Kemenkes Ingatkan Pentingnya Kesehatan Mental Jemaah Haji 2026 di Tengah Cuaca Ekstrem
Maudy Asri Gita Utami April 24, 2026 05:30 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan bahwa kesiapan mental menjadi faktor krusial bagi jemaah haji dalam menjalankan ibadah secara khusyuk dan aman. 

Pendekatan yang tidak hanya berfokus pada fisik, tetapi juga aspek psikologis, dinilai penting mengingat kompleksitas tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan ibadah haji.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa penyelenggaraan haji tahun 2026 merupakan salah satu kegiatan spiritual terbesar di dunia, dengan jumlah jemaah mencapai lebih dari 1,8 juta orang dari berbagai negara. 

Dari total tersebut, sekitar 221 ribu berasal dari Indonesia, termasuk kurang lebih 11 ribu jemaah lanjut usia yang memiliki kerentanan lebih tinggi baik secara fisik maupun mental.

Ia menegaskan bahwa ibadah haji memang memiliki makna religius yang sangat mendalam, namun di sisi lain juga menghadirkan tekanan yang tidak ringan terhadap kesehatan jiwa.

Perubahan lingkungan yang drastis, kepadatan jutaan jemaah, serta aktivitas ibadah yang padat dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental jika tidak diantisipasi dengan baik.

• Jangan Asal Bangun! Ini Rutinitas Pagi Sehat yang Bisa Turunkan Risiko Penyakit dan Mati Muda

Berdasarkan data Kemenkes, sekitar 10 hingga 15 persen jemaah membutuhkan perhatian khusus terkait kondisi psikologis. 

Selain itu, sekitar 30 hingga 40 persen jemaah dilaporkan mengalami gangguan tidur, yang dipicu oleh perubahan ritme sirkadian serta jadwal ibadah yang sangat intens.

Data dari Balai Pengobatan Haji Indonesia juga menunjukkan bahwa kelompok lansia menjadi yang paling rentan. 

Bahkan, sekitar 80 persen pasien dengan gangguan mental yang dirawat menunjukkan gejala demensia, yang memerlukan penanganan khusus selama masa ibadah.

Selain faktor usia, kondisi lingkungan juga menjadi tantangan besar. Suhu udara di Makkah dilaporkan mencapai kisaran 35 hingga 38 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan rendah.

Kondisi Fisik Jamaah

Situasi ini berpotensi menyebabkan dehidrasi, kelelahan fisik, serta memperburuk kualitas tidur jemaah.

Tak hanya itu, kebijakan terbaru dari Pemerintah Arab Saudi terkait pengaturan visa, pembatasan akses ke wilayah tertentu, serta kewajiban penggunaan aplikasi digital seperti Nusuk turut menjadi sumber tekanan tambahan, khususnya bagi jemaah yang belum terbiasa dengan teknologi digital.

Rangkaian ibadah seperti tawaf dan sa’i yang dilakukan secara intens juga dapat memicu kelelahan emosional. 

Sementara itu, fase kepulangan setelah menjalani pengalaman spiritual yang mendalam menuntut jemaah untuk kembali beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari, yang tidak jarang menimbulkan perasaan kosong atau kelelahan mental.

Faktor lain seperti perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, hingga interaksi dalam kerumunan besar juga dapat memicu rasa tidak nyaman, frustrasi, bahkan perasaan terisolasi bagi sebagian jemaah.

Imran menekankan bahwa seluruh kondisi tersebut menunjukkan pentingnya persiapan mental yang matang, termasuk pengelolaan ekspektasi sebelum berangkat. 

• Waspada, Kebiasaan BAB Ternyata Jadi Kunci Penting Deteksi Kesehatan Tubuh

Dengan kesiapan psikologis yang baik, jemaah diharapkan mampu menghadapi berbagai dinamika selama ibadah dengan lebih tenang, tanpa terbebani tekanan yang berlebihan.

Untuk menghadapinya, diperlukan pendekatan holistik. Konseling pra-keberangkatan yang menyertaan pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah dengan waktu istirahat yang cukup, serta perhatian pada hidrasi serta nutrisi menjadi strategi utama.

"Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius," tutupnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.