AS Kewalahan! Ranjau di Selat Hormuz Tak Kunjung Bersih, Operasi Bisa Molor hingga 6 Bulan
Tiara Shelavie April 23, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat dilaporkan menghadapi tantangan besar dalam upaya membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz, dengan estimasi waktu pengerjaan yang bisa mencapai enam bulan.

Laporan yang mengutip dari laporan tiga pejabat Pentagon mengungkap operasi pembersihan kemungkinan baru akan dimulai setelah konflik antara AS dan Iran benar-benar berakhir.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Berdasarkan penilaian militer AS, Iran diduga telah menempatkan sedikitnya 20 ranjau di sekitar jalur pelayaran tersebut.

Beberapa ranjau disebut menggunakan teknologi berbasis GPS, yang memungkinkan penempatan jarak jauh dan membuat proses deteksi menjadi jauh lebih sulit.

Kondisi geografis Selat Hormuz menjadi salah satu tantangan tersulit. Jalur ini dikenal sempit namun sangat padat dilalui kapal tanker dan kapal dagang internasional. 

Situasi tersebut membuat proses penyisiran tidak bisa dilakukan secara cepat, karena setiap langkah harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari ledakan yang dapat membahayakan kapal lain.

Selain itu mengutip dari Anadolu, operasi pembersihan ranjau merupakan proses bertahap yang membutuhkan teknologi khusus, seperti kapal penyapu ranjau dan robot bawah laut. 

Setiap objek mencurigakan harus diperiksa satu per satu sebelum dinyatakan aman.  Proses ini memakan waktu karena tidak semua benda di laut adalah ranjau, namun tetap harus diverifikasi.

Lebih lanjut faktor keamanan juga menjadi alasan utama mengapa operasi ini tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Selama konflik dengan Iran belum sepenuhnya berakhir, ada risiko ranjau baru kembali dipasang. 

Hal ini membuat militer AS cenderung menunggu situasi lebih stabil sebelum melakukan pembersihan secara menyeluruh.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa sebagian ancaman telah ditangani. Namun di lapangan, para pejabat militer menilai kondisi masih belum sepenuhnya aman untuk operasi besar.

Baca juga: Selat Hormuz: Kisah ABK terapung 24 jam di laut setelah rudal menghantam kapal

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pembersihan ranjau di Selat Hormuz bukan sekadar tugas teknis, melainkan operasi kompleks yang melibatkan faktor militer, teknologi, dan keamanan kawasan. 

Dampak Ekonomi Global Mengintai

Dampaknya pun tidak hanya dirasakan di tingkat regional, tetapi juga berpotensi mempengaruhi stabilitas pasokan energi global.

Ranjau laut merupakan ancaman serius bagi kapal komersial maupun militer. 

Selain berisiko menimbulkan kerusakan besar, keberadaan ranjau juga dapat menghambat arus lalu lintas kapal di salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia.

Lamanya proses pembersihan ranjau memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan di Washington. 

Anggota parlemen dari Partai Demokrat maupun Republik bahkan merasa frustasi, karena situasi ini berpotensi memperpanjang dampak ekonomi dari konflik.

Jika jalur pelayaran terganggu dalam waktu lama, distribusi minyak global dapat terhambat. 

Akibatnya, harga minyak dan bahan bakar berpotensi terus mengalami kenaikan hingga akhir tahun.

Situasi di Selat Hormuz menunjukkan bahwa dampak konflik AS-Iran tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga merembet ke sektor ekonomi global. 

Proses pembersihan ranjau yang panjang dan kompleks berpotensi memperpanjang ketidakpastian, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pasar energi dunia.

Jika tidak segera ditangani, gangguan di jalur vital ini dapat memicu efek domino terhadap stabilitas ekonomi internasional, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk Persia.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.