TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR – Cuaca panas terik yang belakangan dirasakan masyarakat di Solo Raya ternyata bukan tanpa sebab.
Kondisi ini dipengaruhi sejumlah faktor alam, mulai dari fenomena global hingga peralihan musim yang sedang terjadi di Indonesia.
Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, suhu panas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan.
Baca juga: Daftar Kereta Api Tarif Khusus Go Show dari Solo, Harga Tiket Mulai Rp70 Ribu
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah potensi fenomena El Nino yang dapat memicu perubahan pola cuaca. BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal dibandingkan biasanya.
Kondisi ini mulai terasa di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Karanganyar.
Meski demikian, pemerintah daerah meminta masyarakat, khususnya petani, untuk tidak panik karena prediksi cuaca masih bisa berubah.
Plt Kepala Dinas Pertanian Karanganyar, Feriana Dwi Kurniawati, menegaskan bahwa dinamika iklim masih sangat fluktuatif.
“Prediksi bisa berubah, tergantung kondisi iklim dan cuaca,” ujarnya.
Selain El Nino, faktor utama lain adalah fenomena gerak semu matahari.
Pada periode Maret hingga April, posisi matahari berada di sekitar garis ekuator, bahkan tepat di atas wilayah Indonesia.
Akibatnya, sinar matahari jatuh hampir tegak lurus ke permukaan bumi, sehingga intensitas panas yang diterima menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.
Cuaca panas juga diperparah oleh kondisi langit yang cenderung cerah dengan sedikit tutupan awan.
Tanpa awan sebagai penghalang, radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi.
Baca juga: Kuasa Hukum Jokowi Bantah dr. Tifa Soal RJ Jadi Strategi Tekan Tersangka Lain,Pastikan Lanjut Sidang
Di sisi lain, Indonesia saat ini sedang memasuki masa pancaroba menuju musim kemarau. Pada fase ini, curah hujan mulai berkurang dan udara menjadi lebih kering, sehingga suhu terasa lebih menyengat terutama pada siang hari.
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah angin muson Australia.
Angin timuran ini membawa massa udara kering dan hangat ke wilayah Indonesia, termasuk Solo Raya.
Tak hanya itu, fenomena pemanasan global juga memperparah kondisi.
Kenaikan suhu rata-rata bumi membuat cuaca panas terasa lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Perubahan cuaca ini menjadi perhatian serius, terutama bagi sektor pertanian di Karanganyar.
Petani diminta mulai beradaptasi dengan kondisi yang ada, seperti menerapkan pola hemat air dan memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan.
Beberapa jenis benih yang disarankan antara lain padi berumur genjah seperti M70D dan Cakrabuana yang dinilai lebih adaptif terhadap perubahan cuaca.
Selain itu, petani juga diimbau lebih disiplin dalam mengatur jadwal tanam agar produktivitas tetap terjaga meski menghadapi musim yang tidak menentu.
Baca juga: Jadwal KRL Solo-Jogja Akhir Pekan Minggu 26 April 2026 : Lengkap Jam Pagi hingga Paling Malam
BMKG memperkirakan cuaca panas ini masih akan berlangsung seiring mendekatnya musim kemarau.
Masyarakat pun diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan, seperti dehidrasi dan kelelahan akibat panas.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
(*)