Cerpen: Di Hadapan Layar Kaca
Dion DB Putra April 23, 2026 06:32 PM

Oleh: Krisogonus Kusman *

POS-KUPANG.COM - Mentari pagi menyusup perlahan melalui celah-celah dinding bambu kamarku. Hangatnya menyapa kulitku dengan sentuhan lembut yang nyaris tak teraba. 

Aku terbangun, namun dingin yang menyelimuti kampung terus menggoda, membuatku enggan meninggalkan hangatnya balutan towe songke[1]. 

Ranjang kujadikan sandaran ternyaman bagi tubuh yang sedang diterpa letih. Aku lupa, hari ini sekolah dimulai lagi setelah liburan panjang membentang. 

Dulu, sejak kecil aku bercita-cita menjadi dokter yang bekerja di desa. Hal itu masih melekat erat di benakku, namun kini terasa begitu jauh. 

Bagaimana mungkin aku bisa menjadi dokter jika hari-hari hidupku selalu terbelenggu rasa malas? Barangkali, impian itu hanyalah ilusi belaka.

Baca juga: Cerpen: Kerasnya Dompet Coklat

"Ana! Bangun! Sekarang sudah jam enam lewat. Jangan sampai terlambat sekolah!" Suara ibuku menggelegar, menusuk kesunyian pagi dari balik pintu kamar.

"Iya bu...," gumamku dari ranjang, tapi aku masih meringkuk di dalam towe songke.

"Segera bangun, nak! Sarapan dan kopi sudah disiapkan. Cepatlah!" teriak ibuku lagi.

Teriakan itu mengguncang pendengaranku. Tanpa pikir panjang, aku melompat dari tempat tidur dan buru-buru merapikannya.

"Bu... sedikit lagi!"

Aku beranjak menuju kamar mandi, lokasinya tepat di sisi timur rumah. Air bak yang ditampung ibu semalam terasa dingin. Dinginnya menggigilkan tubuh. 

Di hadapan air bak, aku dilema; harus mandi atau tidak. Aku membuat semacam tebakan jari: mandi... tidak... mandi... tidak dan seterusnya. 

Pada akhirnya, aku memilih untuk mandi. Airnya terasa semakin dingin menusuk tulang.

"Ana, jangan terlalu lama! Nanti kamu terlambat ke sekolah," seru ibuku lagi.

"Iya bu... sedikit lagi selesai," jawabku sambil mengeringkan tubuh dengan handuk usang.

Seragam putih-abu yang tadinya kusut kini rapi membalut tubuhku. Di meja makan, nasi hangat, sayur kangkung, sepotong ikan kencara,[2] dan secangkir kopi luwak dari Manggarai menyambut kedatanganku. Aromanya merayu penciuman.

"Terima kasih, bu," kataku setelah tenggakkan pertama, sambil menenangkan gelora pagiku.

"Minum sampai habis. Biar hari ini kamu tambah semangat dan tidak kantuk di sekolah," kata ibu dari dekat tungku. Posisinya sedang membelakangiku.

“Siap... ibuku yang paling baik dan cantik,” balasku sedikit menghibur hatinya. Meskipun aku tahu, ibu tak membutuhkan rayuan semacam itu. Sekalipun aku menyakitinya, ia tetap memberikan yang terbaik bagiku.

“Kopi asli Manggarai, enak kan?”

"Iya, bu. Dari aromanya saja sudah cukup menjelaskan rasanya. Mungkin karena tidak dicampur pengawet, apalagi ditambah dengan takarannya yang pas. Aku semakin mencintai kopi buatan ibu," balasku. 

Berharap, ibu terus menyuguhkan kopi tiap pagi bagiku, seperti ritual cinta yang tak pernah lekang.

"Bu, aku berangkat dulu. Ani sudah menunggu di depan," kataku, lalu mencium tangannya.

"Hati-hati, nak," balas ibu saat aku berpaling dari rumah.

"Selamat pagi, Ani. Maaf agak telat,"

"Tidak apa-apa, Ana. Ponselmu-mu mana?"

"Ponsel? Bukankah kita tak diizinkan membawanya ke sekolah?"

“Kamu belum baca aturan terbaru dari sekolah?” tanya Ani.

“Aku belum baca. Sejak kapan?”

"Sejak pergantian kabinet. Menteri pendidikan mengizinkan siswa membawa ponsel ke sekolah. Semua materi pembelajaran nanti akan dikirim via email atau WhatsApp dalam bentuk PDF."

“Uihhh... bagus kalau begitu,”

“Bagus apanya? Justru itu yang menjadi tantangan bagi kita,” pungkas Ani. Jarinya menari-nari di layar kaca dengan mata terpaku. “Mulai sekarang, kita dituntut untuk tekun dan kreatif belajar mandiri,” tambahnya.

Aku hanya mengangguk, tapi hati bergumam: Apakah aku bisa memanfaatkan ponsel untuk keperluan sekolah dengan baik? 

Aku ragu karena selama ini, aku sering bermain TikTok dan jarang membaca buku. Tapi, mau bagaimana lagi, aturan pemerintah berkata demikian.

Setiba di kelas, jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas. Ibu Lina muncul di pintu.

"Pagi, anak-anak. Hari ini saya tidak bisa masuk kelas. Ada zoom dengan dinas pendidikan, tapi tugas saya sudah dikirim via email. Kerjakanlah di kelas selama jam pembelajaran saya, nanti saya cek." 

Selepas pesan itu, ia menghilang ke arah ruang guru.

"Yess... kita bebas. Tidak les!" teriak seorang teman dari tempat duduk paling belakang.

