BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Masih segar diingatan Baco, nelayan Desa Gedambaan Kecamatan Pulau Laut Sigam Kabupaten Kotabaru, saat mengalami kerusakan perahu di laut ketika cuaca buruk, Selasa (22/4).
Lubang menganga di bawah as roda perahu. Pencari cumi-cumi ini pun menghadapi hujan dan tiupan angin kencang yang dibarengi gelombang besar.
Baco tak panik meski perahunya terombang-ambing karena dua mesin Dongfeng mendadak mati dan tidak bisa dihidupkan. Pengalaman membuat pria 60 tahunan ini yakin.
Peristiwa ini berawal sekitar pukul 04.30 Wita saat lelaki bernama asli Abdullah tersebut turun ke laut untuk menarik jaring di sekitar Pulau Sebuku. Berdasarkan prediksi, ia sampai di titik penangkapan sekitar pukul 07.00 Wita.
Nahas, saat perahu membelah gelombang, sekitar pukul 05.30 Wita, baling-baling tersangkut tali tugboat yang hanyut. Tali pun terpintal hingga menghantam dasar perahu hingga jebol menganga tepat di bawah as..
“Terkejut karena mesin mati mendadak. Pas dilihat ke belakang, air beriak masuk cepat memenuhi perahu,” ujarnya dalam Program Saksi Kata Banjarmasin Post, Jumat (24/4).
Merasa terancam, Baco pun melepas baju, menggulungnya lalu menyumpal lubang.
Sambil menguras air, ia melempar jaring lampara yang ada di perahu untuk mengurangi beban. Namun lubang terlampau besar dan air tetap masuk.
Baca juga: Pria Tua Tanpa Identitas, Ditemukan Meninggal di Halaman Gudang Beras di Muara Kelayan Banjarmasin
Merasa kesempatan bertahan menipis, Baco segera meraih telepon selular. Ia mengontak sejumlah anggota keluarga di rumah serta mengirimkan video kondisi perahu yang hampir setengah terisi air. “Tapi tidak ada yang merespons pesan, kecuali anak yang ada di Desa Langkang Baru,” ujarnya.
Baco pun menggulung sarung dan kembali berupaya menutup lubang. Agar rapat, sumbatan ia tahan dengan kaki. “Sempat terpikir bekal nasi yang dibawa masih aman tak basah,” ucapnya. Saat itulah ia pasrah dibawa dibawa arus sambil menunggu balasan dari keluarga.
Beberapa panggilan sempat masuk ke ponselnya termasuk dari Pos SAR Kotabaru. Namun kencangnya angin dan hujan membuatnya sulit mengoperasikan layar sentuh untuk membalas.
Dua jam lebih bertahan hingga mencapai perairan Pulau Manti, akhirnya ada perahu mendekat. Ternyata menantunya datang.
“Aku sudah bicara sama perahu, ‘kalau mau pulang ayo kita pulang, kalau tidak mau jangan mempersulit aku’,” ujar Baco yang juga terus berdoa dan berzikir.
Permohonannya dikabulkan Allah SWT. Baco dan perahunya ditarik perahu sang menantu hingga ke pelabuhan Teluk Pari Desa Gedambaan. Baco pulang dengan selamat.
Kejadian ini mengingatkannya pada pengalaman serupa lima tahun lalu saat melaut di perairan Balikpapan, Kalimantan Timur. Saat berada di buritan dalam perjalanan pulang menangkap ikan, ia terjatuh ke laut. Insiden itu lebih parah. Hampir dua jam ia terombang-ambing dan terus berupaya terapung dan berteriak minta pertolongan.
Beruntungnya, perahu yang tak sadar meninggalkanya terjatuh kembali menyisir laut dan menemukannya. Saat naik ke daratan, ia dirawat dengan dipijit karena bagian dengkul bengkak dan kelelahan.
“Juragan kami itu sempat berpikir, bisa ditangkap polisi karena dianggap lalai, sampai ada korban yang hilang saat melaut,” celetuknya. (banjarmasinpost.co.id/muhammad tabri)