SURYA.co.id – Kabar mengejutkan soal klaim Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) yang disebut telah menguasai Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua, dipastikan tidak benar.
Pihak TNI melalui Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Lucky Avianto, langsung membantah keras informasi yang sempat viral di media sosial tersebut.
TNI menegaskan bahwa situasi keamanan di pusat kota Yahukimo masih sepenuhnya terkendali.
Aktivitas masyarakat berjalan normal tanpa gangguan berarti, sementara aparat keamanan tetap siaga menjaga stabilitas wilayah.
Publik pun diminta tidak mudah terpengaruh narasi propaganda yang sengaja disebarkan untuk menciptakan ketakutan.
"Saya pastikan isu dan teror, terutama klaim juru bicara (jubir) TPNPB-OPM, Sebby Sambom adalah hoaks. Kota Dekai, Jalan Gunung serta bandara sebagai penunjang aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang didampingi oleh TNI, tetap berjalan 24 jam seperti biasanya," kata Lucky, Rabu (22/4/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.
TNI memastikan bahwa Kota Dekai tetap berada dalam kendali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kondisi di lapangan menunjukkan aktivitas vital masyarakat berjalan seperti biasa, mulai dari operasional bandara, akses jalan utama, hingga kegiatan ekonomi warga.
Kehadiran aparat TNI yang melakukan pengamanan dan patroli rutin turut memastikan situasi tetap kondusif.
Tidak ditemukan tanda-tanda penguasaan wilayah oleh kelompok bersenjata seperti yang diklaim OPM.
Lucky juga menegaskan bahwa kedaulatan masyarakat Papua tidak akan goyah oleh upaya intimidasi melalui aksi teror dan ancaman.
Menurut TNI, klaim yang disebarkan TPNPB-OPM tidak disertai bukti valid di lapangan.
Narasi tersebut hanya beredar melalui video dan pesan di media sosial maupun grup percakapan, tanpa verifikasi langsung dari lokasi kejadian.
Lucky menilai, penyebaran informasi tersebut merupakan bentuk propaganda yang mencerminkan upaya putus asa kelompok tersebut untuk menciptakan ketakutan di tengah masyarakat.
"Meski KKB sebelumnya gencar menyebarkan ancaman serangan besar-besaran di Kabupaten Yahukimo, kenyataan di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang kontras," kata dia.
Ia menambahkan, kondisi nyata justru memperlihatkan masyarakat tetap beraktivitas normal dan tidak terpengaruh oleh isu yang beredar.
"Masyarakat Papua sudah tidak dapat lagi terhasut, apalagi takut pada teror KKB. Parameternya sederhana, lihat tingginya volume dan antusiasme warga menyambut Bapak Gibran di Yahukimo. Ini adalah bukti rakyat ingin pembangunan, bukan kekacauan," tegas Lucky.
TNI mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi, terutama yang berasal dari wilayah konflik.
Saat ini, aparat keamanan juga terus melakukan penelusuran terhadap sumber penyebaran propaganda tersebut guna mencegah eskalasi ketegangan yang lebih luas.
Situasi di Kota Dekai, Yahukimo, dipastikan tetap aman dan berada dalam pengawasan ketat aparat gabungan TNI dan Polri. Aktivitas masyarakat berjalan normal tanpa gangguan berarti.
Dalam kunjungannya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga mengapresiasi dedikasi aparat keamanan dalam menjaga stabilitas wilayah.
"Terima kasih kepada rekan-rekan TNI dan Polri yang telah mempertaruhkan segalanya untuk menjaga situasi tetap aman. Kunjungan ini bisa berjalan lancar adalah berkat dedikasi kalian di lapangan," ungkap Gibran.
Menghadapi perang informasi seperti saat ini, ketenangan masyarakat dan kemampuan memverifikasi data menjadi kunci utama agar tidak terjebak dalam skenario propaganda yang berpotensi merusak kedamaian di Papua.
Sebelumnya, stabilitas keamanan di Papua Pegunungan kembali menguat.
Dalam sebuah operasi taktis yang terukur dan presisi, Satuan Tugas (Satgas) Komando Operasi (Koops) TNI Habema berhasil menguasai markas utama Organisasi Papua Merdeka (OPM) KODAP XVI/Yahukimo.
