TRIBUNTRENDS.COM - Di balik viralnya video yang memperlihatkan dirinya diledek siswa, tersimpan kisah ketulusan yang justru menyentuh banyak hati.
Sosok Syamsiah atau yang akrab disapa Bu Atun, bukan hanya seorang pengajar, tetapi potret nyata dedikasi dan empati dalam dunia pendidikan.
Pertemuannya dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membuka sisi lain kehidupannya sederhana, penuh makna, dan jauh dari kemewahan.
Setiap hari, Bu Atun memilih berangkat mengajar menggunakan angkutan kota (angkot), bukan kendaraan pribadi. Keputusan ini bukan tanpa alasan.
Baca juga: Kehidupan Bu Atun Guru Diolok Siswa, Dapat Rp 25 Juta dari Dedi Mulyadi tapi Donasikan ke Anak Yatim
Selain faktor keamanan, ia ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat yang ia ajarkan di kelas. Baginya, nilai “merakyat” bukan sekadar teori, melainkan harus dijalani.
"Enggak (pakai motor), khawatir naik motor. Dan melatih merakyat juga. Artinya menjiwai seperti apa sih," ungkapnya.
Lebih dari itu, ia juga tersentuh oleh keluhan para sopir angkot yang sepi penumpang. Dari situlah muncul empati yang ia praktikkan setiap hari.
Meski belum memiliki anak biologis, Bu Atun tidak pernah merasa sendiri. Baginya, seluruh siswa di sekolah adalah bagian dari keluarganya.
Ia mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai dan kasih sayang layaknya orangtua.
"Banyak anaknya, di SMA 1," ujarnya singkat, namun penuh makna.
Tak heran, ketika dirinya menjadi korban olok-olok, ia memilih jalan memaafkan. Bahkan sebelum para siswa meminta maaf, ia sudah lebih dulu membuka pintu maaf.
"Saya sangat memaafkan, supaya mereka menjadi anak-anak yang berakhlak, memahami kesalahan," tegasnya.
Kisah ketulusan itu mencapai puncaknya saat Bu Atun menerima bantuan uang tunai sebesar Rp 25 juta dari Dedi Mulyadi.
Alih-alih menggunakannya untuk kebutuhan pribadi, ia justru memilih untuk menyumbangkannya.
Uang tersebut akan diberikan kepada yayasan anak yatim yang selama ini ia bina di depan rumahnya.
"Saya niatkan niat baik bapak menjadi ganda. Rp 25 juta akan saya sumbangkan kepada yayasan yatim yang saya bina. Karena saya punya yayasan yatim di depan saya," ujarnya.
Baca juga: Tolak Jalur Hukum! Bu Atun Guru SMA 1 Purwakarta Pilih Doakan Siswa Meski Sempat Diolok-olok
Terkait sanksi yang diberikan kepada siswa berupa kerja sosial membersihkan lingkungan sekolah, Bu Atun melihatnya sebagai bagian dari proses pendidikan, bukan bentuk balas dendam.
Baginya, hukuman adalah cara untuk membentuk karakter, selama tetap dilandasi kasih sayang.
"Kalau itu memungkinkan menjadikan anak-anak menjadi lebih baik kenapa tidak?
Enggak apa-apa Pak bagus, tapi kasih sayang kita tetap, perlakukan dia sebagaimana dia manusia. Menghukum itu bukan membenci, menghukum itu menyayangi," pungkasnya.
Kisah Bu Atun menjadi pengingat bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai akademik, tetapi tentang membentuk manusia seutuhnya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan modern, ia hadir sebagai contoh nyata bahwa ketulusan, kesabaran, dan empati masih menjadi fondasi paling kuat dalam mendidik generasi masa depan.
***
(TribunTrends/kompas)