TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Kenaikan harga bahan bangunan yang dipicu gejolak konflik di Timur Tengah mulai terasa di sektor properti Jawa Tengah.
Para pengembang kini berada di persimpangan mempertahankan harga lama dengan margin menipis, atau menaikkan harga dengan risiko penjualan melambat.
Kondisi ini mengemuka dalam gelaran REI Expo 1/2026 yang digelar DPD REI Jawa Tengah di DP Mall Semarang, 24 April hingga 3 Mei 2026.
Ketua DPD REI Jawa Tengah, Hermawan Mardianto, mengakui lonjakan harga materialbterutama besibsudah berada di kisaran 10 hingga 12 persen.
Baca juga: Pemkab Kudus Berupaya Tambah Koleksi Buku Perpustakaan Daerah
Baca juga: Porprov Jawa Tengah XVII Tahun 2026, Cetak Atlet PON di Tengah Efisiensi Anggaran
Namun, dampaknya tidak berhenti di satu komoditas saja.
“Bukan cuma besi, hampir semua bahan bangunan naik. Ini sangat mengganggu kami dalam penyediaan perumahan,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan biaya produksi memukul dua segmen utama propertirumah subsidi dan komersial.
Namun respons keduanya berbeda.
Untuk rumah subsidi FLPP, harga masih dikunci pemerintah di angka Rp166 juta, sehingga ruang gerak pengembang menjadi terbatas. Banyak di antaranya memilih bersikap hati-hati.
“Rumah subsidi masih wait and see karena harga sudah ditetapkan. Jadi tekanan biaya itu langsung terasa ke pengembang,” jelasnya.
Sementara di segmen komersial, penyesuaian harga menjadi opsi yang tak terhindarkan.
Meski begitu, langkah ini tidak diambil secara seragam.
“Kalau pengembang masih kuat, mereka tahan harga demi menjaga penjualan, meskipun profit berkurang. Tapi kalau kenaikan materialnya tinggi, ya harga pasti naik,” katanya.
Hermawan menyebut, rentang harga rumah komersial yang paling banyak diminati saat ini berada di kisaran Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar.
Di titik ini, strategi penentuan harga menjadi krusial.
“Semakin tinggi harga, peluang dapat konsumen makin kecil. Jadi pengembang harus pintar mengatur harga supaya tetap laku,” tambahnya.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPD REI Jateng Bidang Promosi dan Publikasi, Juraemi, menilai kondisi ini justru membuat pameran properti semakin relevan.
Di tengah ketidakpastian harga, masyarakat membutuhkan kepastian informasi sebelum membeli.
“Brand image sekarang bergeser. Orang tetap lihat online, tapi datang ke pameran untuk memastikan. Mereka butuh penjelasan detail sebelum ambil keputusan,” ujarnya.
Pameran REI Expo kali ini diikuti 16 peserta, terdiri dari 14 pengembang perumahan, satu perbankan, dan satu penyedia material bangunan.
Mayoritas bermain di segmen komersial, dengan satu pengembang fokus pada rumah subsidi.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah BTN Jawa Tengah dan DIY, Fitri Novianty Ratna Kusuma, menyampaikan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) di wilayahnya menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten.
Sepanjang 2025, jumlah pembiayaan yang disalurkan mencapai lebih dari 11.000 unit rumah dengan nilai sekitar Rp1,9 triliun, atau tumbuh 15,7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Memasuki 2026, hingga pertengahan April realisasi KPR telah menyentuh lebih dari 2.000 debitur dengan total kredit sekitar Rp338 miliar.
“Ini menunjukkan kebutuhan hunian masih menjadi prioritas masyarakat. BTN tidak hanya hadir sebagai penyalur kredit, tapi juga berperan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan dasar, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah,” ujarnya.
Fitri menambahkan, sektor perumahan memiliki efek berantai yang luas terhadap perekonomian, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga mendorong aktivitas pelaku UMKM di kawasan hunian.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Semarang, Murni Ediati.
Menurutnya, sektor properti bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
“Banyak sektor ikut bergerak, dari tenaga kerja sampai UMKM,” katanya.
Ia menyebut, kebutuhan rumah di Kota Semarang masih cukup tinggi, dengan backlog diperkirakan mencapai sekitar 170.000 unit.
Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengembang dan perbankan.
REI Expo 1/2026 sendiri digelar di Atrium Ground Floor DP Mall Semarang hingga 3 Mei mendatang, menghadirkan berbagai pilihan hunian dari segmen subsidi hingga komersial.
Pameran ini diharapkan mampu mendorong transaksi sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat di tengah tren kenaikan harga properti. (Rad)