Oleh: Suryan Masrin - Penikmat dan Pemerhati Manuskrip, PAEI Komda Sumatera-Kalimantan
DI tengah riuhnya perdebatan keagamaan hari ini, kita sering lupa bahwa Islam di banyak daerah justru tumbuh melalui jalan yang tenang. Tidak dengan benturan, apalagi pemaksaan, tetapi melalui pendekatan yang perlahan dan membumi.
Di Bangka Barat, khususnya di tanah Jerieng, pelajaran itu dapat kita temukan pada sosok Haji Batin Sulaiman. Nama ini mungkin tidak terlalu dikenal dalam narasi besar sejarah Islam Nusantara. Namun di tingkat lokal, ia adalah figur penting yang membentuk wajah keberagamaan masyarakat hingga hari ini. Ia bukan hanya pemimpin adat, tetapi juga guru yang membimbing masyarakat dalam memahami Islam tanpa harus tercerabut dari akar budayanya.
Haji Batin Sulaiman, yang memiliki nama asli Batin Rimbun, diperkirakan hidup antara abad ke-19 hingga awal abad ke-20 (sekitar 1820–1920). Ia berasal dari latar belakang keluarga yang unik, yakni keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam. Ayahnya, Chao Tungit, merupakan seorang pendatang yang datang ke Bangka pada masa kolonial Belanda dan kemudian menetap di wilayah Ibul sebelum keluarganya berpindah ke Peradong.
Dalam perjalanan hidupnya, Batin Rimbun diangkat menjadi pemimpin adat (batin), sebuah posisi penting dalam struktur masyarakat Jerieng. Dalam konteks masyarakat lokal, “batin” tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin administratif, tetapi juga sebagai figur spiritual dan penjaga keseimbangan sosial-budaya.
Yang menarik, Haji Batin Sulaiman tidak berdakwah di ruang kosong. Ia hadir di tengah masyarakat yang telah memiliki tradisi dan kepercayaan yang kuat. Dalam situasi seperti itu, pilihan pendekatan menjadi sangat menentukan: apakah akan memaksa perubahan secara cepat atau membangun kesadaran secara perlahan.
Alih-alih menolak tradisi yang sudah ada, Haji Batin Sulaiman justru merangkulnya. Ia tidak menghakimi, tetapi mengajak. Ia tidak memaksakan, tetapi memberi pemahaman. Pendekatan ini mungkin tidak menghasilkan perubahan yang instan, tetapi justru menciptakan fondasi yang lebih kuat.
Tidak mengherankan jika Islam kemudian tumbuh sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sebagai sesuatu yang terasa asing. Nilai-nilai keislaman hadir berdampingan dengan budaya lokal, menciptakan harmoni yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang, terutama di wilayah seperti Peradong.
Cerita yang diwariskan secara lisan di masyarakat juga memperkuat gambaran ini. Haji Batin Sulaiman mengajarkan Islam secara perlahan, tanpa paksaan, sehingga masyarakat menerima dengan kesadaran sendiri. Hubungan antara adat dan agama tetap berjalan beriringan tanpa pertentangan. Fakta ini menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu ditentukan oleh kerasnya suara atau cepatnya perubahan, tetapi oleh kedalaman penerimaan masyarakat.
Tidak hanya melalui dakwah lisan, Haji Batin Sulaiman juga meninggalkan jejak melalui tulisan. Kitab Permulaan Sembahyang menjadi salah satu bukti bagaimana ia berusaha menyederhanakan ajaran Islam agar mudah dipahami. Ia tidak menulis untuk kalangan elite, tetapi untuk masyarakatnya sendiri.
Selain kitab Permulaan Sembahyang (yang ditulis tahun 1915), ada beberapa kitab lain yang menjadi karya Haji Batin Sulaiman, yakni pertama, Syair Tsani, semacam rangkuman yang digubah dalam bentuk syair dari kitab karangan Syekh Nuruddin Ar Raniry Aceh yang berjudul Asrar al Insan. Syair ini selesai disalin di kampung Peradong tanpa adanya keterangan angka tahun.
