Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) Kembang Seri I, Jumat (24/4/2026), menyusul dugaan keracunan yang menimpa 9 siswa.
Sidak dilakukan oleh jajaran Pemkab, dipimpin dua asisten Setdakab bersama sejumlah kepala OPD, serta didampingi pihak SPPG Bengkulu Tengah.
Kegiatan diawali dengan diskusi, lalu dilanjutkan peninjauan langsung ke area produksi, mulai dari bahan baku, proses memasak hingga pengemasan makanan.
Asisten II Setdakab Bengkulu Tengah, Nurul Iwan Setiawan, mengatakan sidak ini dilakukan sebagai tindak lanjut atas kejadian yang menimpa siswa SMPN 3 dan SDN 1 Bengkulu Tengah sehari sebelumnya.
“Sehubungan dengan adanya kejadian dugaan keracunan MBG di Bengkulu Tengah yang terjadi di SMPN 3 dan SDN 1 pada Kamis kemarin, hari ini kami dari Pemkab bersama BGN dan SPPG melakukan inspeksi ke dapur SPPG Kembang Seri I,” ujarnya.
Penyebab pasti kejadian masih dalam proses analisis laboratorium sehingga semua pihak diminta tidak berspekulasi.
“Kita berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Untuk penyebabnya masih dalam analisa di laboratorium BPOM, jadi kita tidak boleh berandai-andai,” jelasnya.
Baca juga: SPPG Disuspen Sementara Usai Dugaan Keracunan MBG di Bengkulu Tengah, Tunggu Hasil Lab
Nurul menambahkan, kejadian ini telah dilaporkan ke Pemerintah Provinsi Bengkulu dan juga ke Badan Gizi Nasional (BGN) pusat.
“Kami sudah menyampaikan laporan ke Gubernur Bengkulu dan ke BGN pusat. Bahkan hari ini Pak Sekda langsung menyampaikan ke BGN pusat,” katanya.
Pemkab juga berencana menggelar rapat evaluasi menyeluruh bersama seluruh penyelenggara SPPG di Bengkulu Tengah pada pekan depan.
Sementara itu, jumlah korban dilaporkan bertambah menjadi 9 orang.
“Kalau kemarin korban kita ada 8, tadi malam bertambah satu. Kita masih terus memonitor kalau ada perkembangan lanjutan,” tambahnya.
Ia memastikan, seluruh biaya pengobatan korban menjadi tanggung jawab pihak penyelenggara MBG.
“Sepenuhnya ini menjadi tanggung jawab SPPG untuk pengobatan, tidak dibebankan ke masing-masing murid, dan mereka sudah menyanggupi,” tegasnya.
Di sisi lain, Koordinator SPPG Wilayah Bengkulu Tengah Roni Vidiansyah menyampaikan bahwa dapur MBG tersebut resmi disuspensi sementara.
“Sudah keluar surat penghentian sementara atau suspend, sampai menunggu hasil investigasi dan hasil laboratorium,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, keputusan lanjutan terhadap operasional SPPG akan menjadi kewenangan pihak pusat, tergantung hasil investigasi.
“Kalau nanti terbukti ada kelalaian, itu kewenangan pusat untuk menentukan apakah suspend dilanjutkan atau ada keputusan lain,” jelasnya.
Selama masa penghentian operasional, aktivitas dapur berhenti total, termasuk para relawan yang bekerja di dalamnya.
“Kalau dapur berhenti, semua operasional berhenti. Relawan diliburkan karena sistemnya harian, jadi saat libur mereka tidak menerima gaji,” ujarnya.
Roni juga tidak menutup kemungkinan adanya sanksi berat jika terbukti terjadi pelanggaran prosedur.
“Kalau terbukti ada SOP yang dilanggar, sanksi terberatnya SPPG ini bisa dicabut,” tegasnya.
Terkait penyebab pasti, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan maupun sampel muntahan korban.
“Sampel makanan dan muntahan sudah diambil. Saat ini kita masih menunggu hasil uji laboratorium,” pungkasnya.
Kasus ini masih dalam penanganan dan pengawasan intensif oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait guna memastikan keamanan program MBG ke depan.
Sebanyak 8 siswa di Kabupaten Bengkulu Tengah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (23/4/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Bengkulu Tengah, Barti Hasibuan, mengatakan pihaknya bersama unsur pemerintah daerah telah turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi para korban.
“Betul, kita sudah melakukan monitoring dan mengecek langsung di lapangan. Ada 7 orang siswa SMP 3 Bengkulu Tengah dan 1 orang siswi SDN 1 Bengkulu Tengah yang terindikasi keracunan,” Ujar Barti saat diwawancarai di klinik kesehatan.
Ia menjelaskan, para siswa mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan dari dapur SPPG, seperti mual dan muntah.
“Setelah mereka makan, muncul gejala mual dan muntah. Pihak sekolah langsung mengantisipasi dengan membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan terdekat,” jelasnya.
Selain itu, pihak sekolah juga segera menghentikan konsumsi makanan oleh siswa lain untuk mencegah bertambahnya korban.
“Langsung diantisipasi agar makanan yang tersisa tidak lagi dikonsumsi oleh siswa lainnya,” tambahnya.
Dari total 8 korban, sebanyak 3 siswa sempat mendapatkan penanganan lebih lanjut dengan infus. Namun saat ini seluruhnya dilaporkan dalam kondisi membaik.
“Alhamdulillah sekarang mungkin semua sudah pulih. Memang ada 3 orang yang harus diinfus, tapi kondisinya sudah baik,” ungkap Barti.
Meski demikian, pihak Dinas Kesehatan masih terus melakukan observasi guna mengantisipasi kemungkinan munculnya gejala lanjutan.
Di sisi lain, pengawasan juga diperluas ke sekolah-sekolah lain yang menerima makanan dari sumber yang sama. Diketahui, distribusi MBG tidak hanya menyasar satu sekolah.
“Kita sekarang sedang melakukan pemantauan ke sekolah-sekolah penerima manfaat lainnya. Makanan yang sama juga didistribusikan ke SMA, SD, PAUD, dan kategori 3B,” jelasnya.
Untuk memastikan penyebab kejadian, sampel makanan telah diambil dan akan diuji oleh BPOM.
“Kita juga sudah mengambil sampel makanan untuk dilakukan pengecekan ke BPOM, nanti kita lihat hasilnya seperti apa,” katanya.
Terkait pengawasan ke depan, Barti menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang.
“Selama ini kita sudah koordinasi dan punya satgas. Ke depan koordinasi ini akan lebih kita intensifkan lagi, lebih kita kuatkan lagi antara seluruh stakeholder,” tutupny