Guru yang tidak masuk kelas seolah menjadi kegembiraan tersendiri bagi kami sekelas. 

Kami sedikit bebas: bisa tidur, bermain, bercerita, dan lain-lain. Meskipun ada tugas yang harus segera diselesaikan.

"Kita disuruh kerja tugas. Jangan ribut," balas salah seorang teman yang lain.

"Daripada berdebat, kita ke kantin saja. Ajak dengan Sela," usul Ani. Wajahnya terlihat sudah jenuh untuk duduk di dalam kelas.

“Kita buat apa di kantin?” jawabku.

"Bagaimana kalau main TikTok sambil jajan?" Sela muncul dari belakang, memukul pundak kami dengan manja, seolah sudah membaca kejenuhan itu.

"Ide bagus!" jawab Ani penuh antusias. Aku pun mengikuti mereka, demi persahabatan.

Di kantin, lagu TikTok Tabola-Bale meledak heboh. Kami menari, meniru gaya gerakan para penari profesional, Om Silet Open Up dan kawan-kawan. 

Saking serunya menari, pulpenku terjatuh dari saku, tepat di kolong meja. Saat lagu selesai, aku mengambil pulpen itu, dan seketika mataku bertemu Ibu Lina. 

Rupanya ia mengawasi kami diam-diam seperti bayangan ranting pohon. Langkahnya berwibawa dan mulai mendekati kami.

"Ternyata kalian munafik. Saya menyuruh kalian kerja tugas di kelas, tapi kalian malah bermain TikTok di sini," tegurnya dengan nada pelan, sambil menggelengkan kepala. 

"Apakah kalian sudah mengecek tugas di email?"

Kami terdiam. Bibir kami terasa kaku untuk menjawab.

"Jelaskan, kenapa kalian bermain TikTok saat jam pelajaran?"

"Bu... kami jenuh di kelas," jawab kami serempak. Suara kami kaku seperti kambing yang kedinginan.

"Iya... saya paham kalian jenuh dengan tugas. Tapi waktunya yang salah. Kejadian ini bisa sangat fatal; bukan hanya diketahui kepala sekolah, tetapi juga dapat merusak masa depan kalian. Ponsel dibawa ke sekolah untuk kepentingan akademik, bukan untuk bermain TikTok. Cobalah... utamakan yang lebih berarti daripada yang sekadar hura-hura."

Ibu Lina hanya memberikan nasihat kepada kami. Ia tidak memberikan hukuman, meskipun raut wajahnya terpancar kemarahan. 

Setelah itu, Ibu Lina meninggalkan kami lalu kembali ke ruang guru. Aku tertunduk. Malu yang mendalam menyelimuti diriku atas ucapan Ibu Lina. 

Seandainya, kejadian ini diketahui ibuku di rumah, pasti rotan sudah melecut di bokongku.

“Sebaiknya kita kembali ke kelas,” ajakku, penuh ketakutan.

Kami bertiga pun melangkah menuju kelas. Setiba di kelas, teman-teman yang 
lain sibuk dengan ponselnya masing-masing. 

“Kamu les apa!” sebuah suara menggelegar dari pintu. Suara itu memecahkan kesunyian pikiran kami yang terpaku pada layar kaca. Bapak kepala sekolah muncul di hadapan kami.

“Kamu les dengan siapa,” tanyanya sekali lagi.

“Ibu Lina, pak,” jawab Ani.

Bapak kepala sekolah menyuruh Ani memanggil Ibu Lina di ruang guru. 

Ekspresinya penuh amarah ketika guru tak masuk kelas, lalu melihat kami tidak belajar tetapi malah bermain ponsel.

“Mau jadi apa kamu ini nanti,” ucapnya dengan kesal.

Di hadapan kami, ketika Ibu Lina tiba, ia langsung memarahinya. Ibu Lina tertunduk tanpa menjawab. Saking marahnya, bapak kepala sekolah mengancam Ibu 
Lina akan dipecat dari sekolah jika tidak bertanggung jawab untuk mengajar. 

Mendengar ancaman itu, Ibu Lina melinangkan air mata. Suasana saat itu seketika pecah berubah menjadi sedih.

Baca juga: Cerpen: Di Ujung Belis

“Maaf, pak. Tadi saya sudah memberi mereka tugas, karena saya ada zoom dengan dinas pendidikan. Bukan berarti saya tidak bertanggung jawab,” jawab Ibu Lina dengan suara pelan, berusaha menjelaskan alasannya mengapa ia tak masuk kelas.

Mendengar penjelasan Ibu Lina, bapak kepala sekolah memandang kami tanpa berkata-kata.

Aku pun merasa kasihan dan bersalah terhadap Ibu Lina. Padahal, ia sudah menegur kami, tapi kami tak mengindahkannya. Ia tak menghukum kami ketika bermain TikTok di kantin. 

Barangkali, ia takut terjerat hukum, karena sekolah menerapkan konsep sekolah ramah anak. Justru kebaikan itu, kami gunakan secara sewenang-wenang sehingga Ibu Lina dimarahi kepala sekolah. 

Keterangan:

[1] Towe songke: Kain tenun dari daerah Manggarai

[2] Ikan kencara: Sebutan dalam bahasa Manggarai untuk sejenis ikan.

Krisogonus Kusman
Krisogonus Kusman (DOKUMENTASI PRIBADI KRISOGONUS KUSMAN)

*) Krisogonus Kusman, biasa disapa Gonsi atau Gogon adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VI pada Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Selain sebagai mahasiswa, Gonsi atau Gogon merupakan seorang calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, Gonsi atau Gogon suka membaca dan menulis sastra, khususnya cerpen.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.