Kedua. Pahala Membaca dan Makna Huruf Fatihah, kitab ini secara khusus tidak ada judul, namun demikian penulis memberikan judul berdasarkan kandungan isi dalam kitab tersebut. Kitab selesai disalin pada tahun 1327 Hijriah, jika dikonversikan ke masehi + tahun 1909, dan tanpa ada keterangan tempat.
Ketiga, Kitab Nuqil yang kecil tempat permulaan berlajar ugama Islam mendirikan sembahyang yang lima waktu di dalam sehari semalam yang kemudian penulis ringkas dengan judul Kitab Permulaan Sembahyang. Kitab ini selesai di Mentok pada hari Rabu tanggal 9 Ramadan 1333 H (jika dikonversi ke masehi berangka tahun 1915).
Keempat, Terjemah Hadits Nabi “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”. Karya ini tidak diketahui selesai di mana, hanya saja di dalam naskah tertulis angka tahun 1316, hari Jumat tanggal 13 Ramadan.
Kelima, Ilmu Usul al I’tiqad yang shahih soal dan jawab bayannya. Karya ini merupakan naskah dari kitab karya Muhammad Ma’sum al-Jawi. Tersalin di Peradong 6 Rabiul Awal 1325 (1907), al-hajj Sulaiman faqir.
Keenam, Perihal Zikir (zikir agar terhindar dari Tha’un). Selesai disalin di Peradong pada tanggal 4 Dzulqa'dah 1326 (1908), Haji Batin Sulaiman dengan tulisan huruf per huruf; h, j, s, l, (m), n.
Ketujuh, Perihal Sembahyang dan Talqin Mayyit. Karya ini tidak ada keterangan tempat penyalinan dan tahunnya. Kedelapan, Terjemah Syahadat lima. Karya ini disalin pada tanggal 22 Dzulqaidah 1300 (1883) di Peradong.
Kesembilan, Hakikat Sembahyang, Rahasia, dan Ma’rifatnya. Karya ini disalin pada tanggal 3 Jumadil Awwal 1325 (1907) tanpa ada keterangan tempat. Kesepuluh, Khutbah, Catatan-catatan dan lainnya.
Sosok Haji Batin Sulaiman dapat dilihat sebagai ulama yang mampu menjembatani teks keagamaan dengan realitas sosial. Ia tidak sekadar mengajarkan, tetapi juga mengadaptasi.
Di Bangka, Islam berkembang melalui proses akulturasi, bukan konflik. Dalam proses inilah peran tokoh-tokoh lokal seperti Haji Batin Sulaiman menjadi sangat penting. Dari sini, kita bisa
melihat bahwa dakwah yang dilakukan bukan sekadar aktivitas keagamaan, tetapi juga proses sosial yang panjang dan kompleks.
Di era digital, dakwah sering kali hadir dalam bentuk yang serba cepat dan instan. Media sosial menjadi ruang utama, tetapi juga menjadi ruang yang mudah memicu konflik. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi kekayaan justru sering berubah menjadi pertentangan.
Dalam situasi seperti itu, pendekatan yang mengedepankan kesabaran, kebijaksanaan, dan kedekatan dengan masyarakat justru makin jarang terlihat. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak harus dilakukan dengan cara yang keras. Bahwa membangun pemahaman jauh lebih penting daripada memenangkan perdebatan. Bahwa dakwah yang menyentuh hati akan lebih bertahan dibandingkan dakwah yang hanya menggema di ruang-ruang debat.
Lebih jauh lagi, kisahnya juga menjadi pengingat bahwa Bangka memiliki tradisi keislaman yang kuat dan berakar. Islam di daerah ini tumbuh melalui proses panjang yang melibatkan dialog antara agama dan budaya. Proses inilah yang membuatnya tidak mudah goyah.
Sudah saatnya tokoh-tokoh lokal seperti Haji Batin Sulaiman tidak hanya dikenang, tetapi juga dihadirkan kembali dalam diskursus publik. Bukan sekadar sebagai bagian dari sejarah, tetapi sebagai sumber inspirasi dalam menghadapi tantangan zaman.
Karena di tengah dunia yang makin bising hari ini, mungkin kita justru perlu belajar dari satu hal yang sederhana: bahwa jalan yang tenang, yang dijalani dengan kesabaran dan kebijaksanaan, sering kali adalah jalan yang paling sampai. (*)