TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kebijakan sterilisasi kendaraan besar di kawasan Sumbu Filosofi, termasuk di ruas Jalan Panembahan Senopati, sedikit banyak mengubah peta pariwisata Kota Yogyakarta.
Salah satu yang paling terdampak adalah destinasi edukasi andalan Taman Pintar Yogyakarta, yang diprediksi mengalami tren penurunan angka kunjungan, dan berujung pada merosotnya pendapatan daerah.
Bukan tanpa alasan, imbas dari kebijakan tersebut adalah penutupan akses untuk bus pariwisata berukuran besar di Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati yang lokasinya tepat di seberang Taman Pintar.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengungkapkan, dalam skenario paling pesimistis, pendapatan Taman Pintar yang semula mampu meraup Rp16 miliar, terancam terjun bebas ke angka Rp6 miliar saja.
"Kalau hitungannya (potensi penurunan) bisa besar itu. Dari (proyeksi) Rp16 miliar, kemarin teman-teman buat skenario pesimistis itu bisa tinggal Rp6 miliar," ujarnya, Jumat (24/4/26).
Meski demikian, orang nomor satu di Kota Yogyakarta itu menegaskan, bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat potensi kerugian hingga Rp10 miliar tersebut.
Sejumlah strategi darurat telah disiapkan agar rombongan wisatawan, terutama yang menggunakan bus besar, tetap bisa mengakses Taman Pintar dengan nyaman.
Guna menyiasati larangan melintas di Jalan Panembahan Senopati, Hasto menyebut pihaknya sudah menetapkan skenario pengalihan arus dan lokasi parkir.
Bus pariwisata yang membawa rombongan menuju Taman Pintar kini diarahkan untuk parkir di beberapa titik penyangga, seperti TKP Kotabaru di lahan eks Menara Kopi.
Namun, untuk memudahkan wisatawan Taman Pintar supaya tidak berjalan terlalu jauh, skenario drop-off atau penurunan penumpang menjadi kunci utama.
"Kita berikan guidance. Bus yang mau ke Taman Pintar kita arahkan parkir di Menara Kopi. Tapi untuk menurunkannya, tetap kita upayakan dekat di situ (Taman Pintar)," jelasnya.
"Dari perempatan Gondomanan ke utara, nanti ada gang masuk. Bus bisa berhenti di situ sebentar untuk drop penumpang, lalu mereka tinggal jalan sedikit masuk ke Taman Pintar," tambah Hasto.
Menurutnya, pola ini cukup realistis mengingat rombongan bus yang menuju Taman Pintar biasanya tidak datang dalam jumlah massal yang bersamaan secara ekstrem.
Pemerintah kota optimistis, dengan sosialisasi masif dan penetapan titik drop zone yang tepat, penurunan pendapatan tidak akan sedalam estimasi pesimistis yang sempat muncul.
"Insyaallah tidak sampai turun sebanyak estimasi pesimistis itu. Skenario ini sudah saya tetapkan untuk mempertahankan minat pengunjung ke Taman Pintar," pungkas Wali Kota.