TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Dedie Rachim menyinggung sampah tusuk bambu untuk makanan yang dinilai kerap memakan korban petugas sampah.
Apalagi jika sampah tusuk makanan ini kerap bercampur dengan sampah-sampah lainnya ketika dibuang.
Hal itu Dedie katakan ketika dia bertemu petugas sampah di Lapangan Bansus RT 03/10, Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jumat (24/4/2026).
Dedie menemui satu pria petugas sampah di kawasan tersebut yang bernama Pak Elo.
"Pak Elo udah lama ngurus sampah pak ?," tanya Dedie Rachim.
"Lama pak," jawan Pak Elo.
"Apa pengalaman bapak yang paling serem apa ?," tanya Dedie lagi.
Kemudian dijelaskan bahwa tusuk bambu makanan seperti tusuk sate, tusuk cilok dan sejenisnya dianggap jadi sampah berbahaya.
"Jadi yang paling berdosa itu tukang cilok ya, sate, karena tusuk satenya tuh banyak korban," kata Dedie.
"Tukang cilok, tusuk sate, termasuk bapak korban ya," sambung Dedie.
Pak Elo merespon pertanyaan Dedie dengan anggukan kepala sambil tersenyum.
"Kepada para tukang cilok ya, kalau tusuk satenya dikumpulin mengorbankan banyak orang," kata Dedie.
"Loba nu kacugak (banyak yang tertusuk), loba nu raheut (banyak yang tersayat), kasihan, salah satunya korbannya beliau," kata Dedie.
Dalam kunjungan tersebut, terpantau Dedie melihat langsung pemilahan sampah oleh warga dan relawan di RW 10 Situgede.
Seperti pemilahan sampah berdasarkan jenis material dan jenis ketagori yang bisa diolah oleh warga di wilayah atau hanya bisa diolah oleh Dinas Lingkungah Hidup.
"Jadi ditimbang mana yang bisa bermanfaat, mana yang sudah jadi residu. Ini merupakan bagian dari pembelajaran semua warga ya," katanya.
"Untuk mulai melaksnakan pemilahan sampah lebih efektif, mudah-mudahan ikhtiarnya maksimal ya," ungkap Dedie Rachim.
Apalagi nanti, kata Dedie, bakal ada pembangkit listrik tenaga sampah di Bogor, sehingga sampahnya harus terpilah.