Kisah Tsurayya, Remaja 15 Tahun Jadi Jemaah Haji Termuda Ponorogo, Didaftarkan Sejak Usia 2 Tahun
Samsul Arifin April 25, 2026 06:14 PM

Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Pramita Kusumaningrum 

TRIBUNJATIM.COM, PONOROGO - Seorang remaja asal Ponorogo, Tsurayya Ufairotummarwa, tak menyangka bisa menunaikan ibadah haji di usia 15 tahun. 

Kesempatan menunaikan ibadah haji biasanya datang setelah usia menginjak telah senja. 

Namun, hal itu justru hadir sebagai kejutan bagi Tsurayya Ufairotummarwa. 

Remaja asal Desa Bajang, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jatim itu tak pernah menyangka dirinya akan berangkat ke tanah suci di usia 15 tahun, setelah diam-diam didaftarkan orang tuanya sejak 2012 silam atau saat dirinya berusia 2 tahun.

Baca juga: Ratusan Jemaah Haji Ponorogo Mulai Kumpulkan Koper, Yang Beratnya Lebih dari 32 Kilo Bakal Dibongkar

Berangkat Bersama Tiga Kakak

Tak ada firasat, apalagi rencana dalam benaknya sejak kecil. Tsurayya bahkan baru mengetahui dirinya telah didaftarkan haji oleh orang tuanya pada 2012 silam, saat menerima kabar keberangkatan tahun lalu. Sejak itu, rasa tak percaya perlahan berubah menjadi haru dan bahagia.

Siswi kelas X Pondok Pesantren (PP) Al-Islam Joresan, Ponorogo ini tak sendiri. Dia bakal berangkat bersama ketiga kakaknya yang usianya pun masih dibawah 20 tahun.

Baca juga: Jamaah Haji Ponorogo Pasang Penanda Unik di Koper dari Rajutan hingga Bola Tenis

Tiga saudaranya yang lain adalah Alifah Dzakiyatunauwah (19), Banif Hanifinasywa (18) dan Tabina Nabahatul Wasyfa (17).

Keempatnya akan berangkat dengan kloter 19 embarkasi Juanda Surabaya. “Bareng tiga kakak, tidak ada yang dikasih tahu kalau sudah didaftarkan haji oleh orang tua, tahunya baru tahun lalu saat mendapat undangan berangkat,” kisahnya,

Tsurayya menjelaskan meski berangkat di usia muda, namun rangkaian persiapan berhaji tetap dilaluinya. Mulai memgikut manasik dam lain sebagainya.

Persiapan Fisik dan Spiritual

Anak bungsu pasangan Munif Arfawie dan Elfi Mua’awanah tak lantas mengabaikan persiapan. Ia mulai menghafal doa-doa, mempelajari rangkaian ibadah haji, hingga menjaga kondisi fisik dengan rutin berolahraga. 

Pagi hari, jogging menjadi kebiasaan barunya—dijalani bersama saudara-saudara yang akan menemaninya ke tanah suci.

M. Didukung sekolah, izin juga diberikan tak mengikuti pembelajaran sepanjang ibadah mendatang. 

“Teman-teman sekolah juga kaget, senang juga tahu kalau saya berangkat. Ya baru kali ini sih ada yang haji untuk siswa,” tutur.

Elfi Mua’awanah, ibu dari Tsurayya Ufairotummarwa menjelaskan bahwa 2012 lalu dirinya ingin daftar haji kembali. Namun, suaminya belum berkenan.

“Karena haji wajibnya satu  kali, akhirnya kami putuskan dialihkan ke anak-anak biar kuat agama lahir batin serta fisiknya sebagai bekal hidup dunia akherat,” tegasnya.

Pun, dia mendapatkan masukan dari salah satu kiai yang menyarankan untuk urusi akherat dulu dari pada dunia. “Sehingga mendaftarkan haji adalah salah satu urusan akherat. Sehingga didahukukan untuk membekali anak-anak,” pungkasnya.

Diketahui Kantor Kementerian Haji dan Umrah Ponorogo mencatat jemaah haji tertua Ponorogo berusia 91 tahun. Berasal dari Desa Prajegan, Sukorejo. 

Jemaah haji tertua itu adalah Siti Robiah. Siti Robiah mendadftar 2020 silam. Pun, petugas mencatat sebanyak 20 persen Jemaah Haji Ponorogo berusia di atas 60 tahun.

Sesuai jadwal, sebanyak 565 Jemaah Haji termasuk petugas akan diberangkatkan melalui dua kloter, yakni kloter 19 dan 20 Embarkasi Surabaya, pada Minggu (26/4/2026) mendatang.

Dia menjelaskan bahwa jemaah haji Ponorogo berangkat pada gelombang 1 embarkasi Juanda Surabaya. Ratusaan jemaah haji terbagi dalam kloter 19 dan 20.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.