TRIBUNBANYUMAS.COM, PATI – Pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit dibuktikan nyata oleh Siti Nafiah (58), seorang penjual tempe asal Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati.
Setelah dua dekade telaten menyisihkan recehan sisa keuntungan dagangannya, ia kini siap berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Siti bersama suaminya, Winoto (65), dijadwalkan terbang menuju Arab Saudi pada 7 Mei 2026 mendatang melalui Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Keberangkatan ini menjadi puncak penantian panjang sejak ia pertama kali mendaftar pada tahun 2012 silam.
“Senang sekali bisa berangkat ibadah haji dari jualan tempe. Berangkat insyaallah tanggal 7 Mei,” tutur Siti dengan raut wajah syukur, Jumat (24/4/2026).
Tabungan Rp10 Ribu dan Disiplin 20 Tahun
Perjuangan Siti bukanlah perjalanan instan. Bermodal awal Rp500 ribu sekitar 20 tahun lalu, ia mulai mengolah kedelai secara mandiri. Setiap hari, Siti mengolah delapan kilogram kedelai menjadi tempe untuk kemudian dititipkan ke warung-warung di sekitar rumahnya.
Baca juga: Kritik Rencana Museum Cagar Budaya Pati, Ahmadi: Peradaban Kita Lebih Tua dari Mataram Islam
Dari omzet harian yang hanya berkisar Rp150 ribu, Siti secara disiplin menyisihkan uang sebesar Rp10 ribu per hari untuk ditabung khusus biaya haji. Meski jumlahnya kecil, keteguhan hatinya tidak goyah walau sering kali kebutuhan mendesak mengadang langkahnya.
"Nabung seminggu paling Rp100 ribu. Sehari kadang Rp10 ribu kalau nggak ada kebutuhan. Kalau ada kebutuhan, kan, nggak bisa (nabung)," ungkap wanita yang juga mengabdi sebagai guru Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) ini.
Luluskan Tiga Anak ke Perguruan Tinggi
Luar biasanya, usaha tempe Siti tidak hanya mengantarkannya ke depan pintu Kakbah. Dari bakul tempenya itu pula, Siti berhasil membiayai pendidikan ketiga anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Ia bercerita dengan bangga bahwa anak keduanya kini telah bekerja di sebuah rumah sakit setelah lulus kuliah di Semarang, sementara anak bungsunya saat ini masih menempuh studi di Kudus.
"Yang terakhir putri, kuliah di Kudus. Yang kedua kuliah di Semarang dan kini sudah kerja di rumah sakit," tambahnya.
Setelah melewati masa tunggu selama 14 tahun sejak pendaftaran, Siti Nafiah kini tinggal menghitung hari untuk mewujudkan impian spiritualnya. Kisah Siti menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang besar jika dibarengi dengan niat tulus dan kedisiplinan dalam berusaha. (mzk)
Baca juga: Misi Bangkit di Tangan Kas Hartadi, Kapten PSIS Otavio Dutra: Menang Lawan Tornado FC Harga Mati!