Keberhasilan ini bukan sekadar capaian militer, tetapi langkah strategis untuk memutus rantai komando dan jalur logistik kelompok separatis bersenjata yang selama ini mengancam warga sipil.
Operasi yang berlangsung di kawasan Jalan Gunung, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, itu menandai babak penting dalam upaya negara menjaga kedaulatan sekaligus menghadirkan rasa aman di wilayah rawan konflik.
KODAP XVI/Yahukimo merupakan salah satu struktur penting dalam jaringan OPM di Papua Pegunungan.
Wilayah Yahukimo dikenal memiliki medan geografis yang sulit dan selama ini dimanfaatkan sebagai basis persembunyian, konsolidasi kekuatan, hingga distribusi logistik kelompok bersenjata.
Keberadaan markas KODAP XVI diyakini bukan hanya sebagai tempat singgah, tetapi juga pusat koordinasi berbagai aksi bersenjata.
Sejumlah insiden kekerasan di kawasan Jalan Gunung, mulai dari penembakan pesawat, penyerangan aparat, pembakaran fasilitas pendidikan, hingga ancaman terhadap warga sipil, kerap dikaitkan dengan aktivitas kelompok ini.
Karena itu, penguasaan markas OPM Yahukimo memiliki arti strategis dalam melemahkan struktur operasional OPM secara menyeluruh.
Operasi pengamanan dimulai sejak Rabu malam (21/1/2026) sebagai respons atas meningkatnya ancaman kelompok separatis bersenjata.
Dalam patroli tersebut, Satgas Koops TNI Habema melakukan infiltrasi ke dua titik yang diduga menjadi basis utama OPM, yakni Markas Sisibia dan Markas Yalenang.
Pada Kamis dini hari, pasukan TNI terlibat kontak tembak dengan kelompok OPM yang sedang berpatroli di sekitar lokasi.
Dari hasil operasi itu, beberapa anggota OPM KODAP XVI/Yahukimo dilaporkan tewas, termasuk salah satu tokoh penting kelompok tersebut.
Panglima Koops Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, menegaskan keberhasilan ini mencerminkan kesiapan prajurit di lapangan.
"Keberhasilan merebut dua markas OPM KODAP XVI/Yahukimo ini menunjukkan kesiapsiagaan dan profesionalisme prajurit TNI di medan operasi," kata Lucky dalam keterangannya, Sabtu (24/1/2026), dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.
Selain menguasai wilayah strategis, TNI juga mengamankan sejumlah senjata api, amunisi, alat komunikasi, perangkat navigasi, telepon genggam, senjata tajam, perlengkapan panah, hingga dokumen dan atribut OPM, termasuk bendera Bintang Kejora.
Penguasaan Jalan Gunung dinilai sebagai langkah taktis untuk memutus ruang gerak OPM. Jalur ini selama ini diduga menjadi lintasan logistik sekaligus akses mobilitas kelompok bersenjata.
"Penguasaan Jalan Gunung menjadi langkah strategis untuk memutus ruang gerak dan jalur logistik OPM serta menjamin keamanan masyarakat di wilayah Yahukimo," tegas Lucky.
Dengan dikuasainya jalur ini, aktivitas bersenjata OPM diharapkan melemah secara signifikan, sekaligus menurunkan potensi ancaman terhadap warga sipil.
Keberhasilan TNI merebut markas OPM Yahukimo membawa harapan baru bagi masyarakat setempat.
Selama ini, gangguan keamanan kerap menghambat distribusi logistik, pelayanan publik, hingga pembangunan infrastruktur dasar.
Lucky menyebut, operasi tersebut dapat berjalan aman dan terkendali berkat dukungan masyarakat.
Ke depan, TNI berharap situasi yang lebih kondusif akan membuka ruang bagi percepatan pembangunan dan pemulihan aktivitas sosial-ekonomi warga.
Dengan lumpuhnya pusat komando KODAP XVI Yahukimo, negara menegaskan kehadirannya, bukan hanya melalui kekuatan militer, tetapi juga lewat komitmen melindungi warga sipil dan memastikan Papua Pegunungan bergerak menuju masa depan yang lebih aman.