Syarat Teheran untuk Washington: Hentikan Blokade Laut Jika Ingin Dialog Damai Berlanjut
Hari Susmayanti April 25, 2026 11:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN - Teheran menegaskan negaranya hanya akan melakukan perundingan dengan Amerika Serikat jika syarat yang diajukannya bisa dipenuhi oleh negara adidaya tersebut.

Menurut Teheran, proses diplomasi hanya dapat berjalan jika syarat-syarat yang mereka ajukan dipenuhi dan dihormati oleh pihak lawan.

Adapun sejauh ini, upaya perundingan kedua Iran dan AS belum bisa terlaksana setelah perundingan pertama yang digelar di Pakistan beberapa waktu yang lalu tidak membuahkan hasil.

Sementara itu pada Jumat (24/4/2026) malam, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi sendiri dilaporkan telah mendarat di Islamabad.

Kedatangan Araghchi ke Pakistan ini merupakan bagian dari upaya Teheran untuk memperkuat koordinasi dengan negara-negara tetangga. 

"Teheran sedang berkoordinasi dengan tetangga-tetangganya dan (Menlu) akan melanjutkan perjalanan ke ibu kota lain seperti Moskwa dan Oman," bunyi pernyataan resmi dari Teheran dikutip dari Kompas.com.

Sementara itu dikutip dari Al Jazeera, kedatangan Araghchi ini menyiratkan pesan bahwa Iran selalu membuka pintu diplomasi untuk menyelesaikan konflik.

Namun, keberlanjutan negosiasi dengan Washington maupun Islamabad bergantung pada terpenuhinya sejumlah prasyarat ketat. 

Baca juga: Dugaan Kekerasan Pengasuh Daycare di Jogja: Wali Murid Sebut Anak Ketakutan Tiap Mau Berangkat

Salah satu tuntutan utama yang ditekankan oleh pejabat Iran dalam beberapa hari terakhir adalah pengakhiran blokade laut oleh AS Teheran menegaskan tidak akan melakukan negosiasi selama blokade angkatan laut oleh AS masih berlangsung.

Iran juga secara eksplisit menyatakan bahwa mereka tidak akan berunding di bawah ancaman maupun tekanan dari pihak AS.

Pasalnya, Iran menganggap blokade laut yang terjadi saat ini sebagai bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Sebelumnya, AS disebut mengirim utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran. 

Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam jumpa pers pada Jumat (24/4/2026).  

Kepastian pemberangkatan dua utusan AS tersebut membawa angin segar direalisasikannya perundingan damai putaran kedua.

Menurut Leavitt, kedua utusan tersebut dijadwalkan berangkat pada Sabtu (25/4/2026) pagi waktu AS untuk melanjutkan proses negosiasi, sebagaimana dilansir BBC.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance yang digadang kembali menjadi pempimpin delegasi dipastikan tidak akan ikut dalam rombongan awal ke Pakistan.  

Leavitt menjelaskan, Vance akan tetap berada di AS bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan pejabat lainnya.

Namun, dia menegaskan bahwa Vance tetap memantau situasi secara intensif dan siap diberangkatkan sewaktu-waktu jika diperlukan.

"Wakil Presiden tetap terlibat secara mendalam dalam seluruh proses ini, dan dia akan bersiap di sini," ujar Leavitt.

 "Semua orang dalam posisi siaga untuk terbang ke Pakistan jika diperlukan," lanjutnya.

Leavitt menambahkan bahwa pemerintah bersedia mengirim Vance ke Pakistan jika kehadirannya dinilai memberikan dampak positif bagi jalannya perundingan. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.