dan keberanian, serta kreativitas dalam mengusahakan produk batik miliknya.  

Batik Suratini mempunyai ciri khas dengan pewarna tabur dan pewarna alami sabut kelapa. Berbeda dari yang lain.

Suratini mengawali pekerjaan membatik setelah mengikuti pelatihan gratis sekitar tahun 2010.

Saat itu, dia mengawali belajar membatik dengan membagi waktu mengurus anaknya yang masih kecil. 

Baca juga: Batik Siger Lampung Berdayakan Pengrajin Disabilitas, Gunakan 70 Persen Bahan Alami

Ia tetap mengikuti pelatihan meski harus berjalan kaki beberapa kilometer ke tempat latihan menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi.

“Waktu itu saya ikut pelatihan di Batik Siger milik Bunda Una. Anak saya masih kecil, tapi saya tetap berusaha belajar karena saya pikir ini ilmu yang tidak akan habis dan juga untuk menambah pemasukkan,” ungkapnya Kamis (23/4/2026).

Setelah menyelesaikan pelatihan, Suratini bekerja sebagai perajin batik di tempat orang lain. Dari hasil kerjanya, ia mulai menyisihkan uang untuk membeli kain sendiri.

Setiap menerima upah, ia membeli selembar kain untuk dilatih secara mandiri di rumah. “Saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Dari situ saya berpikir, kalau saya bisa membuat sendiri, kenapa tidak mencoba membuka usaha sendiri,” katanya.

Keputusan besar itu akhirnya ia ambil pada tahun 2020. Dengan modal pengalaman dan keberanian, Suratini memulai usaha batiknya secara mandiri.

Meski awalnya penuh tantangan, ia tetap konsisten mengembangkan usahanya. Salah satu hal yang membuat batik Suratini berbeda adalah inovasi teknik dan bahan yang ia gunakan. 

Ia mengembangkan teknik cap menggunakan bahan sederhana seperti kertas bekas kotak susu yang dibentuk menjadi motif, kemudian ditempel dan digunakan sebagai alat cap. 

Ide ini ia dapatkan saat melakukan kunjungan ke sentra batik di Pulau Jawa. Selain itu, ia juga mengembangkan teknik pewarnaan unik yang disebut “tabur warna”. 

Dalam proses ini, bubuk pewarna ditaburkan langsung ke kain yang masih setengah basah, sehingga menghasilkan motif warna yang tidak pernah sama antara satu kain dengan kain lainnya.

“Ciri khas saya di tabur warna, tidak bisa sama hasilnya. Setiap kain pasti berbeda,” jelasnya.

Tak hanya itu, Suratini juga memanfaatkan bahan alami seperti sabut kelapa untuk menghasilkan warna alami. 

Sabut kelapa direbus hingga airnya menyusut, lalu digunakan sebagai bahan pewarna kain batik. 

Warya yang dihasilkan oleh sabut kelapa itu yaitu warna cream yang sangat diminati oleh masyarakat karena warnanya dominan soft.

Dalam proses produksi, Suratini masih mengerjakan semuanya sendiri dan dibantu oleh sang suami dan anak.

“Kalau suami saya membuat pola, saya membatik, anak-anak kadang membantu untuk mewarnai batik,” ungkapnya.

Dalam satu bulan, ia mampu menghasilkan lebih dari 10 lembar kain batik tergantung jumlah pemesanan dan tingkat kesulitan dari motif kain batik.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp.250.000-300.000 untuk kain batik cap dengan pewarna sintesis.

Sedangkan Rp.300.000- Rp. 600.000 untuk batik tulis serta untuk pewarna alami start from Rp.1 juta, tergantung jenis dan tingkat kesulitan.

Untuk pemasaran, ia aktif mengikuti bazar, pameran, hingga membuka lapak di berbagai acara. Meski penjualannya belum terlalu besar, rata-rata ia mampu menjual 4 hingga 5 kain per bulan dengan omzet sekitar Rp.1–2 juta.

“Kalau ada bazar atau pameran, saya langsung ikut. Itu cara saya memperkenalkan batik saya,” ujarnya.

Ke depan, Suratini berharap usahanya bisa terus berkembang. Ia memiliki impian untuk memiliki galeri batik sendiri seperti pelaku usaha lainnya, sekaligus memperluas jangkauan pasarnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.