Strategi Investasi Emas di Tengah Gejolak Perang AS-Iran, Begini Metodenya
Kamardi Fatih April 24, 2026 10:50 PM

Strategi Investasi Emas di Tengah Gejolak Perang AS-Iran, Begini Metodenya 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Mulai 2020 sampai sekarang  harganya emas naik turun, apalagi dalam situasi perang antara Amerika Serikat plus Israel versus Iran juga jadi pemicu fluktuasi harga emas. Kondisi ini juga memicu masyarakat dunia berbondong-bondong berinvestasi emas.

Rista Zwestika CFP, perencana keuangan, memaparkan, berdasarkan data history harga emas sejak Covid 2020-2022 harganya masih Rp 800 ribu per gram, kemudian bergerak naik Rp 1,2 juta hingga Rp 1,7 juta.

"Di Butik Antam di Jakarta, masyarakat antre untuk beli logam mulia ini, bahkan sejak subuh," kata Rista saat menjadi salah satu narasumber pada acara A Golden Moment Amidst Uncertainty yang digelar PT Bank Syariah Indonesia (BSI) di Hotel Galaxy Banjarmasin, Rabu (22/4/2026) malam.

Ditegaskan Rista, emas adalah salah satu portofolio investasi yang bisa membuat keuangan kita itu menjadi lebih kokoh.

"Kita butuh aset yang tidak terpengaruh inflasi yaitu emas. Memang emas sempat di angka tertinggi Rp 3,4 juta per gram, sekarang Rp 2,83 juta. Bagaimana strateginya untuk berinvestasi emas itu?" ujar Rista.

Perlu diperhatikan adalah prinsip dasar beli emas itu untuk investasi jangka panjang, sebab harga emas naik rata-rata 6-8 persen per tahun dalam kurun 20 tahun terakhir ini.

"Misal, beli saat harga Rp 3 juta per gram, sekarang Rp 2.830.000 per gram anggapan sudah rugi. Bukan itu, ingat prinsipnya ini sedang tidak trading, tetapi emas itu untuk jangka panjang," jelasnya.

Bagi yang beli emas pada 2020 dengan harga Rp 800.000 per gram sekarang dengan angka Rp 2.830.000 berarti, perjalanan waktunya sudah untung Rp 2 juta per gram dalam jangka waktu kurang lebih 3-4 tahun.

"Jadi kalau misalnya harganya turun harganya naik, tidak usah panik karena, dasar emas itu jangka panjang, bukan untuk jangka pendek," ujarnya.

Kedua, gunakan strategi rutin, beli sedikit demi sedikit agar tidak terjebak harga puncak.

"Kalau mau beli emas itu saat punya anggaran, misalnya mau nabung kurang lebih Rp1 juta tiap bulan tidak apa-apa, lakukan beli setiap ada uang, tidak usah lihat harganya di angka berapa," saran Rista.

Ketiga, diversifikasi bentuk investasi emas, baik fisik, digital, fasilitas ini tersedia di BSI yang memiliki program nabung emas atau investasi reksadana emas syariah.

"Ke empat membeli emas pastikan legalitas dan keaslian emas dari lembaga resmi antara lain Antam, BSI Gold, Pegadaian atau lembaga berizin OJK," pesan Rista.

Emas berperan bukan sebagai sumber keuntungan tertinggi, tapi sebagai pelindung nilai chedging asset terhadap Inflasi dan pelemahan mata uang.

Diversifikasi portofolio karena emas punya korelasi rendah dengan saham dan obligasi. Emas juga penyimpan kekayaan jangka panjang store of value untuk menjaga daya beli antar generasi.

Pada Talkshow yang dipandu Razif Ankolfi, Wealth Specialist itu, acara dibuka Ida Triana Widowati, SEVP Funding & Transaction Tentative) PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) itu. Selain itu narasumber lainnya Riko Wardhana, Bullion Banking Group Head.

Pada talkshow tersebut hadir pula Wakil Gubernur Kalsel Hasnuryadi, yang menyambut positif kegiatan BSI apalagi saat Talkshow sangat menarik membahasnya terkait investasi emas. "Semoga ini menjadi semangat semua untuk melakukan perencanaan keuangan yang baik. Hingga di masa pensiun bekerja masih bisa memiliki keuangan," ucapnya. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.