4 Negara Muslim Bahas Aliansi Pertahanan Regional, Bersiap Hadapi Ambisi Ekspansi Israel
Rita Noor Shobah April 25, 2026 04:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Pakistan, Mesir, Turkiye, dan Arab Saudi tengah menjajaki kemungkinan pembentukan aliansi pertahanan regional.

Wacana ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya pasca-serangan udara Israel ke Doha, Qatar, pada September 2025.

Analisis dari The New Arab menyebut, aliansi tersebut berpotensi menyerupai NATO (North Atlantic Treaty Organization), yaitu organisasi pertahanan kolektif negara-negara Eropa dan Amerika Utara.

Baca juga: Utusan Donald Trump Menuju Pakistan, Sinyal Lanjutkan Perundingan AS-Iran?

Langkah empat negara mayoritas Muslim ini muncul sebagai respons atas meningkatnya agresi militer Israel dan kekhawatiran terhadap ambisi ekspansionis "Israel Raya" di Timur Tengah. 

Keseriusan langkah ini ditunjukkan melalui latihan militer gabungan pasukan khusus Mesir dan Pakistan yang sedang berlangsung intensif. 

Meski latihan serupa pernah dilakukan, para analis menilai koordinasi kali ini jauh lebih intensif pasca-serangan udara Israel ke Doha, Qatar, pada September 2025.  

Peristiwa tersebut dipandang sebagai titik balik yang menghancurkan kepercayaan negara-negara kawasan terhadap penjamin keamanan dari luar, seperti Amerika Serikat (AS).

Analis politik independen Mesir, Islam Mansi, menilai serangan Israel ke Qatar menjadi titik balik yang membuat negara-negara kawasan menyadari perlunya strategi keamanan baru.

“Segera setelah serangan itu, negara-negara Arab menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel,” ujarnya.

Menurutnya, serangan terhadap Qatar memaksa negara-negara di regional itu menghitung ulang strategi keamanan mereka. 

Baca juga: China Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Iran, yang Melanggar Tidak akan Dibantu

Ketegangan semakin meningkat setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada Februari 2026. 

Konflik tersebut tidak hanya mengancam keamanan fisik, tetapi juga memukul ekonomi kawasan, terutama negara Teluk yang mengalami kerugian besar akibat terganggunya rantai pasokan dan melonjaknya harga minyak global.

Bobot Strategis 

Analis politik Saudi, Omar Saif, menyebut, apabila teralisasi, "NATO negara mayoritas muslim" memiliki bobot strategis yang signifikan untuk meredam ambisi Israel.

"Aliansi ini dapat mengerem ambisi regional Israel," cetusnya.  

Baca juga: Mojtaba Khamenei Disebut Akan Segera Dioperasi, Delegasikan Keputusan ke Garda Revolusi Iran

Secara kolektif, keempat negara tersebut memiliki kekuatan ekonomi dan demografi yang masif, dengan gabungan populasi mencapai 500 juta jiwa dan total PDB sebesar 3,87 triliun dollar AS.

Upaya penyelarasan ini juga terlihat dalam pertemuan para menteri luar negeri di Antalya Diplomacy Forum, Turkiye, pada 17 April 2026.

Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengonfirmasi bahwa keempat negara tersebut tengah merancang pengaturan keamanan regional pasca-perang.

Meski demikian, pembentukan blok ini menghadapi tantangan besar, termasuk sejarah keretakan diplomatik antara Ankara, Riyadh, dan Kairo yang baru pulih dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, ketergantungan militer Mesir dan Arab Saudi pada AS menjadi variabel kunci.

Di sisi lain, analis Turkiye Firas Ridvan Oglu berpendapat bahwa Washington kemungkinan akan menoleransi koalisi ini jika mampu mencegah perang regional yang lebih besar.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.