Verra Hemat BBM dan Biaya Parkir Hampir Rp 5 Juta Pertahun Berkat Tiap Hari Bersepeda
Ignatia Andra April 24, 2026 10:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Penghematan lebih dari Rp 5 juta ternyata bisa diraih oleh seorang warga dari Kota Malang baru-baru ini.

Warga tersebut menceritakan bagaimana dirinya bisa menghemat biaya hingga jutaan rupiah dengan cara kemana-mana bersepeda.

Seorang warga Kota Malang, Verra Kusuma, memilih meninggalkan sepeda motor dan beralih ke sepeda selama dua tahun terakhir hingga mampu menghemat lebih dari Rp 5 juta per tahun dari biaya transportasi harian.

Keputusan itu berawal dari keresahannya terhadap antrean bahan bakar minyak (BBM) yang kerap mengular dan menyita waktu.

Dari situ, Verra mulai mempertanyakan ketergantungannya pada kendaraan bermotor.

“Awalnya saya merasa kenapa harus menghabiskan waktu untuk antre BBM. Dari situ kepikiran, ada enggak sih transportasi lain yang enggak perlu antre? Akhirnya saya pilih sepeda,” ujar Verra kepada Kompas.com, Jumat (24/4/2026), dikutip TribunJatim.com.

Harga BBM non-subsidi naik

Kenaikan harga BBM non-subsidi semakin menguatkan keputusannya.

Ia mengaku kini tidak lagi terbebanj soal ketersediaan bahan bakar.

“Sekarang saya sudah enggak mikir lagi bensin masih ada atau enggak. Itu sangat meringankan dan bikin perjalanan lebih nyaman,” katanya.

Dari sisi pengeluaran, Verra menghitung biaya operasional kendaraan bermotor yang sebelumnya cukup besar.

Dalam setahun, ia memperkirakan kebutuhan BBM mencapai sekitar Rp 2,3 juta, ditambah biaya servis Rp 900.000, penggantian ban Rp 628.000, sparepart Rp 700.000, serta biaya parkir harian yang jika diakumulasikan lebih dari Rp 1 juta per tahun.

“Kalau ditotal, itu besar sekali. Sementara kalau pakai sepeda, parkir sering gratis. Jadi penghematan terasa banget,” jelasnya.

Baca juga: Ratusan Ojol di Malang Antre BBM Gratis dari Pemprov Jatim, Gubernur Khofifah Turun Langsung

Tak sendirian

Keputusan bersepeda juga didukung oleh sang suami.

Keduanya bahkan sepakat untuk tidak lagi menggunakan sepeda motor dan mengandalkan sepeda sebagai transportasi utama sehari-hari.

“Kami sudah dua tahun ini bersepeda bareng. Motor kami titipkan di rumah orangtua karena merasa belum butuh karena kita lebih nyaman dengan sepeda,” ungkapnya.

Harus disiplin

Meski demikian, Verra mengakui ada tantangan yang harus dihadapi, terutama soal manajemen waktu dan kondisi cuaca.

Dibandingkan menggunakan sepeda motor, perjalanan dengan sepeda membutuhkan waktu jauh lebih lama.

“Kalau janji jam satu, harus berangkat lebih awal, bisa setengah jam sebelumnya. Jadi memang harus disiplin,” katanya.

Menurutnya, proses adaptasi tidak instan.

Ia membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan hingga benar-benar terbiasa dengan rutinitas baru tersebut.

“Seminggu pertama itu berat, tapi masuk minggu kedua mulai terasa enak. Kita jadi lebih sadar lingkungan sekitar, bisa lihat hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat,” ujarnya.

Banyak manfaat

Selain hemat biaya, Verra merasakan manfaat lain dari bersepeda, termasuk meningkatnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

Ia berharap pemerintah dapat lebih serius dalam membangun infrastruktur ramah pesepeda agar semakin banyak masyarakat yang tertarik beralih ke transportasi alternatif di Kota Malang.

“Agar efesiensi ini bisa dirasakan oleh masyarakat, ada syarat mutlak yang harus diseriusin pemerintah yakni dengan berbenah soal infrastruktur jalannya,” pungkas Verra.

Siswa diminta bersepeda

Inisiatif menggunakan sepeda untuk jadi alat transportasi tampaknya mulai terus menjamur di Indonesia.

Upaya menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mulai digencarkan di lingkungan sekolah di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah setempat mengajak seluruh satuan pendidikan membangun kebiasaan hemat energi sebagai bagian dari pendidikan karakter siswa.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur wilayah Sampang, Mashudi Hadiwijaya, mengatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada sekolah-sekolah untuk menerapkan pola penggunaan energi secara lebih efisien.

Langkah tersebut tidak hanya berfokus pada pengurangan penggunaan BBM, tetapi juga mencakup efisiensi listrik dalam aktivitas belajar mengajar.

"Kami mendorong sekolah untuk membiasakan perilaku hemat energi, mulai dari hal sederhana seperti mematikan listrik saat tidak digunakan hingga mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor," ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Baca juga: Pelatih Borneo FC Optimistis Menang di Kandang Madura United, Selalu Menang 3 Pertemuan Terakhir

Menurutnya, lingkungan sekolah menjadi tempat strategis untuk menanamkan kesadaran sejak dini terkait pentingnya pengelolaan energi.

"Dengan pembiasaan, kami berharap siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Sejumlah sekolah pun mulai menerapkan kebijakan serupa. 

Kepala SMKN 1 Sampang, Suherman, menyampaikan pihaknya aktif mengedukasi siswa agar lebih bijak dalam penggunaan energi, khususnya BBM.

Siswa yang tinggal dekat sekolah dianjurkan berjalan kaki atau bersepeda, sementara yang menggunakan sepeda motor diminta untuk berboncengan guna mengurangi konsumsi bahan bakar.

"Langkah ini tidak hanya untuk penghematan, tetapi juga sebagai edukasi agar siswa terbiasa hidup efisien dan peduli lingkungan," pungkasnya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.